Kukejar Cinta Dengan Sepeda
Busyet! Sudah tiga hari ini anak baru, pindahan dari SMA 0707 Jakarta itu mengganggu konsentrasiku. Pak Sarjono yang dari tadi susah payah menerangkan perbedaan antara ?simple past' dan ?present perfect' tidak lagi kuperhatikan. Pikiranku tidak bisa lepas dari sosok makhluk manis yang duduk tepat di pojok kanan depan itu. Namanya Retno, Retno Pandanwangi. Tubuh ramping semampai dengan kulit putih mulus dibungkus dengan seragam putih abu-abu. Rambut tersisir rapi, lurus menjuntai sampai ke punggung mengingatkanku pada Titi Kamal dalam sebuah iklan shampoo. Sepasang mata bening nan teduh aman terlindungi kacamata minus yang dengan manisnya nangkring di atas hidung mungil yang bikin gemes. Apalagi barisan rapi gigi putih yang sesekali terlihat di balik bibir tipisnya saat ia tersenyum. Sempurna?., kata Andra and the backbone. Ah, andaikan saja?.
?Wiku, what do you think with Firman's answer??. Tiba-tiba Pak Sarjono menyebut namaku. Sontak aku kaget bukan kepalang, memangnya Si Firman ngejawab apa? Dari pada pusing-pusing, aku langsung aja teriak kenceng-kenceng.
?I agree with him, Sir?
?Good, so what's your reasons?? Pak Sarjono belum puas dengan jawabanku. Terang aja aku kelimpungan dengan pertanyaan itu. Untunglah beliau itu guru yang sangat bijaksana, setidaknya menurutku. Beliau tidak marah, hanya menasehatiku agar tidak melamun di kelas. Alasannya lucu, agar harga BBM tidak naik lagi. Dasar Joko Sembung naik VW?
***
Kulihat Retno sedang asyik menikmati bakso di kantin. Kesempatan ini tidak kubuang sia-sia. Kuambil tempat duduk tepat di hadapan doski. ?Suka bakso juga ya??, sapaku sok akrab. Dia memandangku., mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak bisa bicara karena baru saja memasukkan sebutir penthol besar ke dalam mulutnya.
?Bagaimana dengan bak-bak yang lain??, lanjutku, ?Semisal bak wan, bak mi, bak pao, atau bak truk??. Retno mendelik mendengar pertanyaanku.
?Sableng, elo aja yang makan bak truk!?, semprotnya galak. Tapi dasar sok cuek, dia tetep aja sibuk dengan baksonya. Penthol yang tinggal satu di mangkoknya bergerak lincah kesana-kemari seakan menghindari kejaran garpu di tangannya. Gadis itu sampek ngos-ngosan karena gemes nggak bisa menangkapnya.
?Gimana nih rasanya hidup seminggu di Malang? Kerasan nggak??, aku kembali memancingnya untuk bicara.
?Kerasan sih, cuma kalo malem udara Malang tuh dinginnya minta ampun, laen dengan di Jakarta ?, jelasnya.
?Lho, memang di Jakarta dinginnya minta apa??, tanyaku konyol.
?Au' ah, minta Krisdayanti kalee?, jawabnya ikut-ikutan konyol. Aku sampai terpingkal-pingkal dibuatnya.
***
Singkat cerita, semakin hari aku semakin deket dengan Retno. Tiap pulang sekolah kami selalu jalan bareng. Sampai-sampai, Joni, si Harry Potter mania, terheran-heran dengan keberhasilanku mendekati bunga sekolah itu. Dia bertanya mantra dan jampi-jampi apa yang aku gunakan untuk menaklukkan Retno, soalnya sudah hampir satu bulan dia bakar kemenyan plus mandi kembang tengah malam segala, tapi gadis cantik itu tetep aja nggak mau meliriknya.
Lain lagi dengan cerita Si Jupri. Anak paling culun di sekolahku itu samapek rela masuk rumah sakit hanya untuk mendapatkan perhatian Retno. Ceritanya begini, suatu hari, Jupri naik ke atas sebatang pohon akasia di dekat sekolah. Dia tahu Retno akan lewat di bawah pohon itu. Rencananya pada saat Retno lewat itulah ia akan menjatuhkan dirinya dari atas pohon dengan harapan Retno akan menolongnya. Tapi dasar nasib sedang sial, saat ia menjatuhkan diri, si Retno bukannya malah menolongnya melainkan lari tunggang langgang, karena mengira ada monyet nyasar yang mau menyerangnya. Jupri yang terluka pun ditinggal sendirian. Tragis sekaligus mengenaskan.
Tidak hanya itu saja. Masih banyak cowok-cowok lain yang ingin memperebutkan Retno. Aku sendiri heran kenapa Retno lebih memilih dekat denganku daripada yang lain. Aku sendiri nggak berani bertanya langsung kepadanya. Takut dikira Ge-eR, padahal memang iya.
Siang ini matahari sangat terik. Panas. Aku dan Retno, masih dengan seragam sekolah, asyik menikmati es degan di bawah naungan trembesi raksasa di uung jalan Pahlawan Trip. Pada saat seperti ini aku baru tahu kalo es the gun itu bener-bener mak nyess rasane. Sueger tenan, Rek!
Tiba-tiba HP Retno berbunyi. Segera ia menjauh dan terlibat pembicaraan yang kayaknya serius banget. Tapi itu hanya sebentar. Sejurus kemudian ia mendekatiku dan berkata, ?Wiku, aku harus ke rumah sakit. Ayahku sedang dirawat di sana. Kamu nggak usah nganter, aku bisa jalan sendiri. Thanks atas es degannya, laen kali kita kesini lagi?. Aku sudah tidak sempat bilang apa-apa. Retno segera berlari mencegat taksi. Tapi aku tidak bisa berdiam diri. Aku nggak bisa melanjutkan menikmati es degan sementara orang yang aku sayangi bingung tiga perempat mati (jebih dari setengah mati kan ?) sedang ditimpa kesusahan. Padahal dalam cinta (ciee?) orang yang saling menyayangi harus selalu bersama dalam suka maupun duka, iya tho? Maka akupun mencegat taksi juga. Karena tidak tahu di rumah sakit mana ayah Retno dirawat, aku meminta pak sopir untuk mengikuti kemana saja taksi yang membawa Retno melaju.
Sekitar tiga puluh menit kami menyusuri jalanan kota Malang, tapi taksi yang membawa Retno tak kunjung berhenti. Lavalette mapun Saiful Anwar sudah jauh tertinggal di belakang. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan ayah Retno dirawat di RSJ Lawang. Itu mungkin alasan Retno tidak mengijinkan aku mengantarnya. Kalo memang demikian berarti Retno belum sepenuhnya mengerti bahwa cintaku padanya bener-bener tulus, tidak bisa dipengaruhi oleh apa pun, termasuk kondisi keluarganya. Ceilee?!
Tapi ternyata dugaanku salah. Taksi yang membawanya terus saja melaju ketika melewati Rumah Sakit Jiwa terkenal itu. taksi itu baru berhenti di sebuah hotel. Hah! Hotel?? Kali ini aku mulai berfikir yang engga-enggak. Sengaja aku tidak keluar dari taksi agar Retno tidak mengetahui kehadiranku. Kuliat dia melangkah keluar dari taksinya. Di serambi hotel berdiri seorang pria gendut paruh baya yang rupanya sejak tadi menunggu kedatangan Retno. Retno pun tersenyum melihatnya, bahkan dia akhirnya bergelayut mesra di pundak laki-laki itu ketika memasuki hotel. Aku seperti disambar petir. Berbagai macam perasaan seakan mendidihkan otakku. Marah, benci, kecewa, muak, semuanya campur baur jadi satu. Siapa sangka gadis seimut Retno ternyata gadis panggilan. Gayanya yang lembut dan bikin gemes selama ini ternyata hanya sebuah kedok untuk menutupi kebusukan dirinya. Apa yang sebenarnya dia cari? Uang-kah? Ah, pesetan! Apapun alasannya menjadi pelacur tetap aja memalukan bahkan menjijikkan. Cuiihh!
***
Sejak kejadian hari itu, aku langsung jaga jarak dengan Retno. Wajah gadis itu sudah tidak lagi ngangeni, malah sekarang berubah menjadi sangat memuakkan. Mulanya ia heran merasa aku cuekkin. Tapi akhirnya ia tahu juga bahwa aku telah membuntutinya ke hotel di luar kota itu. Hebatnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda penyesalan di wajahnya. Dasar Walang! (wanita jalang).
Anak-anak di sekolah pun mulai heran dengan gelagatku yang terus menghindar dari Retno. Tapi aku jamin mereka tidak tahu menahu soal kejadian di hotel itu. Meski benci setenagh mati, aku tidak akan membeberkan rahasia Retno pada orang lain. Kasihan.
?Wik, ada apa? Kelihatannya suntuk banget??, tiba-tiba Hidayat sudah duduk di sampingku. ?Lagi putus cinta ya??, lanjutnya. Sejenak kupandangi aktivis Rohis itu. Ia tersenyum menanti jawaban. Wajahnya begitu teduh.
?Aku kecewa, Yat. Sangat kecewa?, jawabku singkat. Entah untuk berapa saat kami kemudian terdiam, sama-sama memandang kosong pada daun-daun akasia yang tertiup semilir angin. Beberapa yang sudah menguning jatuh berguguran membentuk serakan tak beraturan di atas tanah.
?Kita semua pernah kecewa?. Akhirnya Hidayat kembali bersuara. ?Memang begitulah kehidupan, tidak selamanya kita senang terus, iya kan??.
Aku hanya mengangguk kecil. Aku tahu ujung-ujungnya ia akan mengatakan kalo aku harus kembali kepada Allah. Dialah satu-satunya tempat bersandar, begitu ia sering katakan. Aku pun juga tahu bahwa niatnya mendekati aku seperti kali ini hanya lah supaya aku ikut ngaji di Rohis. Tapi aku tidak akan terpengaruh. Tidak! Aku memang menyadari kalo aku tuh jauh banget dari Allah. Sholat aja banyak bolongnya, apalagi baca Al-Qur'an. Ngepil aja aku pernah, walau hanya jarang-jarang. Dan aku pun sepenuhnya sadar kalo itu semua akan dimintai pertanggungjawaban. Aku sebenarnya ingin tobat, tapi itu nanti kalo sudah tua, not now ! Masa muda kan hanya sekali, kapan lagi bisa seneng-seneng? Lagian apa enaknya jadi anak Rohis? Semua serba terkungkung. Apa-apa haram, ini haram, itu haram, wah bete banget dah!
Lihat aja si Anisa, yang sebelum ikut ngaji di Rohis sukanya jawil-jawilan sama Ripa'i, sekarang kalo ngomong sama cowok aja mukanya ditekuk. Persis seorang terdakwa di pengadilan yang sedang diancam hukuman mati. Yang lebih parah ikhwan-ikhwannya (begitu mereka mengistilahkan temen cowok), seakan-akan diwajibkan pelihara jenggot. Habis, nggak ada ikhwan Rohis yang nggak berjenggot. Sampek temen-temen menjuluki mereka sebagai PJM (Persatuan Jenggot Melambai). Maka nggak heran kalo kemudian si Jupri bilang bahwa syarat menjadi anggota Rohis adalah harus punya jenggot minimal lima puluh helai. Awalnya, aku sih percaya aja. Tapi akhirnya terbukti itu hanya bualan si Jupri yang lagi kumat penyakit isengnya. Buktinya si Minto, anggota baru Rohis, jenggotnya nggak lebat-lebat amat, hanya ada lima helai. Ketika aku memberanikan diri bertanya kenapa jenggot lima helai saja usah dipanjangin, dia menjawab itu sunnah Rosul, bukan masalah pantes atau nggak pantes. Tuh kan ? Begitulah anak Rohis, apa-apa musti diukur dengan Qur'an dan Sunnah. padahal sekarang kan bukan jaman unta lagi. Heran deh!
***
Sabtu malam. Aku duduk santai di beranda rumah. Sendirian aku memandangi langit yang begitu cerah, juga bulan purnama yang bersinar terang, ditemani ratusan bintang gemintang yang begitu membingungkan. Lho? Iya, soalnya dari tadi aku mencoba menghitungnya, eh nggak pernah berhasil.
Di atas meja tergeletak sebuah bulletin bernama KIASS. Hidayat memberikannya padaku tadi siang. Judul artikel pertamanya bikin orang penasaran: ?Adakah Pacaran dalam Islam??. Tapi aku sudah tahu jawabannya: pasti tidak ada. Hidayat sering bilang begitu. Mending baca tabloid ?Bola?, waduh David Beckham cedera, sial banget ya dia, wah nggak bisa ikut World Cup tuh dia. Tiba-tiba telpon berdering. Sejurus kemudian?
?Wiku, dari Nak Retno?, panggil ibuku. Ngapain juga Walang itu mencari aku?
?Hallo??
?Hallo, Wiku ya??, suara Retno. Agak ragu-ragu dan terkesan sedikit takut. ?Aku hanya ingin minta maaf telah membuat kamu kecewa, walau aku tahu ini sudah sangat terlambat?, lanjutnya. Aku menarik nafas panjang, menahannya sebentar untuk kemudian kulepaskan pelan-pelan, biar kelihatan seperti di sinetron gitu, he he?
?Sudahlah Retno, aku sedang berusaha melupakan semuanya. Tidak perlu minta maaf karena memang tidak ada yang salah. Aku memang kecewa, tapi aku hanya kecewa pada diri sendiri, yang begitu mudah tertipu oleh penampilan luar seseorang?. Aku diam sejenak untuk memberi kesempatan Retno mencerna apa yang baru saja aku sampaikan. Tiba-tiba terdengar isak tangis. Begitu lirih, hampir tidak terdengar. Beberapa saat kemudian Retno menutup telponnya setelah terlebih dulu mengucapkan selamat malam. Suasana kembali sepi.
Di beranda, kembali aku terdiam sendirian. Malam ini aku ingin merenungkan apa yang telah terjadi dalam hari-hari terakhir. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Kalo dipikir-pikir, aku pun sebenarnya ragu apakah aku ini lebih baik dari pada Retno. Toh aku sendiri tukang berbuat maksiat. Entah sudah berapa ratus sholat wajib yang aku tinggalkan. Padahal kata Hidayat, sholat itu adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan sholat, berarti telah menegakkan agama. Dan barangsiapa meninggalkannya berarti telah merobohkan agama. Juga entah berapa puluh ekstasi yang sudah bersarang diperutku. Belum lagi jemuran tetangga yang dulu pernah aku curi hanya karena iseng. Ah?
***
Esoknya kulihat pemandangan aneh di sekolah. Retno berbincang serius dengan Anisah di serambi mushola. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mata Retno tampak berkaca-kaca. Diam-diam aku bertanya-tanya kenapa dua gadis yang bagai air dan minyak itu tiba-tiba akrab. Bagaimana bisa gadis se-sableng Retno tiba-tiba curhat dengan manusia ?es? itu? Ketemu berapa perkara?
?Yat, Retno mau dijilbabin juga ya sama Anisah??, tanyaku pada Hidayat yang kebetulan lewat. Dia temannya Anisah di Rohis.
?Memangnya nggak boleh??, dia malah balik bertanya.
?Emang Retnonya mau??, kejarku. Hidayat diam menatapku tajam.
?Kalo iya kenapa??. Aku tersentak. Yang bener aja pikirku. Mungkin bagi Hidayat dan Anisah ini tidak terlalu mengejutkan. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya Retno. Dia itu gadis panggilan! Setidaknya seminggu yang lalu.
?Mulai besok Retno akan berjilbab?, bisik Hidayat, ?Kapan kamu menyusul??
?Menyusul pake jilab? Sakit jiwa lo yee??, jawabku sinis.
?Menyusul tobat, maksudnya?. Berbinar mata Hidayat menatapku.
Bel tanda waktu istirahat sudah habis tiba-tiba berbunyi. Anak-anak dengan malas-malasan masuk kembali ke kelas. Aku tidak berbicara apa-apa lagi pada Hidayat.
***
Retno, gadis yan benar-benar misterius. Awal kepindahannya dari SMA 0707 Jakarta membuat heboh anak-anak. Persaingan pun digelar secara terbuka untuk mendapatkan cintanya. Dan pria beruntung yang berhasil memenangkan persaingan sengit itu adalah aku. Namun betapa kagetnya aku ketika tahu bahwa dia adalah wanita penghibur para Om hidung belang. Tapi belum sempat aku tahu alasan dia maelakukan itu semua, tiba-tiba ada kabar bahwa bahwa dia akan segera pake jilbab. Aku sungguh penasaran. Itu lah kenapa saat ini aku berada di sini, di serambi rumah Retno. Aku ingin tahu tentang semuanya. Gadis itu sudah sejak beberapa saat yang lalu duduk di sampingku. Kelihatan begitu anggun dengan pakaian serba abu-abu yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
?Awalnya sih hanya iseng ikutan teman. Tapi akhirnya jadi keterusan?, dia mulai menjelaskan. ?Orang tuaku nggak tau apa-apa. Seperti yang kamu tau, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ketika ayahku pindah tugas ke Malang , sebenarnya aku ingin menyudahi perbuatan laknat itu. Tapi salah satu pelangganku, orang yang kamu lihat di hotel itu, ternyata juga punya bisnis di Malang sini. Jadi kami masih sering bertemu. Itu membuatku sulit untuk lepas dari pekerjaanku ini. Namun, sekitar seminggu yang lalu terdengar kabar bahwa salah seorang temen seprofesiku dulu meninggal dengan sangat mengenaskan. Dia tewas bersama pria yang mem boking nya karena over dosis putaw di kamar hotel?. Retno diam sejenak, menyeka ujung matanya yang kelihatan mulai basah. Aku dengan setia menunggu kalimat-kalimat berikutnya sambil menatap kososng pada sepeda pancal milik pembantuku yang tadi membawaku ke sini.
?Tiba-tiba aku takut, sangat takut bahkan, membayangkan apa yang akan dialami temenku itu di alam kematian. Pasti lah di sana ia menghadapi hal-hal yang sangat berat, sendirian. Dan aku nggak ingin mengalami hal yang sama, Wiku. Nggak ingin?. Retno kembali diam, menarik nafas dalam-dalam.
?Lalu kamu ceritakan semuanya pada Anisah?? tanyaku hati-hati. Ia mengangguk kecil.
?Dia bilang tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tapi itu tidak berarti kita bebas menunda-nundanya. Allah memang Maha Pengampun. Tapi siapa yang menjamin bahwa kita masih hidup esok pagi untuk meminta ampun kepadaNya? Tidak ada.? Kalimat terakhir sebenarnya sudah sering kali kudengar dari Hidayat. Tapi kali ini terasa begitu berbeda. Kalimat itu seperti menghentak-hentak di dada, menginga-ngiang di telinga. Sekonyong-konyong ketakutan yang diceritakan Retno itu menular kepadaku. Ya, ketakutan itu benar-benar menular. Bayangan kematian begitu jelas. Cerita tentang keganasan Munkar dan Nakir tiba-tiba berputar di kepalaku. Aku menjadi begitu gelisah. Sangat gelisah.
?Aku ingin menyudahi semuanya, Wiku?. Itu kalimat terakhirnya sebelum tiba-tiba terdengar gema adzan Ashar dari kejauhan. Kumandangnya juga tidak seperti biasanya. Sumpah mati, kali ini seakan hanya ditujukan kepadaku seorang. Aku jadi ingin sholat. Seandainya Jupri tau, pasti dia tertawa terpingkal-pingkal.
Sesaat kemudian aku sudah berada di keramaian jalan raya, menembus udara sore dengan sepeda pancal. Gema adzan itu masih terus memanggil-manggil. Kukayuh sekuat tenaga supaya cepat sampai di masjid. Aku tak sabar ingin segera sujud pasrah di hadapan Allah, memohon ampun atas segala dosa yang selama ini menenggelamkanku. Aku akan segera tinggalkan hari-hari yang penuh maksiat, walaupun untuk itu aku harus masuk Rohis dan memelihara jenggot. Walaupun harus ditertawakan oleh si culun Jupri dan temen-temen kelas lainnya. Aku nggak peduli.
Ya Allah?aku akan kembali ke jalan-Mu, secepatnya. Lihatlah, sekarang aku sedang mengejar-Mu dengan sepeda.
Inferioritas Budaya Konsumen
14 tahun yang lalu








Tidak ada komentar:
Posting Komentar