Senin, 27 Oktober 2008

Di dekat kaki Tuhanku

Di dekat kaki Tuhanku

kutinggalkan malamku untuk berjaga menemanimu
selagi semua orang memilih untuk lari menyisakanmu
sendiri
sehingga kau berkubang dalam sepi
dalam peluh dan darahmu sendiri

sementara pasak dan paku sedang diasah
dan tiang-tiang dipancangkan
biarkan aku sebentar menjagamu
menghiburmu

rantai sudah dijalin dan cambuk tengah dirapikan
untuk menyambutmu di hari esok yang terakhir

dan nyaliku hanya meninggalkan kecut
membuatku segera menyingkir
untuk lari tanpa menunggu fajar menyingsing
maupun ayam berkokok tiga kali

Di bawah mendung

- di bawah mendung -

titik hujan menari berselendangkan pelangi
berhiaskan mendung di wajahnya, kesepian seolah menanti untuk datang lagi
apa seperti ini meninggalkan arti
lalu pergi, tanpa pernah berjanji?

sepanjang musim mencatati waktu kembali
mengemasi rindu menjejali hati

masih berserakan di pipimu, air mata tak pernah bisa mendustai
dan tak pasti, apakah engkau tengah merajut mimpi
dengan benang-benang waktu yang mengusut

kusam muram dalam temaram

TAMSIL TUBUH TERBELAH

TAMSIL TUBUH TERBELAH

Langit tanpa bulan
di perempatan jantung kota republik bla bla bla
seorang lelaki separuh baya
matanya nanar membara menatap angkasa
Rambut kusut, kumal bajunya
Ia tak bernama,
jawatan sosial hanya mencatat nomor registrasi
agar proyek rehabilitasi serta subsidi
menggelinding lancar ke dalam laci

Setiap ditanya; “nama?”
Ia senantiasa menggeleng tanpa tenaga

“Pablo!”
A, siapa pertama yang memanggil itu
Lantas orang-orang seantero kota pun memanggilnya;
“Pablo! Pablo! Blo! Pab! Blo!”

Tawa renyahnya selalu terdengar
saat senja beranjak pulang
kelam membayang, malam pun datang
Pablo sempoyongan
Tangannya menggenggam anggur murahan

Pablo selalu riang, senyumnya mengembang
Kadang sambil melenggang, mulutnya nyerocos, omong apa saja
Kadang sambil berdendang cha-cha-cha
suaranya menggema, tanpa batas tembus angkasa

Ia sendirian tapi tak kesepian
temannya bintang-bintang dan anjing kudisan
Pablo sering mengadu dan beritahu diri sendiri
apa yang kan terjadi
Orang-orang menanggapnya seperti komedi yang tak pernah basi
Ia bukan aktor karbitan
tapi ada juga yang bilang
“ia hilang ingatan”
Ach, peduli setan
Pablo selalu keluyuran membelah dingin malam
Ada alam raya membayang dibalik otak kecilnya
“Fantastis..!”
Bagai ada sinyal lampu yang selalu “on”
menyala dan bergetar
Pabila ada gelombang isyarat dari masa lalu
atau pancaran gelombang peristiwa dari masa depan
Kupingnya selalu mendengar
dengung lebah serta upacara orang Indian
memanggil hujan di musim kemarau
Matanya selalu menangkap frekuensi yang sarat
dengan simbol-simbol yang mesti dipecahkan

Pablo sempoyongan menembus sunyi malam
Memasuki ruang yang membuka-menutup

Diantara lalu lalang, ia melihat banyak orang
berjalan tanpa kepala, tanpa tujuan
Diantara etalase-etalase kaca toko barang antik
ia melihat dirinya seperti guci keramik yang retak
Pablo tak peduli, semua bisa saja terjadi

(Sirine ambulance menggerung gerung
memecah sunyi malam
Lampu mercury memancar muram)

Pablo gentayangan dengan perut keroncongan
Pablo gemetar menahan dingin malam
Wajahnya pucat pasi, Mulutnya kelu
Kaki dan tangannya kaku

Pagi itu, di bangsal gawat darurat
sebuah rumah sakit utara kota
ada sesosok tubuh tak bernyawa dan tak bernama
Tak ada sanak famili yang mengaku keluarga
Sulit diidentifikasi karena tak ada jati-diri

Sore, tubuh itu langsung diotopsi
dikerat dan disayat di ruang operasi
Bersama malaikat, ia saksikan dokter ahli mengambil hati
serta organ tubuhnya yang masih berfungsi
lantas dimasukkan ke dalam stoples kaca
Sedang anggota tubuh lainnya
dibelah jadi beberapa bagian
oleh mahasiswa-mahasiswi kedokteran Universitas Negeri
dengan pisau babi, masuk kantung mayat
dan jadi komoditi yang lain lagi

Malam,
di langit tanpa bulan, tak cuma ada bintang
tapi ada roh serta malaikat yang beterbangan

Dan di bumi,
tercium aroma kematian orang-orang
bau aroma kamboja dan asap dupa melayang
mengantar mereka di perabukan

Berlin, Juni 2004

Kamis, 23 Oktober 2008

CINTA TAK SEPERTI KENYATAAN

Andai aku semudah yang mereka fikir tentang “Cinta
Mungkin saat ini ada Dia disampingku
Andai perasaan ini semudah yang mereka “Rasa”
Mungkin saat ini aku merasa “Bahagia”

Tapi ntah kenapa hati ini sulit sekali
Tuhan, jika diantara mereka ada cinta sejatiku
Berikan jalan bagi kami tuk bertemu
Dan jika diantara mereka tak ada cinta sejatiku
Hilangkan perasaan mereka padaku, Tuhan

Maaf, “Bukan Maksudku”
Aku hanya tak ingin membuat mereka sakit hati
Dan aku juga tak ingin
Ada semakin banyak darah yang menempel di duriku

Mengapa kata cinta begitu mudah diucapkan
Pada akhirnya cinta tak seperti kenyataan

Puisi cinta dari SGirl

Senin, 20 Oktober 2008

Kata mutiara hati

* Kamu adalah apa yang kamu pikirkan
* Optimisme adalah berfikir positif yang menyala-nyala
* Harus kehilangan umpan untuk mendapatkan seekor ikan
* Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan
* Orang yang hidupnya indah karena mereka dekat dengan keindahan
* Cara untuk mendapatkan teman adalah dengan menjadi seorang teman
* Lakukan yang terbaik yang dapat dilakukan dan terimalah yang lainnya sebagaimana adanya
* Salah satu kesalahan yang sering orang berbuat adalah terus menerus takut berbuat kesalahan
* Manfaat masalah bagi pikiran adalah sama seperti olah raga bagi otot, masalah dapat menegarkan dan menguatkan pikiran
* Sekali terbebas dari belenggu “saya tidak bisa” yang melumpuhkan kehidupan, anda benar-benar bisa mencapai berbagai hal hampir tanpa batas

Minggu, 19 Oktober 2008

Father's Love Letter

Anak-Ku.......
Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicarakepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi akumelihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. Aku kembali menanti.......

Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhentidan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk.
Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabarsepanjang hari.Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkansesuatu kepada-Ku.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkaumerasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepada-Ku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.
Tidak apa-apa.........
Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal, yang harus kau kerjakan.

Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi,
Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku.
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian.
Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu.
Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali.
Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan.

Cinta

Itu lah cinta...

Cinta tak tak selalu mulus putih

Cinta penuh dengan noda..

Cinta penuh dengan cobaan..

Cinta penuh dengan pengorbanan...

Dan cinta penuh dengan tantangan...

yang jika kita mampu melewatinya bersama

itulah kesejatian cinta

Ketika Saat Terindah

Saat Terindah..

adalah Saat Mengenal Dan Memiliki Dirimu..

Yang Kuinginkan Sekarang

Hanyalah Slalu Dapat Disisimu

Dan Memandangmu

Dengan Segala Perasaanku..

Untuk mu cinta

Untuk mu Cinta

mari kita menari, mari kita menyanyi, mari kita berlari!

cintaku padamu sebesar dunia

karena aku sudah lupa pada yang lalu begitu cepatnya

seluruh isi duniaku sudah terganti

menarilah bersamaku

menarilah kita ke aozora, duniaku yang sepi dan bisu

menarilah kita ke segala impian, khayalan biru

marilah kita bersama-sama jalin cerita, jalin permainan yang tak pernah kau bosan memainkan

marilah kita menulis nama kita di pasir putih

marilah kita mengejar ombak di biru

marilah kita pandang biru

marilah kita merajut langit di sana

angkasa hitam penuh bintang

seperti kita yang tenggelam di keasyikan

nada-nada di balik segala

seperti kita tahu apa yang pasti

seperti cinta yang kabur

nada-nada di balik segala

marilah kita menyanyi sekali lagi, terhanyut di balik segala

dalam keasyikan itu aku menemukan kamu

kamu yang terhanyut di balik segala

cinta! cinta! marilah kau menari...

cinta! cinta! tidurlah di balik segala, tidurlah diiringi segala doa

karena kamu sekarang sudah semuanya

What has was leoved by m

"What has was leoved by m laksana a child currently all the time I loved..." And, what is loved by me currently... will be loved by me up to the end of my life, because the love was all that was able to be reached by me... and not there are those that will pull out myself than him (Kahlil Gibran)

Puisi Jangan sesekali

"Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba."
"Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup."
"Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi,"
"jika kamu masih tidak dapat melupakannya."

Tuhan memberikan kita

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Pabila cinta memanggilmu

"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)

Kamis, 16 Oktober 2008

SEMALAM

SEMALAM

Semalam aku sendirian di dunia ini,
kekasih; dan kesendirianku...
sebengis kematian...
Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara...,
Di dalam fikiran malam.
Hari ini...
aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.
Dan, ia berlangsung dalam seminit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang,
sepatah kata, sebuah desakan dan... sekucup ciuman
:+: Khalil Gibran :+:

IBU

IBU

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya.
Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta,
kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.
Siapa pun yang kehilangan ibunya,
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasamerestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu.
Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan.
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya.
Pepohonandan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.Penuh cinta dan kedamaian.
:+: Khalil Gibran :+:

Puisi SYUKUR

SYUKUR

Get up in the dawn at daybreak with the heart was as light awan Mensyukuri the day just was full of the rays kecintaan rested in the intensity of the afternoon merenungkan the peak of the vibration cinta came home in time at dusk with thank heavens was full in the cavity dada Afterwards fell asleep with the prayer for that was beloved in sanubari And a gratitude song was carved on the smile lip
:+: Kahlil Gibran :+:

KISAHKU

KISAHKU

Dengarkan kisahku... .
Dengarkan,
tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku:
kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku..
Jika kita mencintai,
cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk diri kita.
Jika kita bergembira,
kegembiraan kita bukan berada dalam diri kita, tapi dalam Hidup itu sendiri.
Jika kita menderita,
kesakitan kita tidak terletak pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam.
Jangan kau anggap bahawa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa,
dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat,
ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi.
Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran,
yang terbuka namun rahsia;
ia hanya dapat difahami melalui cinta,
hanya dapat disentuh dengan kebaikan;
dan ketika kita mencuba untuk menggambarkannya ia menghilang bagai segumpal wap.
:+: Kahlil Gibran :+:

Puisi Cinta Yang Agung

CINTA yang AGUNG

Adalah ketika kamu menitikkan air matadan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIHmenunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang laindan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata 'Akuturut berbahagia untukmu'Apabila cinta tidak berhasil...
BEBASKAN dirimu...
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnyadan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah...
bahwa kamu mungkin menemukan cinta dankehilangannya..
tapi..
ketika cinta itu mati..
kamu TIDAK perlu matibersamanya...
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalumenang..
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketikamereka jatuh

by:Khalil Gibran

Selasa, 14 Oktober 2008

Pada Suatu Malam

Oleh Donny Anggoro

Dengan gontai Ray memasuki rumah itu. Ranselnya semakin terasa berat karena sedari tadi ia tidak berhenti untuk istirahat. Sudah seharian penuh ia mencari tempat kos yang nyaman untuk bermalam. Sayang, di mana-mana penuh. Perjalanan Ray berakhir juga. Untung ada seseorang memberitahu bahwa rumah ini menerima kos. Dan tanpa banyak bicara lagi Ray sudah mendapatkan kamar.

“Akhirnya dapat juga,” batin Ray. Ia menarik nafas lega setelah seharian berjalan mencari tempat kos. Ia memang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota gudeg ini. dan baru pertama kali ia kesulitan mencari tempat kos. Maklum, belum banyak orang yang dikenalnya. Jadi terpaksalah ia kelimpungan mencari sendirian.

Namun kamar kos yang ditempatinya kini jauh dari kesan bersahabat. Pintunya reyot dan jendelanya mulai rusak. Lampunya pun remang-remang lantaran lama tak diganti. Untung Pak Sidik pemilik kos itu langsung mengganti lampu kamar Ray. “Maaf ya, dik, kamar ini lama nggak ditempati orang. Yang lain sudah penuh, eee…yang ini kosong melulu. Besok pagi biar dibersihkan sama Mamat. Sekalian dibetulin jendelanya,” kata Pak Sidik.
“Nggak apa-apa, pak. Yang penting saya bisa bermalam di sini,”
“Baiklah, ini kuncinya.” kata Pak Sidik sambil menyodorkan kunci.
“Terimakasih, pak. Sampai besok pagi.”
“Ya, Dik. Sama-sama.”
***
Paginya Ray langsung bangun dan mandi. Kemudian ia mulai menata barang-barangnya. Kemarin ia langsung terlelap setelah memberikan sprei pada kasurnya. Tiba-tiba terdengar ketukan.
“Maaf, ini kamar Dik Ray?”
“Betul. Ada apa?”
“Saya Mamat. Mau membersihkan kamar.”
Seorang anak muda berpakaian lusuh langsung memasuki kamar Ray. Setelah membersihkan seadanya ia bertanya, “Mana yang rusak?”
“Itu, jendela sama pintu nggak bisa ditutup rapat.”
Mamat langsung bekerja dengan cekatan.
“Mas sudah lama tinggal di sini?” tanya Ray berbasa-basi.
“Sudah lima tahun ikut Pak Sidik,” jawab Mamat.
“Masih sekolah?” tanya Ray sambil menyodorkan sebungkus rokok. Mamat tersenyum dan mengambil sebatang.
“Udah nggak. Terima kasih rokoknya….mmm, manggilnya Mamat saja ya,”
“Kalau begitu manggil saya Ray saja, “ balas Ray sambil mengulurkan tangan. Mereka berjabatan.
“Maaf, saya mau kerja yang lain dulu. Kalau ada apa-apa panggil saya saja,”
Mamat berlalu dari kamar Ray. Anak itu memang tak banyak bicara namun murah senyum. Tubuh kurusnya dibalut kaos oblong yang lusuh. Ia memang sebaya dengan Ray. Tapi wajahnya suram seperti menyimpan kepedihan hati. Mungkin hidupnya susah, batin Ray. Ray melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh. Ia merebahkan diri di atas kasur.
“Mumpung belum kuliah tidur dulu, ah.”
Tak lama kemudian ia terlelap.
***
“Langsung pulang Ray?“ tanya Joko sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Ray mengangguk. Kuliah hari ini padat sekali. Jam tujuh malam baru kelar.
“Gila! Mana besok kuliah pagi. Huh!” seru Ray.
“Mendingan makan dulu, yuk. Di depan situ baru pulang.” ajak Joko.

Mereka berjalan ke sebuah warung nasi. Setelah memesan makanan Ray mengeluarkan dompet dari saku celananya.
“Wah, duitku gede semua,” serunya.
“Sudahlah, aku yang bayar.” kata Joko. Ray tersenyum. “Asyik, besok gitu lagi ya,” candanya.
“Sialan! Memangnya aku bankir,”
Kemudian masing-masing menikmati makanan. Selesai makan Joko membuka pembicaraan.
“Eh, kamu kos dimana, Ray?”
“Sendowo, kamu?”
“Nggak. Aku nggak kos. Aku tinggal di rumah Pakde di petung.” jawab Joko. Kemudian ia mengeluarkan dompet. Setelah membayar mereka berlalu.
“Yuk, aku duluan. Besok jangan bolos dong,” pesan Joko.
“Tenang saja.”
Mereka berpisah di kegelapan malam.
***
Lama Ray berjalan. Keringatnya mulai bercucuran. Tapi Ray cuek. Tempat kosnya memang agak jauh dari kampus. Berjalan kaki paling setengah jam. Naik bus? Malas, ah! Ray sedang mengirit uang. Sudah dua minggu ia di kota gudeg ini. tapi uangnya sudah menipis. Nampaknya dia salah perhitungan waktu diberi uang ayahnya. Pikirnya cukup, eh malah kurang banyak. Besok saja telepon ayahnya minta tambahan uang sekalian negosiasi berapa jatah per bulannya.
Langkah Ray terhenti. Seseorang memanggilnya.
“Maaf, Mas, jam berapa sekarang?”

Ray tersentak. Orang itu bertubuh jangkung dengan sepasang tangan kekar. Tubuhnya tinggi besar dan nampak menakutkan. Ray menjawab seperlunya dan segera berlalu. Tetapi…
“Heh! Berhenti! Serahkan uangmu!”

Astaga! Penodongan! Orang itu mengacungkan belati. Ray berusaha tak panik. Percuma pernah belajar karate meski cuma ban kuning, pikirnya.

“Mau apa kamu? Berani melawan saya?” seru Ray geram. Ia mulai pasang kuda-kuda. Orang itu langsung menyerang. Sayang, dia terlampau kuat bagi Ray. Ray jatuh tersungkur. Orang itu menendang perut Ray sehingga tak bisa bangkit lagi. Dalam sekejab ia berhasil dengan sukses membereskan Ray. Ray merasa kepalanya sangat pening. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya kabur. Sayup-sayup ia mendengar orang itu bicara.
“Ayo cepat! Sikat dompetnya!”

Nampaknya orang itu tidak sendirian. Badan Ray terasa sakit.
“Tasnya?”
“Buat apa? Goblok! Nih, dompetnya! Tebal!”
“Yah, cuma sepuluh ribu!”
“Cepat! Nanti keburu ada orang lewat!”

Ray masih setengah sadar. Meski ia tak bisa bangkit pikirannya masih jalan. Ia mencoba bergerak lagi. Uh! Sakit! Lalu…buk! Tubuh Ray berguling-guling dan mendaratlah ia ke dalam parit kering.
“Sudah! Beres! Kita cari yang lain lagi!”
Ray tak ingat apa-apa lagi. Kesadarannya hilang.
***

Ray terbangun. Berangsur-angsur kesadarannya mulai timbul. “Oh, dimana saya?” Seseorang yang sudah dikenalnya duduk di tepi ranjang. Mamat! “Tenang, kamu sudah aman,” kata Mamat. Ia kemudian membantu Ray bersandar di bantalnya. Sakit sekali. Ray mencoba untuk bangkit. Mamat mencegahnya.
“Jangan! Lebih baik tiduran dulu,” kata Mamat lagi.

Ray lega sudah berada di kamarnya. Rupanya Mamat yang menemukan Ray pingsan dan membawanya ke tempat kos.
“Ceritakan apa yang terjadi,” pinta Mamat.
“Mereka…aduh…kayaknya ada tiga. Tapi yang menyerang saya cuma satu,” jelas Ray sambil beberapa kali mengaduh kesakitan. Mamat menggelengkan kepalanya.
“Mukanya?”
“Tidak jelas…semuanya gelap. Tidak ada penerangan sama sekali di tempat tadi,” jawab Ray lirih. Belum pernah ia sesakit ini sebelumnya.
“Mmm…apa yang hilang?”
“Kayaknya…aduh…dompet dan jam tangan saya…”
Mamat menunjukkan sesuatu.
“Dompetku!” seru Ray.
“Mereka meninggalkannya bukan? Tenang, KTP sama yang lainnya masih ada.” ujar Mamat. “Mendingan tidur dulu. Besok kita bicarakan sekalian lapor polisi,”
“Pak Sidik sudah tahu?”
“Sudah. Bapak malah yang membalut luka-lukamu. Saya cuma membawamu pulang waktu melihat kamu pingsan,”
“Terimakasih, Mat.” kata Ray.
Mamat tersenyum. Kembali Ray hendak memejamkan matanya. Badannya luar biasa lemah saat ini. Tiba-tiba terdengar ketukan. Mamat membuka pintu. Seseorang muncul di depan pintu kamar Ray.
“Kamu disini rupanya. Lihat! Aku dapat empat puluh ribu. Lumayan buat jalan-jalan besok!” seru orang itu.
“Ssssttt! Ada orang sakit. Berisik amat sih kamu. Dari mana saja? Operasi kok nggak ngajak-ngajak?”
“Ah, kamu ini. Kemarin katanya sibuk. Makanya jangan kerja di sini. Udah gaji kecil, kerjanya lama lagi…”
Dasar kampungan, kata Ray dalam hati. Ngomong suaranya kayak gelas pecah begitu, keras lagi. Matanya kembali terpejam, tapi Ray tak bisa melanjutkan tidurnya. Bagaimana mau tidur badan sakit semua? Apalagi ada suara cempreng begitu. Suaranya yang cempreng mengingatkan Ray pada kejahilan adiknya, Yos.
Tetapi suara teman Mamat itu mengingatkannya pada sesuatu hal. Kayaknya barusan ia mendengar suara itu. Tidak mungkin Yos. Tak mungkin adiknya tahu Ray ada di sini. Sudah dua minggu Ray tak mengirim kabar ke Jakarta. Jangankan Yos, orang tuanya saja belum dikabari.
Penasaran Ray ingin melihat temannya Mamat. Tapi kepalanya terasa semakin pening ketika Ray mengangkat kepalanya. Matanya kembali terpejam menahan sakit. Ah, sudahlah. Paling orang kampung biasa, teman si Mamat. Mending tidur dan lupakan. Sudah menderita begini buat apa mengurus orang lain? Masih untung dirinya tidak tewas.
“Boleh masuk nggak? Memangnya kenapa sih?” tanya temannya Mamat itu.
Hening.
“Memangnya kenapa?” tanyanya lagi. Kali ini setengah berbisik. Suara itu semakin dekat. Nampaknya orang itu mendekati sisi ranjang Ray. Bersamaan itu Ray membuka matanya. Ray terkejut setengah mati. Begitu juga dengan teman si Mamat. Keduanya sama-sama terkejut. Meski tadi gelap Ray sekarang ingat!
“Kau??” seru Ray heran.
“Kau!” seru orang itu juga.
Mamat terbengong. “Kalian sudah saling kenal?” tanyanya heran.
Mereka berdua berpandangan. Entah apa yang dipikirkan Ray saat itu karena malam ini sudah terlalu banyak kejutan buatnya…

STOIC

sekali ini
mungkin hanya diam
atau tidur telentang
sambil memandang atapatap
yang tak pernah mengeluh panjang

sekali ini
tak kunyalakan suara apapun
tak ada nyanyi, atau melodi
biar saja, kunikmati, suara motor menderu, tangis anak, lengkingan perempuan, lenguhan cinta, suara mesin cuci, air yang mengalir, sayur yang mendidih, desah lelah yang berlari, caci makian, suara angin.

sekali ini
tak kujawab suara telepon, dering sms, panggilan di depan pintu, klik ruang chating, sapa kekasih
mungkin hanya diam
atau tidur telentang
sambil menatap atapatap
yang tak pernah mengeluh panjang

rupanya
ini lebih melegakan
I am stoic
I am fucking stoic
lebih menyayat, dengan diam
lebih lara, dengan diam
lebih duka, dengan diam
rupanya
ini lebih menyembuhkan
Like a dope
air mata hanya khayalan
hanya sementara
menguras energi
yang tertinggal adalah lelah
berujung pada asa yang putus
maka itu

Sekali ini..
biarkan aku
STOIC

by:Ida Ayu Utami

SAHABAT

jangan pernah simpan rindu
sebab ia selalu mengetukngetuk pintu
ujungujung jari yang mengerut
udara dingin mengepulngepul
seperti uapuap cerutu
wajahmu...
memanggil manggil dan berseru!
keinginan untuk bertandang ke rumahmu
secangkir teh hangat
pelukan erat
lalu kita biarkan kata
tak terjerat
melompat
sambil mengingat
saat kita menghapal gramatika dan filosofia
wajah yang indah
kenapa baru saat ini aku mampu menerjemah
pesan, amanat tentang sehabat
wajah yang indah
melihatmu, seperti perapian yang membara
begitu nyaman dan aman


I sit in a dim corner of a waiting room

I sit in a dim corner of a waiting room
can you hear the clock, its sound and the full moon?
tick... tock...tick...tock...tick...tock
mocking laughter
undelivered letter
racist preach
burdensome bliss
seek me
charge me
there is no way out
no way out...hide!
wait! I sit in a dim corner of a waiting room instead!
so you can see my eyes
coz I will face
confrontation, disgust and distrust
here I am, still, all I can hear is tick...tock...tick...tock...tick tock...

by:Ida Ayu Utami

Senin, 13 Oktober 2008

puisi babu kepada ndoronya

puisi babu kepada ndoronya

ndoro saya pulang dulu
setahun sudah berlalu
inilah kebahagiaan kami para babu
jangan... jangan halangi aku

saya musti pulang
ketemu para kadang
kangen simbok kangen bapak
juga pak lik bu lik dan adik2

babu itu juga manusia
biarkan sementara
kami bebas maki dan cerca
bisa pamer handpone didesa
"ndoro kalau perlu sms saya"

ndoro..selamat menggantikan tugasku
mencuci piring .mencuci baju.. menyapu
menyiapkan makan.. menutup pintu
maaf aku pulang kapan semauku
selamat menggerutu

lebaran adalah hari raya para babu
hari hari sengsara ndoro ndoroku

By:Slamet Widodo

Guess How Much I Love You



Guess How Much I Love You

Guess How Much I Love You
By Sam Mcbratney
Price: $7.99 & eligible for FREE Super Saver Shipping on orders over $25. Details
Add to sopping card

Availability: Not yet published
Ships from and sold by Amazon.com
Product Description

"Guess how much I love you," says Little Nutbrown Hare. Little Nutbrown Hare shows his daddy how much he loves him: as wide as he can reach and as far as he can hop. But Big Nutbrown Hare, who can reach farther and hop higher, loves him back just as much. Well then Little Nutbrown Hare loves him right up to the moon, but that's just halfway to Big Nutbrown Hare's love for him.
Product Details

* Amazon Sales Rank: #50753 in Books
* Published on: 2008-10-14
* Released on: 2008-10-14
* Original language: English
* Number of items: 1
* Binding: Board book
* 24 pages

Editorial Reviews

Amazon.com Review
Little Nutbrown Hare wants very much to impress Big Nutbrown Hare with the enormous scale of his devotion, but ends up being the one who's impressed. Subtitled "a pop-up edition," this sturdy square edition of Sam McBratney's ever-popular Guess How Much I Love You is probably better described as a "slide-along edition." Some pages do include pop-ups, but they aren't the best ones; instead, most involve pull-tabs which animate the two rabbits and their surroundings. One of the most appealing scenes simply shows Little Nutbrown Hare hopping up and down. In a purely technical sense this exercise in interactive cardboard technology is well behind some of the competition, but the tale has a timeless charm and the very simplicity of the movements makes it easy for small fingers to waggle the tabs and take control of the story. (Ages 2 to 4) --Richard Farr

From Publishers Weekly
Fresh as a fiddlehead fern in spring, this beguiling bedtime tale features a pip of a young rabbit and his indulgent parent. Searching for words to tell his dad how much he loves him (and to put off bedtime just an eentsy bit longer), Little Nutbrown Hare comes up with one example after another ("I love you as high as I can hop!"), only to have Big Nutbrown Hare continually up the ante. Finally, on the edge of sleep, he comes up with a showstopper: "I love you right up to the moon." (Dad does top this declaration too, but only after his little bunny falls asleep.) Effused with tenderness, McBratney's wise, endearing and droll story is enriched by the near-monochromatic backdrop of Jeram's pen-and-wash artwork, rendered earthy tones of moss, soft brown and gray for a visually quieting effect just right for that last soothing tale before sleep. Ages 3-up.
Copyright 1995 Reed Business Information, Inc.

From School Library Journal
PreSchool-K?In this simple story, a father and son try to outdo one another in expressing their affection. Little Nutbrown Hare says that he loves his father as high as he can reach. Big Nutbrown Hare replies that he loves his son as high as he can reach?which is very high. Father seems to be winning?until the young rabbit tells dad that he loves him right up to the moon?which his father agrees is very far away. But as he kisses his son goodnight, he replies, "I love you right up to the moon?and back." The watercolor illustrations are composed of scratchy lines and large areas of watery washes that are charming, but not too sweet. Large typeface and repetitive refrains invite beginning readers. It's refreshing and realistic to see a father and son relationship that is both competitive and loving.?Karen K. Radtke, Milwaukee Public Library
Copyright 1995 Reed Business Information, Inc.

Rabu, 08 Oktober 2008

Cinta terpendam


Bencilah diriku
Jika ternyata hatimu telah terlalu mencintaiku
Sebab mungkin
Cinta itu bukan berasal dari Nya

Bencilah diriku
Jika ternyata kehadiranku
Membuatmu melupakan yang lainnya
Karena pasti asa itu datang bukan darinya

Bencilah diriku
Ketika kau merasa hanya akulah yang terbaik
Ketika kau berpikir hanya aku yang layak untuk mu
Ketika kau berharap berdampingan denganku

Bencilah diriku
Agar cinta mu terjaga
Seperti seorang Ibu mencintai anaknya

Bencilah diriku
Agar hati mu kembali perawan

Bencilah diriku
Atas namanya
Jika itu membuat mu senang

Bencilah diriku
Dengan cinta kepadanya
Aku hanya bisa berdoa untukmu
Agar engkau bahagia selalu

Punggung Cakrawala

inginku berlari kencang,membelah punggung cakrawala.

inginku berlari kencang padamu.

dan membuka tali Cinta

yang ada padamu.

agarku dapat melihat Cinta

yang ada padamu.

karena ia terlahir

dari yang suci.

dan inginku berlari kencang padamu.

hanya inginku sampaikan

khabar berita padamu.

“maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku”.

Selasa, 07 Oktober 2008

Salam untuk Sang fajar


lihatlah hari ini sayang, sang fajar menyapa kita semua dengan lembut.....
sebab ia adalah kehidupan,kehidupan dari kehidupan
Dalam sekejab dia teleh melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu.
Nikmat Pertumbuhan.
Pekerjaan yang indah.
Indahnya Kemenangan….
Karena hari kemari tak lebih dari sebuah mimpi.
Dan esok hari hanyalah banyangan.
Namun hari ini ketika kamu hidup sempurna,
Telah membuat hari kemarin sebagai impian yang indah.
Setiap hari esok adalah bayangan yang penuh harapan.
Maka lihatlah hari ini…..
Inilah salam untuk Sang fajar

Sekawan embun untuk cinta


Sekawan embun berarak mesra
riak berkinja mendendang manja
senyum teratai di ujung desa
marak cinta di unggun cita
mengunting utas rantai mutiara
penuh hasrat merangkum jiwa

Dalam hati terasa girang
di akhir malam tunas mengambang
kadang terasa bimbang
dua jembatan terentang
cita bertunjang...
cinta berkembang...

Gelisah mengintai selalu
kadang bermain duka pilu
tiada jawaban meraba kalbu
siang penuh sinar mentari
dan malam dingin berdekap embun
carilah naungan di pohon rimbun

Benarkah cinta perosak jiwa?
atau ia penambah cita?

Sudah terucap dua mutiara
cita dan cinta
lebih berarti pada segala
karena keduanya sama-sama mulia
untuk manusia, kedamaian maya, dan kedamaian yang abadi.