Oleh Donny Anggoro
Dengan gontai Ray memasuki rumah itu. Ranselnya semakin terasa berat karena sedari tadi ia tidak berhenti untuk istirahat. Sudah seharian penuh ia mencari tempat kos yang nyaman untuk bermalam. Sayang, di mana-mana penuh. Perjalanan Ray berakhir juga. Untung ada seseorang memberitahu bahwa rumah ini menerima kos. Dan tanpa banyak bicara lagi Ray sudah mendapatkan kamar.
“Akhirnya dapat juga,” batin Ray. Ia menarik nafas lega setelah seharian berjalan mencari tempat kos. Ia memang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota gudeg ini. dan baru pertama kali ia kesulitan mencari tempat kos. Maklum, belum banyak orang yang dikenalnya. Jadi terpaksalah ia kelimpungan mencari sendirian.
Namun kamar kos yang ditempatinya kini jauh dari kesan bersahabat. Pintunya reyot dan jendelanya mulai rusak. Lampunya pun remang-remang lantaran lama tak diganti. Untung Pak Sidik pemilik kos itu langsung mengganti lampu kamar Ray. “Maaf ya, dik, kamar ini lama nggak ditempati orang. Yang lain sudah penuh, eee…yang ini kosong melulu. Besok pagi biar dibersihkan sama Mamat. Sekalian dibetulin jendelanya,” kata Pak Sidik.
“Nggak apa-apa, pak. Yang penting saya bisa bermalam di sini,”
“Baiklah, ini kuncinya.” kata Pak Sidik sambil menyodorkan kunci.
“Terimakasih, pak. Sampai besok pagi.”
“Ya, Dik. Sama-sama.”
***
Paginya Ray langsung bangun dan mandi. Kemudian ia mulai menata barang-barangnya. Kemarin ia langsung terlelap setelah memberikan sprei pada kasurnya. Tiba-tiba terdengar ketukan.
“Maaf, ini kamar Dik Ray?”
“Betul. Ada apa?”
“Saya Mamat. Mau membersihkan kamar.”
Seorang anak muda berpakaian lusuh langsung memasuki kamar Ray. Setelah membersihkan seadanya ia bertanya, “Mana yang rusak?”
“Itu, jendela sama pintu nggak bisa ditutup rapat.”
Mamat langsung bekerja dengan cekatan.
“Mas sudah lama tinggal di sini?” tanya Ray berbasa-basi.
“Sudah lima tahun ikut Pak Sidik,” jawab Mamat.
“Masih sekolah?” tanya Ray sambil menyodorkan sebungkus rokok. Mamat tersenyum dan mengambil sebatang.
“Udah nggak. Terima kasih rokoknya….mmm, manggilnya Mamat saja ya,”
“Kalau begitu manggil saya Ray saja, “ balas Ray sambil mengulurkan tangan. Mereka berjabatan.
“Maaf, saya mau kerja yang lain dulu. Kalau ada apa-apa panggil saya saja,”
Mamat berlalu dari kamar Ray. Anak itu memang tak banyak bicara namun murah senyum. Tubuh kurusnya dibalut kaos oblong yang lusuh. Ia memang sebaya dengan Ray. Tapi wajahnya suram seperti menyimpan kepedihan hati. Mungkin hidupnya susah, batin Ray. Ray melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh. Ia merebahkan diri di atas kasur.
“Mumpung belum kuliah tidur dulu, ah.”
Tak lama kemudian ia terlelap.
***
“Langsung pulang Ray?“ tanya Joko sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Ray mengangguk. Kuliah hari ini padat sekali. Jam tujuh malam baru kelar.
“Gila! Mana besok kuliah pagi. Huh!” seru Ray.
“Mendingan makan dulu, yuk. Di depan situ baru pulang.” ajak Joko.
Mereka berjalan ke sebuah warung nasi. Setelah memesan makanan Ray mengeluarkan dompet dari saku celananya.
“Wah, duitku gede semua,” serunya.
“Sudahlah, aku yang bayar.” kata Joko. Ray tersenyum. “Asyik, besok gitu lagi ya,” candanya.
“Sialan! Memangnya aku bankir,”
Kemudian masing-masing menikmati makanan. Selesai makan Joko membuka pembicaraan.
“Eh, kamu kos dimana, Ray?”
“Sendowo, kamu?”
“Nggak. Aku nggak kos. Aku tinggal di rumah Pakde di petung.” jawab Joko. Kemudian ia mengeluarkan dompet. Setelah membayar mereka berlalu.
“Yuk, aku duluan. Besok jangan bolos dong,” pesan Joko.
“Tenang saja.”
Mereka berpisah di kegelapan malam.
***
Lama Ray berjalan. Keringatnya mulai bercucuran. Tapi Ray cuek. Tempat kosnya memang agak jauh dari kampus. Berjalan kaki paling setengah jam. Naik bus? Malas, ah! Ray sedang mengirit uang. Sudah dua minggu ia di kota gudeg ini. tapi uangnya sudah menipis. Nampaknya dia salah perhitungan waktu diberi uang ayahnya. Pikirnya cukup, eh malah kurang banyak. Besok saja telepon ayahnya minta tambahan uang sekalian negosiasi berapa jatah per bulannya.
Langkah Ray terhenti. Seseorang memanggilnya.
“Maaf, Mas, jam berapa sekarang?”
Ray tersentak. Orang itu bertubuh jangkung dengan sepasang tangan kekar. Tubuhnya tinggi besar dan nampak menakutkan. Ray menjawab seperlunya dan segera berlalu. Tetapi…
“Heh! Berhenti! Serahkan uangmu!”
Astaga! Penodongan! Orang itu mengacungkan belati. Ray berusaha tak panik. Percuma pernah belajar karate meski cuma ban kuning, pikirnya.
“Mau apa kamu? Berani melawan saya?” seru Ray geram. Ia mulai pasang kuda-kuda. Orang itu langsung menyerang. Sayang, dia terlampau kuat bagi Ray. Ray jatuh tersungkur. Orang itu menendang perut Ray sehingga tak bisa bangkit lagi. Dalam sekejab ia berhasil dengan sukses membereskan Ray. Ray merasa kepalanya sangat pening. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya kabur. Sayup-sayup ia mendengar orang itu bicara.
“Ayo cepat! Sikat dompetnya!”
Nampaknya orang itu tidak sendirian. Badan Ray terasa sakit.
“Tasnya?”
“Buat apa? Goblok! Nih, dompetnya! Tebal!”
“Yah, cuma sepuluh ribu!”
“Cepat! Nanti keburu ada orang lewat!”
Ray masih setengah sadar. Meski ia tak bisa bangkit pikirannya masih jalan. Ia mencoba bergerak lagi. Uh! Sakit! Lalu…buk! Tubuh Ray berguling-guling dan mendaratlah ia ke dalam parit kering.
“Sudah! Beres! Kita cari yang lain lagi!”
Ray tak ingat apa-apa lagi. Kesadarannya hilang.
***
Ray terbangun. Berangsur-angsur kesadarannya mulai timbul. “Oh, dimana saya?” Seseorang yang sudah dikenalnya duduk di tepi ranjang. Mamat! “Tenang, kamu sudah aman,” kata Mamat. Ia kemudian membantu Ray bersandar di bantalnya. Sakit sekali. Ray mencoba untuk bangkit. Mamat mencegahnya.
“Jangan! Lebih baik tiduran dulu,” kata Mamat lagi.
Ray lega sudah berada di kamarnya. Rupanya Mamat yang menemukan Ray pingsan dan membawanya ke tempat kos.
“Ceritakan apa yang terjadi,” pinta Mamat.
“Mereka…aduh…kayaknya ada tiga. Tapi yang menyerang saya cuma satu,” jelas Ray sambil beberapa kali mengaduh kesakitan. Mamat menggelengkan kepalanya.
“Mukanya?”
“Tidak jelas…semuanya gelap. Tidak ada penerangan sama sekali di tempat tadi,” jawab Ray lirih. Belum pernah ia sesakit ini sebelumnya.
“Mmm…apa yang hilang?”
“Kayaknya…aduh…dompet dan jam tangan saya…”
Mamat menunjukkan sesuatu.
“Dompetku!” seru Ray.
“Mereka meninggalkannya bukan? Tenang, KTP sama yang lainnya masih ada.” ujar Mamat. “Mendingan tidur dulu. Besok kita bicarakan sekalian lapor polisi,”
“Pak Sidik sudah tahu?”
“Sudah. Bapak malah yang membalut luka-lukamu. Saya cuma membawamu pulang waktu melihat kamu pingsan,”
“Terimakasih, Mat.” kata Ray.
Mamat tersenyum. Kembali Ray hendak memejamkan matanya. Badannya luar biasa lemah saat ini. Tiba-tiba terdengar ketukan. Mamat membuka pintu. Seseorang muncul di depan pintu kamar Ray.
“Kamu disini rupanya. Lihat! Aku dapat empat puluh ribu. Lumayan buat jalan-jalan besok!” seru orang itu.
“Ssssttt! Ada orang sakit. Berisik amat sih kamu. Dari mana saja? Operasi kok nggak ngajak-ngajak?”
“Ah, kamu ini. Kemarin katanya sibuk. Makanya jangan kerja di sini. Udah gaji kecil, kerjanya lama lagi…”
Dasar kampungan, kata Ray dalam hati. Ngomong suaranya kayak gelas pecah begitu, keras lagi. Matanya kembali terpejam, tapi Ray tak bisa melanjutkan tidurnya. Bagaimana mau tidur badan sakit semua? Apalagi ada suara cempreng begitu. Suaranya yang cempreng mengingatkan Ray pada kejahilan adiknya, Yos.
Tetapi suara teman Mamat itu mengingatkannya pada sesuatu hal. Kayaknya barusan ia mendengar suara itu. Tidak mungkin Yos. Tak mungkin adiknya tahu Ray ada di sini. Sudah dua minggu Ray tak mengirim kabar ke Jakarta. Jangankan Yos, orang tuanya saja belum dikabari.
Penasaran Ray ingin melihat temannya Mamat. Tapi kepalanya terasa semakin pening ketika Ray mengangkat kepalanya. Matanya kembali terpejam menahan sakit. Ah, sudahlah. Paling orang kampung biasa, teman si Mamat. Mending tidur dan lupakan. Sudah menderita begini buat apa mengurus orang lain? Masih untung dirinya tidak tewas.
“Boleh masuk nggak? Memangnya kenapa sih?” tanya temannya Mamat itu.
Hening.
“Memangnya kenapa?” tanyanya lagi. Kali ini setengah berbisik. Suara itu semakin dekat. Nampaknya orang itu mendekati sisi ranjang Ray. Bersamaan itu Ray membuka matanya. Ray terkejut setengah mati. Begitu juga dengan teman si Mamat. Keduanya sama-sama terkejut. Meski tadi gelap Ray sekarang ingat!
“Kau??” seru Ray heran.
“Kau!” seru orang itu juga.
Mamat terbengong. “Kalian sudah saling kenal?” tanyanya heran.
Mereka berdua berpandangan. Entah apa yang dipikirkan Ray saat itu karena malam ini sudah terlalu banyak kejutan buatnya…