Selasa, 16 Desember 2008

Selamat datang cinta

Hatiku terbalut dengan tirai buatan cintamu!
Ketika terbang terikat bersma senyummu!
Meski jauh, namun tetap yakin akan masa indahku!
Perlhan kutarik bayangmu, berbisik lembut di telingamu,
Semoga di penghjung Tahun Baru ini cintamu tetap ada,
Selamat tinggal keluh kesah di Tahun yang lalu,
mari kita berdua menyongsong cinta yang baru,
Selamat datang Tahun Baru, selamat datang hari baru, selamat datang ooh selamat datang

Terima kasih

Telah lama ku intai bayangmu
Namun tidak pernah kau tahu akan kehadiranku
Dari hari ke hari
CINTA ku mulai berputik buatmu

Kucuba usir rasa ini
Namun
Siapalah diriku ini untuk menolak
Kehadiran CINTA di dalam hati ini

dan..

Tanpa aku sedari
Kau jua mengintai bayanganku
Mengharap akan kehadiranku
Tiap waktu

Ku luahkan padamu
Rasa CINTAku
Yang telah terpendam lama
Jauh nun di sudut hatiku
Apakah kau jua merasakannya??
Ya!
Terima kasih teman!!

Terima kasih
Kerana sudi menyirami cintaku yang tandus
Kerana sudi membajai p0hon kasih
Kerana sudi mengisi kek0songan hatiku
Kerana sudi berk0ngsi suka dan duka bersama ku

Dan terima kasih..
Kerana sudi menCINTAiku…

Ainaa Shahirah Mohd Munizam

Ia

Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa
lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.

Hiduplah sesuka hatimu

Hiduplah sesuka hatimu,
Sesungguhnya kamu pasti mati…

Cintai siapa saja yang kamu senangi,
Sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya…

Lakukan apa saja yang kamu kehendaki,
Sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya ….

Kamis, 11 Desember 2008

Kabaikan hati

Kabaikan hati

Hati kita akan merasa damai ketika kita bisa memaafkan,
bukan menghakimi.

Sebuah nilai

Sebuah nilai

Kita cenderung menilai kesuksesan dari jumlah penghasilan kita atau ukuran mobil-mobil kita,
bukan dari kualitas layanan dan hubungan kita dengan sesama manusia,
dan barang siapa menebar benih kebaikan akan menikmati panen abadi.

Selasa, 09 Desember 2008

Petunjuk jalan ke masadepan

Petunjuk jalan ke masadepan

Ketika hati aku ragu akan arti hidup dan masa depan yang terbentang luas, apa makna dari kehiduan itu tanyaku?
Kehidupan itu ditandai dengan gerak.
Setiap yang bergerak disebut hidup, entah dalam tingkat yang sederhana maupun canggih.
Setiap gerakan hidup selalu memiliki tujuan masa depan.
Akan tetapi sering pergerakan hidup itu tidak mencapai tujuannya.
Kadang di tangah perjalanan, gerakan itu menyimpang dari arah yang dituju.
Kadang pula ia menghadapi kendala dan tantangan yang menghaap lajunya gerakan hidup.
Tidak mengherankan, ika gerakan itu lambat, malahan ia dapat mati; atau kadang perjalanan hidup itu menghadapi kegelapan, lalu tujuan hidup menjadi tak terlihat jelas.
Inti persoalanya: adakah petunjuk jalan atau terang yang dapat menuntun gerakan hidup manusia ke tujuan akhirnya?
semua orang pasti bilang so pasti ada jalan untuk itu semua, tetapi tidak seorangpun dapat menolong sesamanya, ketika mengalami gelombang hidup pasang surut.
Badai kehidupan tidak dapat ditenangkan siapapun,malahan dalam badai itu bahterah hidup dapat saja karam, harapan akan kebahagian masa depan mungkin hilang, disebabkan patahnya semangat hidup.
Namun setiap orang yang mengandalkan TUHAN tidak akan sia-sia Ia akan senantiasa memberikan pertolongan bagi yang membutuhkanNYA tanpa membedahkan siapa kita dalam menentukan perjalan masa depan kita semua.

Senin, 08 Desember 2008

Ketuk Palu

Ketuk Palu

Ruangan yang panas dibalut keringat dan bau tak sedap
mendadak menjadi dingin ketika dia memulai
Tabungan ketenangan dan senyuman ramah
seketika pecah berserak tak tentu arah

Ada yang mencaci, ada yang membela
"Aku menuntut hak, tempatmu di neraka!"
Tanpa sadar mereka melupakan kewajiban
memaklumi kesalahan dengan memaafkan

Hei, lihat itu sang ksatria
bukan penegakkan keadilan di mulutnya
tapi penuhnya kantung culas dengan uang
Dan yah, tentunya ada campuran kepentingan juga

Adalagi mereka sang pekerja
memutar kepala kemudian berteriak-teriak
"Pemutus Keadilan!, kapan kami bisa hidup dengan
tenang?"
"Liat keadaan kami, kami juga punya anak isteri!!"

Jarum pendek pun bergeser cepat
Waktu diakhiri dengan tiga ketukan "Tok,Tok,Tok"
seketika itu juga kami pulang
dengan senyum kecut terpampang.

Wajah Mu membayang

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhan ku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku
malam dan wajahku adalah satu warna
dosa dan nafasku adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan
apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?
sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati Mu
Tuhan ku
erat-erat kugenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Rabu, 03 Desember 2008

Tabungan Orang Kecil

Sam menimang-nimang patung macan yang tengahnya kopong. Lelaki bertubuh jangkung itu sedang mencoba menaksir jumlah recehan yang ia cemplungkan setiap mendapatkannya dari warung saat belanja.

"Mau diapakan si macan, Mas? Katanya tidak mau membolonginya kalau belum penuh." Suara Marni mengejutkan sang suami yang masih asyik dengan binatang tanahnya.

"Ah, tidak diapa-apakan. Aku cuma iseng kepingin menaksir jumlah isi perutnya."

Marni tersenyum tipis sekilas. Di dadanya mendadak ada rasa perih melintas. Suaminya berjuang keras setiap hari sebagai petugas kebersihan kota. Habis salat Subuh sudah mulai mengayunkan sapu lidi di jalan. Jika ada keramaian, pekerjaan Sam akan bertambah karena limpahan sampah akan membanjiri jalan.

Perlahan Sam meletakkan patung macan duduknya di atas bupet kepala tempat tidur kayu model lama. Ia mundur beberapa jengkal dan dengan hati-hati meletakkan pantatnya di pingir dipan.

Mata Sam berpindah pada kalender yang menempel pada dinding kamar yang catnya sudah pudar. Gambar bunga sakura dengan latar langit biru ditatapnya lekat-lekat. Namun yang ada di benak lelaki itu bukan Fujiyama, tapi hamparan hijau persawahan di desanya.

Ada ayah dan ibunya yang tua keriput dan bermata lelah di desa. Ibunya tiap hari mengangkut kayu bakar yang dikumpulkannya di hutan pinggir sawah. Punggung ayahnya pun sarat bawaan, rumput untuk makanan kambing.

"Ah! Seperti apa nasib orang tuaku sekarang? Tak ada yang mau mengirim kabar padaku. Mungkin saudara-saudaku juga sibuk atau mungkin marah dan benci padaku, karena lama tak menjenguk ayah dan ibu."

Sam merasa telah menjadi pecundang di perantauan. Ia telah menikahi seorang perempuan dan hingga belasan tahun belum pernah perempuan itu kenal mertuanya. Marni, perempuan Jawa yang nrimo, telah melahirkan dua anak. Dan, kedua itu anaknya pun belum pernah bertemu nenek dan kakeknya.

"Ada apa, Mas? Sepertinya kau sangat bersedih!" Marni yang kembali muncul di kamar melihat Sam yang sedang mematung di depan kalender.
"Tidak ada apa-apa, Marni," Kilah Sam pendek.

"Tadi Mas memegangi si macan, sekarang memandingi kalender dan tampak sangat bersedih. Ada masalah? Atau sampeyan punya hutang yang harus dilunasi?" Marni terus mendesak.

"Ya, aku punya hutang!" Sam kembali duduk di tepi dipan disusul Marni duduk di sampingnya.

"Hutang kepada siapa, Mas? Hutang untuk apa?" Marni cemas karena selama ini Sam tak pernah berhutang tanpa sepengetahuannya.
"Kepada orang tuaku."

"Kapan berhutang kepada mereka, Mas? Mengapa selama ini tak pernah mengatakannya?" Marni berbalik dan berusaha memandangi wajah keruh suaminya.

"Aku tidak berhutang uang atau materi apa pun kepada mereka. Aku tak pernah bisa menjenguk mereka bahkan tak pernah berhasil mengenalkan kalian, anak dan istri yang telah kumiliki lebih dari sepuluh tahun. Maafkan aku, Marni!" Sam menggamit pundak Marni lalu memeluknya erat.

Tanpa disadari ada tetesan air jatuh di pundak Marni. Merasakan tetesan hangat di pundaknya, Marni pun tak kuasa membendung air mata.
"Mas, jika sampeyan mau pulang untuk menjenguk orang tua, pulanglah. Mumpung mereka masih hidup. Aku dan anak-anak tak usah diajak dulu. Insya Allah, suatu waktu Tuhan memberi rezeki jika menghendaki kami bertemu dengan kedua orang tuamu."

"Tidak, Marni! Jika aku pulang harus membawa serta kalian. Kita sekeluarga, Marni."

"Tapi, untuk sekarang tidak mungkin, Mas! Uang kita tidak mencukupi untuk membiayai perjalanan pergi dan pulang. Kalau Mas Sam saja, insya Allah cukup." Marni berusaha menenangkan Sam yang masih menunduk.

"Aku tahu, Mas. Sampeyan terpengaruh orang-orang yang ingin mudik pada lebaran haji nanti. Orang-orang yang Lebaran lalu tak bisa mudik, ingin mudik pada Idul Adha besok untuk berkumpul dengan keluarga besarnya dan berkurban di kampung. Tapi, tidak semua orang dapat mewujudkan keinginannya itu, termasuk kita. Mas harus yakin juga bukan hanya kita yang tak punya kesempatan itu. Kita tak dapat berbuat banyak. Kita hanya orang kecil yang hanya mampu mencari sesuap nasi."

Sam terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Marni. Ia hanya segelintir orang yang tak punya daya untuk banyak berbuat. Dunianya hanya panas matahari dan cucuran keringat.

"Meskipun aku harus pulang sendiri, tetap aku tak punya uang. Kalian di sini kan juga harus makan," kata Sam dengan suara tersekat di kerongkongan.

"Insya Allah, ada, Mas. Aku punya si macan yang lain."
Marni berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian. Tangan kanan perempuan bertubuh kerempeng itu merogoh belakang lemari. Kemudian ia mengangkat patung macan yang sama dengan macan yang ditimang Sam tadi. Senyum Marni mengembang. Ia berjalan dan kembali duduk. Ia menyodorkan benda itu kepada Sam.

"Ini hasil penjualan kompos yang aku buat di belakang rumah, Mas. Insya Allah isinya dapat mencukupi biaya hidup kami selama ditinggal Mas pulang, dan dapat menambah ongkos mudik sampeyan."

Sam terharu. Sejurus ia menatap patung yang sudah diletakkan di atas kasur yang kempes. Ia pegang kepalanya.

"Tidak marni. Ini hasil jerih payahmu. Kaulah yang harus menikmatinya. Pergunakan untuk membeli keperluanmu. Kalau ikhlas membantuku, belikanlah anak-anak pakaian yang layak. Buatlah mereka senang."

"Mas, kita sudah terbiasa menikamati apa yang bisa kita dapatkan dan apa yang ada. Jenguklah orang tua. Belasan tahun Mas meninggalkan mereka, sudah selayaknya mereka ditengok. Aku yakin, bertemu denganmu adalah sebagian dari kebahagiaan mereka juga baktimu kepada mereka." Marni membujuk Sam dengan suara lirih. Sam diam membisu.

Sejak muncul tawaran dari sang istri untuk mudik sendiri, Sam tak henti berpikir. Berbagai pertimbangan bergelut dalam benaknya. Terkadang bulat tekadnya untuk pulang. Terkadang ia menolak mudik tanpa disertai istri dan kedua anaknya. Suara beduk di surau kecil di kampung seakan memanggil-manggilnya. Hari terus berlari melewati angka demi angka di kelender pada dinding kamar Sam. Sam tetap bimbang. Terkadang ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ia benar-benar merasa tolol untuk membuat suatu keputusan.

Menjelang lebaran haji anak-anak merengek pada Marni.
"Mak, kapan membeli baju? Lebaran lalu kan belum beli baju baru. Baju dan seragam sekolah Andi sudah jelek semua. Malu sama teman-teman."
"Bagaimana kalau kalian membeli baju dengan uang tabungan kalian?"
"Maksud Mak, kami memecah si jago dan si babon?" tanya Andi penuh selidik.

Marni mengangguk pelan.
"Kenapa, Mak? Celengan kami, kan belum penuh. Kami masih sayang untuk memecahnya." Santi protes.
"Tolong, kalian mengerti. Bapak ingin pulang ke Jawa menengok Mbah. Jadi kita harus menghemat uang agar Bapak bisa menengok kakek dan nenek." Marni menjelaskan dengan suara pelan setengah berbisik karena takut didengar Sam yang baru pulang kerja dan duduk di beranda.
"Jadi kita mau mudik, Mak? Kita akan naik pesawat atau kapal seperti Jaka?" Tanya Santi polos.

"Bukan kita yang mudik, tapi Bapak!" Andi memotong.
"Ya, Cuma Bapak. Enak Bapak, dong, naik kapal, naik bis besar atau kereta. Kita cuma di rumah saja." Santi kembali protes.
Marni tak enak berdebat di ruang tamu yang berdekatan dengan tempat Sam duduk. Akhirnya ia mencari alasan untuk menjauh dari sana.
"Kalian bisa membantu Mak, enggak?"

"Bantu apa, Mak?" tanya Andi.
"Kita buat keripik pisang, yuk! Nanti kita bungkusi dengan plastik dan kita jual di pasar pagi atau sama tetangga juga bisa. Siapa tahu bisa untuk menambah uang buat beli baju seragam kalian."
"Tapi, aku mau ikut ke Jawa sama Bapak!" Santi masih merengek.
"Makanya harus rajin menabung agar kita bisa menjenguk nenek bareng-bareng lebaran tahun depan, ya!" bujuk Marni sambil menggamit kedua anaknya berjalan menuju dapur.

Pembicaraan anak dan istrinya terdengar samar-samar oleh Sam. Batinnya menjerit. Ulu hatinya sesak seperti diganjal bongkahan batu gunung. Ia berdiri dan berjalan ke kamar. Di sana ia hanya mampu memandangi si macan kembar yang melambangkan tetesan keringat sepasang manusia yang hanya mampu bercita-cita.

Belang

Pagi sudah pergi beberapa jam lampau. Panas meriap di atap rumah kami sembari menanti langkah Inah tergesa-gesa di tepi jalan aspal menuju rumah kami. Daster lusuhnya berkibar-kibar seperti hendak menyapu debu-debu di sekitarnya. Sementara di pojok halaman depan rumah kami, Ibu saya membersihkan tunas-tunas rumput liar yang mengotori sebuah pot kecil berisi kantung semar.

Seperti merasa ada sesuatu, Ibu menoleh ke jalan. Tak lama kemudian Inah muncul di depan pintu pagar. Tumben Inah baru datang jam segini, batin Ibu. Sendirian lagi.

Tapi Ibu pura-pura tidak tahu. Beliau berpaling kembali ke pot kantung semarnya di antara puluhan pot berisi bunga-bunga kesayangannya. Inah masuk seperti biasa. Merogoh kaitan kunci, membuka pintu pagar, lalu mengaitkan kuncinya kembali. Ibu pura-pura kaget seraya menoleh ke pintu pagar. Beliau melihat sosok Inah sekilas. Rambut ikalnya yang dipermak mirip bonsai tampak tidak teratur. Bibirnya menarik garis melengkung ke bawah. Bola matanya merah. Kantung matanya bengkak. Kondisinya semakin jelas ketika ia mendekati ibu.

"Tampangmu kenapa hancur begitu, Nah ?"

"Suntuk memikirkan Belang, Bu. Tadi malam sampai saya tidak bisa tidur. Mana sampai satu bulan ini Abu-abu juga sudah tidak ketahuan raib di mana."

"Pantesan kamu sendirian. Memangnya ke mana dia ?"

"Kalau saya tahu ke mana, ya tidak saya cari, Bu."

Ibu tersenyum saja. Beliau bisa memahami kondisi keseharian Inah yang telah kami kenal sejak setengah tahun menjadi tukang cuci dan setrika orangtua kami untuk paruh waktu, terutama ketika kucing-kucingnya mengalami masalah, semisal hilangnya Abu-abu. Sebenarnya Ibu tahu di mana Abu-abu berada. Menurut kasak-kusuk tetangga, Abu-abu dikarungi goni lalu dibuang oleh tetangga kami yang bekerja sebagai pedagang ikan segar dan ikan asin karena kucing itu kepergok mencuri sepotong ikan asin yang sedang dijemur untuk dijual. Memang, jika Inah lengah karena sibuk mencuci baju kotor sebanyak dua ember besar, Abu-abu sering menyelinap ke halaman belakang rumah tetangga kami itu.

?

Tentang perlakuan penjual ikan itu, bukan cerita baru bagi keluarga kami. Jauh-jauh tahun sebelum Inah pindah ke kampung kami, kucing kami pernah mengalami siksaan yang cukup berat yakni kaki belakangnya dijerat tali hingga nyaris putus. Penyiksanya ya penjual ikan yang genit, yang beristri tiga tapi masih saja suka menggoda gadis-gadis dan ibu-ibu itu. Gara-garanya, ya, mungkin sama. Kami berani menuduh demikian setelah mencium bau anyir ikan di sekujur tubuh kucing kami.

?

Ibu sengaja tidak memberi tahu Inah soal nasib Abu-abu dulu. Sebab, kalau beliau memberi tahu, bisa-bisa Inah memaki orang itu dengan sebutan "Anjing!" lantas ribut dengan tetangganya, dan ngambek beberapa hari, yang berarti pula banyak pakaian kotor Ibu bakal terbengkalai. Bukannya Ibu tidak mau mencuci sendiri karena toh ada mesin cuci di rumah kami, melainkan beliau tidak tega melihat Inah pusing memikirkan ekonomi keluarganya sejak ditinggal kawin lagi oleh suaminya hampir satu tahun ini. Kadangkala Inah membawa anak-anaknya menginap di rumah orangtua kami untuk menemani Ibu karena kami, anak-anaknya, sudah berumah tangga dan tinggal di rumah kami masing-masing yang rata-rata bisa ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum. Sedangkan ayah lebih sering menginap di salah satu rumah kami, bergiliran, tergantung keinginan ayah bila kangen cucu-cucunya yang mana.

Memang cuma kucing-kucing kampung dan berbulu jelek. Sama sekali tidak bergengsi dibanding kucing impor semisal Angora. Tapi Inah sangat menyayangi mereka. Baru dua minggu ini Belang diajak Inah ke rumah kami. Di mana Inah berada, di situ pasti ada Belang.

"Ya sudah, sekarang kamu nyuci sana. Biar tidak numpuk, bikin kamu repot sendiri. Tapi hati-hati nanti nyetrika baju dalamku, Nah. Besok malam mau kupakai untuk latihan dansa."

Inah tidak menyahut. Ia langsung ngeloyor ke belakang lewat jalan samping rumah kami menuju tempat cuci. Ibu saya melanjutkan kegiatannya merawat bunga-bunga. Namun Ibu jadi teringat kelakuan Belang dan Abu-abu dulu. Saking asiknya bersenda gurau dan berkejaran, kedua kucing itu menyenggol guci antik, oleh-oleh dari teman Ibu ketika pulang dari Hongkong. Guci Tiongkok itu sengaja ditaruh Ibu di ruang tamu sebagai pajangan di antara benda-benda bercitra seni dan harga tinggi milik Ibu yang, kata Ibu, diberi oleh beberapa teman fitnesnya sepulang dari luar negeri. Kalau bukan demi kemanusiaan, Inah sudah dipecat !

***

"Mbah, Belang kini sudah bandel."

"Belang atau Abu-abu ?"

"Belang, Mbah. Abu-abu entah di mana. Entah dibuang, dibunuh, diculik atau dimakan orang. Orang jahat, Mbah ! Tidak punya perasaan ! Anjing !"

"Duh, Belang, Belang, ada apa denganmu, Belang ?"

"Belang tidak seperti dulu, Mbah. Susah diatur sejak ditinggal kembarannya."

"Kini seperti apa dia ?"

"Sudah besar, Mbah ! Emmm? sebesar apa ya ?" Inah menoleh ke samping kanan-kirinya. Matanya mengitari ruangan. Ia sedang mencari sesuatu sebesar kucingnya, Belang. Pria tua yang disebutnya "Mbah" itu pun ikut-ikutan mencari.

"Emmm? Nah, segitu itu, Mbah," sambungnya seraya menunjuk botol yang berisi minyak tawon di rak obat. "Tolong ya, Mbah. Saya khawatir sekali pada nasibnya kelak."

Mata orang tua itu langsung terpejam. Serta-merta kulit keriput keningnya berkerut-kerut. Mulutnya komat-kamit, melafalkan mantera-mantera. Inah diam. Ia paham apa yang sedang dilakukan orang tua itu. Tak sampai dua menit, mata orang tua itu terbuka.

"Belang masih berada di sekitar rumahmu. Dia sedang indehoy di rumah pujaan hatinya."

"Dasar gatal ! Kecil-kecil mau kawin !"

"Sabar. Dia pasti pulang dan akan patuh seperti Abu-abu atau kucingmu lainnya. Setelah satu setengah jam perjalanan pulang dari sini nanti, kamu bisa lihat Belang tidur nyenyak di kasurmu. Beri ramuan ini seperti untuk kucing-kucingmu dulu."

"Baik, Mbah. Bermilyar terima kasih !" Wajah Inah cerah. Senyumnya menyeruak lepas. Dibayangkannya Belang seperti Kuning, Hitam, Telon dan kucing-kucing sebelum ada Belang dan Abu-abu; patuh dan manja sejak diberi ramuan dari tua bangka itu. Kemudian ia bermaksud mohon diri sesudah menyelipkan amplop kecil berisi uang di bawah taplak meja.

"Hari belum jam delapan pagi, Nah. Mbah butuh kamu temani. Sebentar saja. Mumpung istri Mbah ke pasar, dan pulang agak siangan," jawab orang tua itu sembari beringsut mendekati duduk Inah di kursi beranyam rotan yang banyak bolongnya. "Kan Inah sudah lama tidak?"

***

Masih pagi. Ceracau sepasang burung gereja melintasi ruang makan rumah Inah.

"Kalian, kan, bisa makan lauk tempe dan minum teh pahit saja ?!" bentak Inah sewaktu ia memergoki anak-anaknya yang sedang menikmati susu dan daging kornet untuk Belang yang telah pulang kemarin siang. "Siapa yang suruh menghabiskan tempe goreng tadi malam ?!"

Dua anaknya yang bersiap untuk berangkat sekolah itu tidak berani menyahut. Keduanya menunduk seakan menyembunyikan wajah pucat mereka. Kecuali wajah si bungsu, yang baru berumur tiga tahun dan asik bermain mobil-mobilan kayu yang kemarin sore dibuatkan oleh si sulung. Kemarahan emak mereka serupa tahun lalu ketika mereka memakan ikan bandeng presto untuk makanan Kuning, Hitam, dan Telon. Mereka juga takut kalau-kalau emak mereka tidak memberi uang jajan selama satu minggu.

"Kalau makan jangan seperti orang yang tidak pernah makan ! Tempe goreng yang biasanya bisa untuk dua hari, malah dihabiskan dalam sekejap malam ! Sarapan pakai lauk apa ?! Kan sudah Emak beri jatah sepotong tempe per orang ?"

***

Meooong ! Meooong !

Inah dikagetkan oleh lolongan kucingnya. Serta-merta ia menghentikan bilasan pakaian kotor Ibu. Bola matanya bergerak mencari tempat asal suara yang dikirimkan langsung dari telinganya. Waduh, Belang terkurung di mana ya ? Gawat ! Inah beranjak.

Belang? Belang? kamu di mana ? Inah bergumam sambil berjingkat-jingkat ke ruang tengah melewati dapur dan ruang makan. Dalam hati ia juga cemas jika suara kucingnya membangunkan Ibu yang tadi, katanya, mau beristirahat sebentar sepulang dari aerobik.

Kamu bandel sih, Lang. Coba kamu tidur saja di dekat aku mencuci. Tapi kasihan juga kamu, Lang, jatah susu dan kornetmu dihabiskan anak-anakku tadi pagi, gumamnya lagi.

Meooong ! Meooooong !

Kucingnya terus melolong seperti sedang ketakutan lantaran diburu-buru sesuatu. Disusul suara benda-benda jatuh bahkan pecah. Inah terus mencari letak suara kucingnya hingga makin jelas berada di kamar tidur tamu yang biasanya dipakai jika ada saudara kami menginap.

Ternyata kamu tersesat di sana. Tunggu, ya, Nak, Mama akan menolongmu?

Ia mendekati pintu kamar itu. Pendengarannya disiapkan lebih tajam agar ia bisa juga mendengar sewaktu-waktu Ibu membuka kamar tidur karena terganggu lolongan Belang. Mudah-mudahan ibu tidak dengar, gumamnya.

Meooong ! Meooooooooooooong !

"Tadi kunci pintunya kamu taruh di mana, Say ?" bisik seorang wanita.

"Bangsat ! Rupanya kucing lonte ini habis nyolong ikan daganganku. Tuh lihat di kolong ranjang, tinggal kepala," sahut seorang pria dengan suara agak jelas. "Awas ya ! Mampus kau !"

"Anjiiiiiiiing, jangan bunuh Belangku !!" teriak Inah sambil sekuat tenaga menggedor-gedor pintu kamar itu. ***

Daan Mogot, 2006

Kukejar Cinta Dengan Sepeda

Kukejar Cinta Dengan Sepeda

Busyet! Sudah tiga hari ini anak baru, pindahan dari SMA 0707 Jakarta itu mengganggu konsentrasiku. Pak Sarjono yang dari tadi susah payah menerangkan perbedaan antara ?simple past' dan ?present perfect' tidak lagi kuperhatikan. Pikiranku tidak bisa lepas dari sosok makhluk manis yang duduk tepat di pojok kanan depan itu. Namanya Retno, Retno Pandanwangi. Tubuh ramping semampai dengan kulit putih mulus dibungkus dengan seragam putih abu-abu. Rambut tersisir rapi, lurus menjuntai sampai ke punggung mengingatkanku pada Titi Kamal dalam sebuah iklan shampoo. Sepasang mata bening nan teduh aman terlindungi kacamata minus yang dengan manisnya nangkring di atas hidung mungil yang bikin gemes. Apalagi barisan rapi gigi putih yang sesekali terlihat di balik bibir tipisnya saat ia tersenyum. Sempurna?., kata Andra and the backbone. Ah, andaikan saja?.

?Wiku, what do you think with Firman's answer??. Tiba-tiba Pak Sarjono menyebut namaku. Sontak aku kaget bukan kepalang, memangnya Si Firman ngejawab apa? Dari pada pusing-pusing, aku langsung aja teriak kenceng-kenceng.

?I agree with him, Sir?

?Good, so what's your reasons?? Pak Sarjono belum puas dengan jawabanku. Terang aja aku kelimpungan dengan pertanyaan itu. Untunglah beliau itu guru yang sangat bijaksana, setidaknya menurutku. Beliau tidak marah, hanya menasehatiku agar tidak melamun di kelas. Alasannya lucu, agar harga BBM tidak naik lagi. Dasar Joko Sembung naik VW?

***

Kulihat Retno sedang asyik menikmati bakso di kantin. Kesempatan ini tidak kubuang sia-sia. Kuambil tempat duduk tepat di hadapan doski. ?Suka bakso juga ya??, sapaku sok akrab. Dia memandangku., mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak bisa bicara karena baru saja memasukkan sebutir penthol besar ke dalam mulutnya.

?Bagaimana dengan bak-bak yang lain??, lanjutku, ?Semisal bak wan, bak mi, bak pao, atau bak truk??. Retno mendelik mendengar pertanyaanku.

?Sableng, elo aja yang makan bak truk!?, semprotnya galak. Tapi dasar sok cuek, dia tetep aja sibuk dengan baksonya. Penthol yang tinggal satu di mangkoknya bergerak lincah kesana-kemari seakan menghindari kejaran garpu di tangannya. Gadis itu sampek ngos-ngosan karena gemes nggak bisa menangkapnya.

?Gimana nih rasanya hidup seminggu di Malang? Kerasan nggak??, aku kembali memancingnya untuk bicara.

?Kerasan sih, cuma kalo malem udara Malang tuh dinginnya minta ampun, laen dengan di Jakarta ?, jelasnya.

?Lho, memang di Jakarta dinginnya minta apa??, tanyaku konyol.

?Au' ah, minta Krisdayanti kalee?, jawabnya ikut-ikutan konyol. Aku sampai terpingkal-pingkal dibuatnya.

***

Singkat cerita, semakin hari aku semakin deket dengan Retno. Tiap pulang sekolah kami selalu jalan bareng. Sampai-sampai, Joni, si Harry Potter mania, terheran-heran dengan keberhasilanku mendekati bunga sekolah itu. Dia bertanya mantra dan jampi-jampi apa yang aku gunakan untuk menaklukkan Retno, soalnya sudah hampir satu bulan dia bakar kemenyan plus mandi kembang tengah malam segala, tapi gadis cantik itu tetep aja nggak mau meliriknya.

Lain lagi dengan cerita Si Jupri. Anak paling culun di sekolahku itu samapek rela masuk rumah sakit hanya untuk mendapatkan perhatian Retno. Ceritanya begini, suatu hari, Jupri naik ke atas sebatang pohon akasia di dekat sekolah. Dia tahu Retno akan lewat di bawah pohon itu. Rencananya pada saat Retno lewat itulah ia akan menjatuhkan dirinya dari atas pohon dengan harapan Retno akan menolongnya. Tapi dasar nasib sedang sial, saat ia menjatuhkan diri, si Retno bukannya malah menolongnya melainkan lari tunggang langgang, karena mengira ada monyet nyasar yang mau menyerangnya. Jupri yang terluka pun ditinggal sendirian. Tragis sekaligus mengenaskan.

Tidak hanya itu saja. Masih banyak cowok-cowok lain yang ingin memperebutkan Retno. Aku sendiri heran kenapa Retno lebih memilih dekat denganku daripada yang lain. Aku sendiri nggak berani bertanya langsung kepadanya. Takut dikira Ge-eR, padahal memang iya.

Siang ini matahari sangat terik. Panas. Aku dan Retno, masih dengan seragam sekolah, asyik menikmati es degan di bawah naungan trembesi raksasa di uung jalan Pahlawan Trip. Pada saat seperti ini aku baru tahu kalo es the gun itu bener-bener mak nyess rasane. Sueger tenan, Rek!

Tiba-tiba HP Retno berbunyi. Segera ia menjauh dan terlibat pembicaraan yang kayaknya serius banget. Tapi itu hanya sebentar. Sejurus kemudian ia mendekatiku dan berkata, ?Wiku, aku harus ke rumah sakit. Ayahku sedang dirawat di sana. Kamu nggak usah nganter, aku bisa jalan sendiri. Thanks atas es degannya, laen kali kita kesini lagi?. Aku sudah tidak sempat bilang apa-apa. Retno segera berlari mencegat taksi. Tapi aku tidak bisa berdiam diri. Aku nggak bisa melanjutkan menikmati es degan sementara orang yang aku sayangi bingung tiga perempat mati (jebih dari setengah mati kan ?) sedang ditimpa kesusahan. Padahal dalam cinta (ciee?) orang yang saling menyayangi harus selalu bersama dalam suka maupun duka, iya tho? Maka akupun mencegat taksi juga. Karena tidak tahu di rumah sakit mana ayah Retno dirawat, aku meminta pak sopir untuk mengikuti kemana saja taksi yang membawa Retno melaju.

Sekitar tiga puluh menit kami menyusuri jalanan kota Malang, tapi taksi yang membawa Retno tak kunjung berhenti. Lavalette mapun Saiful Anwar sudah jauh tertinggal di belakang. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan ayah Retno dirawat di RSJ Lawang. Itu mungkin alasan Retno tidak mengijinkan aku mengantarnya. Kalo memang demikian berarti Retno belum sepenuhnya mengerti bahwa cintaku padanya bener-bener tulus, tidak bisa dipengaruhi oleh apa pun, termasuk kondisi keluarganya. Ceilee?!

Tapi ternyata dugaanku salah. Taksi yang membawanya terus saja melaju ketika melewati Rumah Sakit Jiwa terkenal itu. taksi itu baru berhenti di sebuah hotel. Hah! Hotel?? Kali ini aku mulai berfikir yang engga-enggak. Sengaja aku tidak keluar dari taksi agar Retno tidak mengetahui kehadiranku. Kuliat dia melangkah keluar dari taksinya. Di serambi hotel berdiri seorang pria gendut paruh baya yang rupanya sejak tadi menunggu kedatangan Retno. Retno pun tersenyum melihatnya, bahkan dia akhirnya bergelayut mesra di pundak laki-laki itu ketika memasuki hotel. Aku seperti disambar petir. Berbagai macam perasaan seakan mendidihkan otakku. Marah, benci, kecewa, muak, semuanya campur baur jadi satu. Siapa sangka gadis seimut Retno ternyata gadis panggilan. Gayanya yang lembut dan bikin gemes selama ini ternyata hanya sebuah kedok untuk menutupi kebusukan dirinya. Apa yang sebenarnya dia cari? Uang-kah? Ah, pesetan! Apapun alasannya menjadi pelacur tetap aja memalukan bahkan menjijikkan. Cuiihh!

***

Sejak kejadian hari itu, aku langsung jaga jarak dengan Retno. Wajah gadis itu sudah tidak lagi ngangeni, malah sekarang berubah menjadi sangat memuakkan. Mulanya ia heran merasa aku cuekkin. Tapi akhirnya ia tahu juga bahwa aku telah membuntutinya ke hotel di luar kota itu. Hebatnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda penyesalan di wajahnya. Dasar Walang! (wanita jalang).

Anak-anak di sekolah pun mulai heran dengan gelagatku yang terus menghindar dari Retno. Tapi aku jamin mereka tidak tahu menahu soal kejadian di hotel itu. Meski benci setenagh mati, aku tidak akan membeberkan rahasia Retno pada orang lain. Kasihan.

?Wik, ada apa? Kelihatannya suntuk banget??, tiba-tiba Hidayat sudah duduk di sampingku. ?Lagi putus cinta ya??, lanjutnya. Sejenak kupandangi aktivis Rohis itu. Ia tersenyum menanti jawaban. Wajahnya begitu teduh.

?Aku kecewa, Yat. Sangat kecewa?, jawabku singkat. Entah untuk berapa saat kami kemudian terdiam, sama-sama memandang kosong pada daun-daun akasia yang tertiup semilir angin. Beberapa yang sudah menguning jatuh berguguran membentuk serakan tak beraturan di atas tanah.

?Kita semua pernah kecewa?. Akhirnya Hidayat kembali bersuara. ?Memang begitulah kehidupan, tidak selamanya kita senang terus, iya kan??.

Aku hanya mengangguk kecil. Aku tahu ujung-ujungnya ia akan mengatakan kalo aku harus kembali kepada Allah. Dialah satu-satunya tempat bersandar, begitu ia sering katakan. Aku pun juga tahu bahwa niatnya mendekati aku seperti kali ini hanya lah supaya aku ikut ngaji di Rohis. Tapi aku tidak akan terpengaruh. Tidak! Aku memang menyadari kalo aku tuh jauh banget dari Allah. Sholat aja banyak bolongnya, apalagi baca Al-Qur'an. Ngepil aja aku pernah, walau hanya jarang-jarang. Dan aku pun sepenuhnya sadar kalo itu semua akan dimintai pertanggungjawaban. Aku sebenarnya ingin tobat, tapi itu nanti kalo sudah tua, not now ! Masa muda kan hanya sekali, kapan lagi bisa seneng-seneng? Lagian apa enaknya jadi anak Rohis? Semua serba terkungkung. Apa-apa haram, ini haram, itu haram, wah bete banget dah!

Lihat aja si Anisa, yang sebelum ikut ngaji di Rohis sukanya jawil-jawilan sama Ripa'i, sekarang kalo ngomong sama cowok aja mukanya ditekuk. Persis seorang terdakwa di pengadilan yang sedang diancam hukuman mati. Yang lebih parah ikhwan-ikhwannya (begitu mereka mengistilahkan temen cowok), seakan-akan diwajibkan pelihara jenggot. Habis, nggak ada ikhwan Rohis yang nggak berjenggot. Sampek temen-temen menjuluki mereka sebagai PJM (Persatuan Jenggot Melambai). Maka nggak heran kalo kemudian si Jupri bilang bahwa syarat menjadi anggota Rohis adalah harus punya jenggot minimal lima puluh helai. Awalnya, aku sih percaya aja. Tapi akhirnya terbukti itu hanya bualan si Jupri yang lagi kumat penyakit isengnya. Buktinya si Minto, anggota baru Rohis, jenggotnya nggak lebat-lebat amat, hanya ada lima helai. Ketika aku memberanikan diri bertanya kenapa jenggot lima helai saja usah dipanjangin, dia menjawab itu sunnah Rosul, bukan masalah pantes atau nggak pantes. Tuh kan ? Begitulah anak Rohis, apa-apa musti diukur dengan Qur'an dan Sunnah. padahal sekarang kan bukan jaman unta lagi. Heran deh!

***

Sabtu malam. Aku duduk santai di beranda rumah. Sendirian aku memandangi langit yang begitu cerah, juga bulan purnama yang bersinar terang, ditemani ratusan bintang gemintang yang begitu membingungkan. Lho? Iya, soalnya dari tadi aku mencoba menghitungnya, eh nggak pernah berhasil.

Di atas meja tergeletak sebuah bulletin bernama KIASS. Hidayat memberikannya padaku tadi siang. Judul artikel pertamanya bikin orang penasaran: ?Adakah Pacaran dalam Islam??. Tapi aku sudah tahu jawabannya: pasti tidak ada. Hidayat sering bilang begitu. Mending baca tabloid ?Bola?, waduh David Beckham cedera, sial banget ya dia, wah nggak bisa ikut World Cup tuh dia. Tiba-tiba telpon berdering. Sejurus kemudian?

?Wiku, dari Nak Retno?, panggil ibuku. Ngapain juga Walang itu mencari aku?

?Hallo??

?Hallo, Wiku ya??, suara Retno. Agak ragu-ragu dan terkesan sedikit takut. ?Aku hanya ingin minta maaf telah membuat kamu kecewa, walau aku tahu ini sudah sangat terlambat?, lanjutnya. Aku menarik nafas panjang, menahannya sebentar untuk kemudian kulepaskan pelan-pelan, biar kelihatan seperti di sinetron gitu, he he?

?Sudahlah Retno, aku sedang berusaha melupakan semuanya. Tidak perlu minta maaf karena memang tidak ada yang salah. Aku memang kecewa, tapi aku hanya kecewa pada diri sendiri, yang begitu mudah tertipu oleh penampilan luar seseorang?. Aku diam sejenak untuk memberi kesempatan Retno mencerna apa yang baru saja aku sampaikan. Tiba-tiba terdengar isak tangis. Begitu lirih, hampir tidak terdengar. Beberapa saat kemudian Retno menutup telponnya setelah terlebih dulu mengucapkan selamat malam. Suasana kembali sepi.

Di beranda, kembali aku terdiam sendirian. Malam ini aku ingin merenungkan apa yang telah terjadi dalam hari-hari terakhir. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Kalo dipikir-pikir, aku pun sebenarnya ragu apakah aku ini lebih baik dari pada Retno. Toh aku sendiri tukang berbuat maksiat. Entah sudah berapa ratus sholat wajib yang aku tinggalkan. Padahal kata Hidayat, sholat itu adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan sholat, berarti telah menegakkan agama. Dan barangsiapa meninggalkannya berarti telah merobohkan agama. Juga entah berapa puluh ekstasi yang sudah bersarang diperutku. Belum lagi jemuran tetangga yang dulu pernah aku curi hanya karena iseng. Ah?

***

Esoknya kulihat pemandangan aneh di sekolah. Retno berbincang serius dengan Anisah di serambi mushola. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mata Retno tampak berkaca-kaca. Diam-diam aku bertanya-tanya kenapa dua gadis yang bagai air dan minyak itu tiba-tiba akrab. Bagaimana bisa gadis se-sableng Retno tiba-tiba curhat dengan manusia ?es? itu? Ketemu berapa perkara?

?Yat, Retno mau dijilbabin juga ya sama Anisah??, tanyaku pada Hidayat yang kebetulan lewat. Dia temannya Anisah di Rohis.

?Memangnya nggak boleh??, dia malah balik bertanya.

?Emang Retnonya mau??, kejarku. Hidayat diam menatapku tajam.

?Kalo iya kenapa??. Aku tersentak. Yang bener aja pikirku. Mungkin bagi Hidayat dan Anisah ini tidak terlalu mengejutkan. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya Retno. Dia itu gadis panggilan! Setidaknya seminggu yang lalu.

?Mulai besok Retno akan berjilbab?, bisik Hidayat, ?Kapan kamu menyusul??

?Menyusul pake jilab? Sakit jiwa lo yee??, jawabku sinis.

?Menyusul tobat, maksudnya?. Berbinar mata Hidayat menatapku.

Bel tanda waktu istirahat sudah habis tiba-tiba berbunyi. Anak-anak dengan malas-malasan masuk kembali ke kelas. Aku tidak berbicara apa-apa lagi pada Hidayat.

***

Retno, gadis yan benar-benar misterius. Awal kepindahannya dari SMA 0707 Jakarta membuat heboh anak-anak. Persaingan pun digelar secara terbuka untuk mendapatkan cintanya. Dan pria beruntung yang berhasil memenangkan persaingan sengit itu adalah aku. Namun betapa kagetnya aku ketika tahu bahwa dia adalah wanita penghibur para Om hidung belang. Tapi belum sempat aku tahu alasan dia maelakukan itu semua, tiba-tiba ada kabar bahwa bahwa dia akan segera pake jilbab. Aku sungguh penasaran. Itu lah kenapa saat ini aku berada di sini, di serambi rumah Retno. Aku ingin tahu tentang semuanya. Gadis itu sudah sejak beberapa saat yang lalu duduk di sampingku. Kelihatan begitu anggun dengan pakaian serba abu-abu yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

?Awalnya sih hanya iseng ikutan teman. Tapi akhirnya jadi keterusan?, dia mulai menjelaskan. ?Orang tuaku nggak tau apa-apa. Seperti yang kamu tau, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ketika ayahku pindah tugas ke Malang , sebenarnya aku ingin menyudahi perbuatan laknat itu. Tapi salah satu pelangganku, orang yang kamu lihat di hotel itu, ternyata juga punya bisnis di Malang sini. Jadi kami masih sering bertemu. Itu membuatku sulit untuk lepas dari pekerjaanku ini. Namun, sekitar seminggu yang lalu terdengar kabar bahwa salah seorang temen seprofesiku dulu meninggal dengan sangat mengenaskan. Dia tewas bersama pria yang mem boking nya karena over dosis putaw di kamar hotel?. Retno diam sejenak, menyeka ujung matanya yang kelihatan mulai basah. Aku dengan setia menunggu kalimat-kalimat berikutnya sambil menatap kososng pada sepeda pancal milik pembantuku yang tadi membawaku ke sini.

?Tiba-tiba aku takut, sangat takut bahkan, membayangkan apa yang akan dialami temenku itu di alam kematian. Pasti lah di sana ia menghadapi hal-hal yang sangat berat, sendirian. Dan aku nggak ingin mengalami hal yang sama, Wiku. Nggak ingin?. Retno kembali diam, menarik nafas dalam-dalam.

?Lalu kamu ceritakan semuanya pada Anisah?? tanyaku hati-hati. Ia mengangguk kecil.

?Dia bilang tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tapi itu tidak berarti kita bebas menunda-nundanya. Allah memang Maha Pengampun. Tapi siapa yang menjamin bahwa kita masih hidup esok pagi untuk meminta ampun kepadaNya? Tidak ada.? Kalimat terakhir sebenarnya sudah sering kali kudengar dari Hidayat. Tapi kali ini terasa begitu berbeda. Kalimat itu seperti menghentak-hentak di dada, menginga-ngiang di telinga. Sekonyong-konyong ketakutan yang diceritakan Retno itu menular kepadaku. Ya, ketakutan itu benar-benar menular. Bayangan kematian begitu jelas. Cerita tentang keganasan Munkar dan Nakir tiba-tiba berputar di kepalaku. Aku menjadi begitu gelisah. Sangat gelisah.

?Aku ingin menyudahi semuanya, Wiku?. Itu kalimat terakhirnya sebelum tiba-tiba terdengar gema adzan Ashar dari kejauhan. Kumandangnya juga tidak seperti biasanya. Sumpah mati, kali ini seakan hanya ditujukan kepadaku seorang. Aku jadi ingin sholat. Seandainya Jupri tau, pasti dia tertawa terpingkal-pingkal.

Sesaat kemudian aku sudah berada di keramaian jalan raya, menembus udara sore dengan sepeda pancal. Gema adzan itu masih terus memanggil-manggil. Kukayuh sekuat tenaga supaya cepat sampai di masjid. Aku tak sabar ingin segera sujud pasrah di hadapan Allah, memohon ampun atas segala dosa yang selama ini menenggelamkanku. Aku akan segera tinggalkan hari-hari yang penuh maksiat, walaupun untuk itu aku harus masuk Rohis dan memelihara jenggot. Walaupun harus ditertawakan oleh si culun Jupri dan temen-temen kelas lainnya. Aku nggak peduli.

Ya Allah?aku akan kembali ke jalan-Mu, secepatnya. Lihatlah, sekarang aku sedang mengejar-Mu dengan sepeda.

Perjuangan

PERJUANGANKU LEBIH MUDAH
KARENA MENGUSIR PENJAJAH,
TAPI PERJUANGANMU AKAN LEBIH SULIT
KARENA MELAWAN BANGSAMU SENDIRI

PESAN
BUNG KARNO
KEPADA
MEGAWATI

Doa serdadu sebelum perang

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhan ku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku
malam dan wajahku adalah satu warna
dosa dan nafasku adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan
apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?
sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati Mu
Tuhan ku
erat-erat kugenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

RENDRA

BAIKNYA TUHAN


” BAIKNYA TUHAN ”
Tuhanku Maha Baik
Karunianya..permenit, perdetik
setiap kedipan mata, diantara kedipan mata
bahkan disaat aku tidak mampu menyadarinya


Tuhanku Maha Pengasih
Dia menyentuh yang menyentuh-Nya
Dia menyentuh yang mencoba menyentuh-Nya
Dia menyentuh yang tidak tahu cara menyentuh-Nya
Dia menyentuh yang menghampiri-Nya
Dia menyentuh yang menjauhi-Nya
Dia menyentuh yang meninggalkan-Nya

Tuhanku Maha Pemurah
Dia memberi sebelum diminta
Dia memberi tanpa diminta
Dia memberi sebelum kutahu apa yang akan kuminta
Dia memberi lebih dari sekedar permintaan

Tuhanku Maha Adil
Dia membagi yang genap
Dia membagi yang ganjil
Dia membagi yang tak bisa terbagi

Tuhanku Maha Mendengar
Dia mendengar yang terucap
Dia mendengar yang tak terucap
Dia mendengar yang tersirat
Dia mendengar isyarat
Dia mendengar teriakan
Dia mendengar bisikan
Dia mendengar yang tak terdengar

Tuhanku Maha Melihat
Dia melihat yang terang
Dia melihat yang gelap
Dia melihat yang samar
Dia melihat yang kasat
Dia melihat yang ghaib
Dia melihat kejadian
Dia melihat rencana

Tuhanku Maha Bijak
Dia memahami kelemahan
Dia memahami ketidaktahuan
Dia memahami keterbelakangan
Dia memahami kekhilafan
Dia memahami kebodohan
Dia memahami kealpaan

Tuhanku Maha Pemaaf
Dia memaafkan yang besar
Dia memaafkan yang kecil
Dia memaafkan yang khilaf
Dia memaafkan yang lupa
Dia memaafkan yang sengaja
Dia memaafkan yang yang tidak sengaja

Tuhanku Maha Pengampun
Dia mengampuni yang berdosa
Dia mengampuni yang lalu
Dia mengampuni yang kini
Dia mengampuni yang nanti
Dia mengampuni yang terbetik
Dia mengampuni yang terjadi
Dia mengampuni yang tak sempat terjadi

Tuhanku Maha Penyayang
Dia menyayangi yang menyembah-Nya
Dia menyayangi yang tidak menyembah-Nya
Dia menyayangi yang tidak tahu cara menyembah-Nya
Dia menyayangi yang ta’at
Dia menyayangi yang menentang
Dia menyayangi yang berbaik sangka pada takdir-Nya
Dia menyayangi yang berburuk sangka pada takdir-Nya

Tuhanku Maha Sabar
Dia memandang lembut yang nista
Dia memanggil halus yang berdosa
Dia menunggu taubat yang durhaka
Dia memberi rizqi yang sombong
Dia menerima sesal yang khilaf
Dia menerangi jalan yang sesat

Tuhanku Maha Baik
kata baik tak kan pernah mampu memaknai kebaikan-Nya

Pantai Indah Kapuk Penuh KKN

PIK adalah salah satu proyek KKN nya Soeharto pada masa kekuasaan Soeharto
dulu dengan operator dari Pemerintah adalah Menteri kehutanan waktu itu
yaitu Hasrul Harahap,Gubernur Jakarta Soeprapto dan Wiyogo,Walikota Jkt
Utr Koestamto dan Moeladi.Sedangkan dari konglomeratnya adalah
Liem,Tutut,Sudwikatmono,Ciputra.

Tol Sedyatmo yang dibangun 1980 itu sangat dibanggakan pada waktu itu
karena konstruksi uniknya yang membelah hutan bakau /rawa pantai Utara
Jakarta hanya bisa dibanggakan beberapa tahun saja. Kemudian karena
kelihaian perang informasi dari PIK yang dibangun kemudian diatas
1990,melalui jalur2 kekuasaan ,memutarbalikkan opini menjadikan toll itu
(milik Pemerintah/negara/Jasa marga) bulan2 an penyebab banjir dikawasan
itu sehingga beban biaya mengatasi banjir disana menjadi beban Negara
hingga sekarang.

Sejak awal,pembangunan PIK itu sangat mengundang kontroversial antara para
ahli lingkungan,banjir, perkotaan disatu pihak dengan operator kelompok
kepentingan diatas.Penyusunan AMDAL proyek ini oleh pemerintah Jakarta
penuh dengan rekayasa,yang pada awalnya cukup melindungi kawasan hutan
lindung ini,hingga ahirnya dengan mengganti2 penyusun AMDAL hingga
beberapa kali,melalui proses tekanan kekuasaan politik dan wang,ahirnya
melindungi bisnis konglomerat itu.

Rencana tata Ruang Jakarta yang menyatakan kawasan 1000 HA itu adalah
kawasan hutan lindung diobrak abrik kekuasaan menjadi kawasan hutan beton.

Kawasan Hutan milik Dept.kehutanan yang berlokasi di Jakarta yang
berfungsi sebagai paru2 kota (yang dilindungi UU karena berupa hutan
lindung) dibumi hangus dan sebagai penggantinya,oleh Hasrul Harahap paru2
kota untuk Jakarta ditempatkan diluar Jakarta yaitu hutan milik Jawa Barat
(yang tadinya sebenarnya kawasan hutan Jawa Barat) disekitar Sukabumi dan
pulau di kepulauan Seribu yang tadinya memang pulau hutan yang diterimanya
dari "para konglomerat". Kepemilikan konglomerat atas hutan di Jawa Barat
dan kepulauan Seribu itu sangat diragukan oleh berbagai pihak pada waktu
itu,dan perlu diteliti kembali sekarang ini.

Tukar guling hutan antara Dept.Kehutanan dengan para konglomerat itru
sangat sarat akan KKN.

Masalah banjir dikawasan ini sekarang ini bukan lagi masalah PIK tapi
sudah menjadi masalah negara /pemerintah dan PIK aman dari tuntutan
pengrusakan lingkungan .Kawasan Selatan PIK yaitu Cengkareng termasuk
kawasan bandara dalam beberapa tahun lagi akan menjadi kawasan sangat
rawan banjir dan akan menjadi kawasan yang penuh dengan genangan2 pada
musim kemarau.

Proyek Pantura Jakarta (Pantai Utara Jakarta) sepanjang kira2 20 KM
dipantai Utara Jakarta seluas kira2 4000 HA yang kebetulan sekarang ini
terhenti karena krisis ekonomi ,tidak berbeda dengan PIK ini adalah proyek
yang sangat kontroversial (antara para ahli perkotaan,banjir dan
lingkungan disatu pihak dan para konglomerat2 dipihak lain) yang akan
membuat kawasan sebelah Selatannya akan menjadi empang2 dan waduk bila
benar2 dilaksanakan. Penetapan proyek Pantura di Jakarta ini tanpa melalui
UU,hanya didasarkan pada Kepres yang penuh dengan rekayasa dan KKN dengan
operator2nya para konglomerat dan Putra Putri Penguasa waktu itu dan
pemerintah Jakarta.Tidak ada yang dapat menghambat rencana proyek itu pada
waktu itu. Terdapat seorang pejabat Jakarta yang ikut bertanggungjawab
dibidang tata ruang menyuarakan para ahli lingkungan,ahli perkotaan dan
ahli banjir pada waktu itu,yang tanpa ampun diberangus dan dikotakkan,dan
yang menggantikannya yang loyal kepada Suryadi (Gubernur waktu itu) dan
konglomerat itu sekarang menjadi salah satu wakil gubernur di Jakarta.

KKN itu demikian mendekati sempurna dimana untuk perlindungan akan proyek
PIK,Pantura itu dan proyek KKN lainnya di Jakarta,maka Rencana Tata Ruang
Jakarta yang seharusnya berahir 2005 yad,dengan KKN dengan DPRD Jakarta
dan Depdagri pada 1997 (sebelum Suryadi habis masa jabatannya sebagai
Gubernur ) dimana Soeharto masih berkuasa,menggantinya dengan Rencana Tata
Ruang Jakarta 2000 s/d 2010.

Untuk tidak membiarkan Jakarta semakin lama semakin tenggelam,lebih2 pada
musih penghujan,baik oleh kesalahan2 pembangunan kota yang melanggar
Rencana Tata Ruangnya,hingga ruang penampung/penyerap air semakin
kecil/penurunan permukaan tanah karena beban yang melewati batas
,penyedotan air tanah yang berlebihan,hingga mengakibatkan penurunan
permukaan tanah juga dan air kiriman 13 sungai dari hulu/Bogor yang
melalui Jakarta yang tiap tahun semakin besar karena penggundulan2
disana,maka Pemerintah Megawati dan Pemerintah Daerah perlu membenahi
ketentuan2 dan peraturan2 yang penuh dengan KKN dan rekayasa itu.

kelana

Andai Ku Tak Sendiri


Andai Ku Tak Sendiri

Ku tahu bahaya ada di depan?
Ku tahu musuh menerjang?
Ku tahu banyak yang bilang jangan?
Tapi ku tak ingin berpangku tangan?

Janganlah bimbang diriku?
Jalan masih lurus di depan?
Jangan goncang tubuhku?
Meskipun dingin menusuk tulang?

Sisi kiri dan kanan yang gelap?
Tak dapat kuterka apa?
Pandanganku hanya ada?
Menatap gerombolan di sana?

Kenapa kawanku masih terlelap?
Tak ingin peduli?
Masa depan yang ada di hadapan?

Mungkin aku hanya bisa?
Berdoa menatap masa?
Kucoba serukan mereka?
Tuk turut berusaha?

Andai ku tak sendiri?
Melangkah maju tak kenal hari?
Ayo kawan mari berlari?
Mengubah masa depan?

aza

Mereka mengaku

Mereka mengaku

Mereka mengaku sebagai anak-anak-Mu
Tapi mereka tidak mengenal-Mu
Mereka mengaku sebagai ahliwaris-Mu
Tapi mereka tidak berpegang pada firman-Mu
Mereka mengaku darahnya adalah bagian dari darah-Mu
Tapi mereka lebih mengutamakan duniawi
Mereka mengaku sebagai ummat-Mu
Tapi mereka hidup dalam belenggu dosa

Mereka mengaku Engkaulah maha pemurah dan pengampun
Tapi mereka gemar menyeru fitnah, perang dengan sesamanya
dan berseteru
Mereka mengaku engkau sebagai Bapa
Tapi mereka tidak mencari-Mu
Mereka mengaku sebagai anak-anak-Mu
Tapi mereka tidak patuh terhadap perkataan-Mu

Mereka mengaku engkaulah sebagai Allah
Tapi mereka berimam pada selain-Mu
Mereka mengaku Engkaulah kota ilmu itu
Tapi mereka enggan untuk mengaku
Mereka mengaku Allah
Tapi mereka percaya atas dirinya sendiri
Mereka mengaku mencintai-Mu
Tapai mereka tidak peduli dengan sekitarnya

Mereka mengaku Engkau rela berkorban untuk dirinya
untuk menebus dosa-dosanya
Tapi mereka tidak pernah mau berkorban sedikit pun
Mereka mengaku hatinya adalah bagian dari hati-Mu
Tapi mereka tidak berduka atas duka-Mu
Mereka mengaku mencintai-Mu,
Tapi kesenanggan duniawi lebih penting bagi mereka
Ketimbang hidup dalam kekudusan-Mu

Mereka mengaku sabda-Mu adalah wahyu
Tapi katanya ada yang tidak perlu
Mereka mengaku Engkau mengajarkan iman adalah perbuatan nyata
Bagi mereka, semuanya cukup hanya dengan bicara
Mereka mengaku merindukan bertemu dengan-Mu
Tapi mereka tidak malu akan perbuatannya kalau seperti itu

Mereka mengaku, mengaku dan mengaku
Tetapi pada akhirnya mereka tidak tahu
Apa yang telah mereka perbuat ?

Ampuni kami ya Allah, maafkan kami ya Allah
Manusia yang penuh dengan dosa
Tapi kami yakin Engkau maha pengampun dan maha penyanyang

Kata-kata yang membawa keberuntungan

Ita baru masuk SMU, masa-masa pubernya bikin dia centil dan suka ngerjain
orang. Kali ini dia dapet kata-kata baru buat ngerjain orang.
Hari pertama, dia nelepon temannya :
"Rin, gue udah tau semuanya !"
"Hah.." Suara disana terdengar lemas."Ta, elu jangan bilang Indri kalo gue
jalan sama cowoknya ya Ta. Gue ada voucher makan di HokBen, elu jangan
bilang-bilang yah. Sori gue cuma bisa ngasih itu doang."
"Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue."

Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak girang.
"Wah oke juga nih, gue dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi."
Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung bicara pelan didekat kuping
kakaknya yang lagi tiduran.
"Wa, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya Wa." Dewa langsung bangun,
mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita.
"Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue kasih bensinnya. TApi
jangan bilang Papi kalo gue nge-gele yah !!!"
"BEres. "

Ita benar-benar girang, kali ini dia mencegat Papinya yang baru pulang
kerja.
"Pah,." Ita mengejar Papinya yang cuek bebek
"Pah, Ita mau ngomong."
"Ada apa sih Ta ?!! Papa capek nih."
"Ita udah tau semuanya Pah..." Mendadak PApanya celingukan,
mengeluarkan HP dan menelepon seseorang
"Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi. Tapi !!! Jangan pernah
bilang Mama soal si Ijah."
Ita girang campur sebel. Ternyata Papanya menduakan Mama cuma demi
pembantunya si Ijah
Ita langsung berlari tanpa sepatah katapun

Diluar,
Ita bertemu Pak Udi, sopirnya yang sudah belasan tahun bekerja dirumahnya.
Ita mulai usil lagi. Dia kesal juga, pasti dia tau soal si Ijah, tapi
bungkam selama ini, gue kerjain juga nih, pikirnya.
"Pak !!!" Ita benar-benar membuat kaget sopirnya "Saya sudah tau
semuanya."
Pak Udi terbengong, dan perlahan meneteskan airmata. Ita malah bingung.
"Ita !!! Peluklah Bapakmu ini Sayang. Akhirnya kau tahu juga Nak !"

dikala resah

maap banget kalo cinta itu ternyata menyusahkan mu…
maap kalo cinta itu banyak menuntut..
maap kalo cinta itu minta dimengerti..
maap kalo cinta ingin merasa dibutuhkan
maap kalo cinta membuat mu menjadi bingung..
maap kalo cinta membuat mu pusing..

cinta cuma butuh apa yang kamu butuh dari nya..
cinta juga butuh apa yang kamu rela bagi dengannya..

dikala resah dan gundah melanda….cinta kan slalu ada buat mu…karna kamu telah menjadi bagian dari cinta itu…

yang cinta mau….

hanya ketulusan mu…
tuk memberi dan menerima kehadirannya…dan mengerti dia..
maka ia akan memberimu lebih…
karna cinta tulus untuk mu…

maafkan cinta mu ini…

yang cinta mau…

peduli mu akan kehadirannya
bahagia mu akan dia
senyum mu akan tawa nya

yang cinta mau…

kamu ada di sisinya.

cintamu….

ketika kita dalam....

Ketika kita menemukan seseorang yang keunikan nya sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh dalam suatu keanehan yang serupa. Inilah yang dinamakan CINTA. Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan.

CINTA sebenar nya adalah ketika kamu menitikkan
air mata dan masih perduli terhadap nya, adalah
ketika dia tidak memperdulikan kamu dan kamu
masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata aku turut
berbahagia untukmu

Apabila cinta tidak bertemu,bebaskan dirimu .

Biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi, kau
mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya.

Tapi ketika Cinta itu mati, kamu tidak perlu mati
bersama Cinta tersebut.

Orang yang berbahagia bukanlah mereka yang
selalu mendapatkan keiginannya, melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh.

Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri dan
menyadari bahwa penyesalan tidak seharus nya
ada.

CINTA mu akan tetap di hatinya, sebagai
penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup yang
telah kau buat.

Teman sejatimengerti ketika kamu berkata aku
lupa. Menunggu selamanya ketika kamu berkata tunggu sebentar.

Tetap tinggal ketika kamu berkata tinggalkan aku
sendiri. Membukakan pintu meski kamu belum mengetuk
dan belum berkata bolehkah aku masuk?…

Mencintai juga bukanlah bagaimana kamu melupakan
dia, melainkan bila ia berbuat kesalahan dan
bagaimana caramu untuk memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.

Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa.

Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Lebih menyakitkan menangis didalam hati dari
pada menangis tesedu atau mengadu.

Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air
mata yang tersembunyi menggoreskan luka
dihatimu yang tidak pernah hilang.

Sayang, dalam cinta kita sangat jarang perduli.
Tetapi ketika Cinta itu tulus, meskipun kau
acuhkan Cinta tetap mulia dan kamu seharusnya
berbahagia, hatimu dapat mencintai seseorang
yang kamu cinta.

Mungkin akan ada saatnya kamu harus berhenti
mencintai seseorang bukan karena orang itu
berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
bila kita melepaskan nya

Kadang kala, orang yang paling mencintaimu
adalah orang yang tidak pernah menyatakan cintanya padamu namun tetap memperhatikan mu selalu.

Karena dia takut kau berpaling dan memberikan
jarak terhadap nya dan bila suatu saat nanti kau
akan menyadari ia adalah cinta yang tidak kamu
sadari

Senin, 01 Desember 2008

Malekat Cinta

Malekat Cinta

Bersayapkan fajar nan cerah
Berbingkaikan ketulusan nan agung
Melangkah mengitari jagad
Berselempangkan sang waktu nan pasti

Malekat Cinta…
Memeluk dan merenggut tiap hati
Yang terbuai dalam pesona insani
Memboyong pergi dalam nestapa
Tiap serpihan jiwa yang luluh dan
Menggendong dalam rencah tawa ria
Tiap pijaran nurani
Yang tengah mekar ditempah fajar kasih

Malekat Cinta…
Lambang keagungan sebuah ketulusan
Yang lahir dari bening jiwa insan pencinta
Ia adalah tawa dari tiap kelahiran
Dan arti dari rahasia kematian

Malekat Cinta…
Mengalirlah, terbanglah, dan datanglah…
Kunjungi tiap hati insan manusia
Yang kini letih dalam ziarah hidup
Sebab dalam genggamanmu
Ada cinta nan Agung