Selasa, 16 Desember 2008

Selamat datang cinta

Hatiku terbalut dengan tirai buatan cintamu!
Ketika terbang terikat bersma senyummu!
Meski jauh, namun tetap yakin akan masa indahku!
Perlhan kutarik bayangmu, berbisik lembut di telingamu,
Semoga di penghjung Tahun Baru ini cintamu tetap ada,
Selamat tinggal keluh kesah di Tahun yang lalu,
mari kita berdua menyongsong cinta yang baru,
Selamat datang Tahun Baru, selamat datang hari baru, selamat datang ooh selamat datang

Terima kasih

Telah lama ku intai bayangmu
Namun tidak pernah kau tahu akan kehadiranku
Dari hari ke hari
CINTA ku mulai berputik buatmu

Kucuba usir rasa ini
Namun
Siapalah diriku ini untuk menolak
Kehadiran CINTA di dalam hati ini

dan..

Tanpa aku sedari
Kau jua mengintai bayanganku
Mengharap akan kehadiranku
Tiap waktu

Ku luahkan padamu
Rasa CINTAku
Yang telah terpendam lama
Jauh nun di sudut hatiku
Apakah kau jua merasakannya??
Ya!
Terima kasih teman!!

Terima kasih
Kerana sudi menyirami cintaku yang tandus
Kerana sudi membajai p0hon kasih
Kerana sudi mengisi kek0songan hatiku
Kerana sudi berk0ngsi suka dan duka bersama ku

Dan terima kasih..
Kerana sudi menCINTAiku…

Ainaa Shahirah Mohd Munizam

Ia

Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa
lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.

Hiduplah sesuka hatimu

Hiduplah sesuka hatimu,
Sesungguhnya kamu pasti mati…

Cintai siapa saja yang kamu senangi,
Sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya…

Lakukan apa saja yang kamu kehendaki,
Sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya ….

Kamis, 11 Desember 2008

Kabaikan hati

Kabaikan hati

Hati kita akan merasa damai ketika kita bisa memaafkan,
bukan menghakimi.

Sebuah nilai

Sebuah nilai

Kita cenderung menilai kesuksesan dari jumlah penghasilan kita atau ukuran mobil-mobil kita,
bukan dari kualitas layanan dan hubungan kita dengan sesama manusia,
dan barang siapa menebar benih kebaikan akan menikmati panen abadi.

Selasa, 09 Desember 2008

Petunjuk jalan ke masadepan

Petunjuk jalan ke masadepan

Ketika hati aku ragu akan arti hidup dan masa depan yang terbentang luas, apa makna dari kehiduan itu tanyaku?
Kehidupan itu ditandai dengan gerak.
Setiap yang bergerak disebut hidup, entah dalam tingkat yang sederhana maupun canggih.
Setiap gerakan hidup selalu memiliki tujuan masa depan.
Akan tetapi sering pergerakan hidup itu tidak mencapai tujuannya.
Kadang di tangah perjalanan, gerakan itu menyimpang dari arah yang dituju.
Kadang pula ia menghadapi kendala dan tantangan yang menghaap lajunya gerakan hidup.
Tidak mengherankan, ika gerakan itu lambat, malahan ia dapat mati; atau kadang perjalanan hidup itu menghadapi kegelapan, lalu tujuan hidup menjadi tak terlihat jelas.
Inti persoalanya: adakah petunjuk jalan atau terang yang dapat menuntun gerakan hidup manusia ke tujuan akhirnya?
semua orang pasti bilang so pasti ada jalan untuk itu semua, tetapi tidak seorangpun dapat menolong sesamanya, ketika mengalami gelombang hidup pasang surut.
Badai kehidupan tidak dapat ditenangkan siapapun,malahan dalam badai itu bahterah hidup dapat saja karam, harapan akan kebahagian masa depan mungkin hilang, disebabkan patahnya semangat hidup.
Namun setiap orang yang mengandalkan TUHAN tidak akan sia-sia Ia akan senantiasa memberikan pertolongan bagi yang membutuhkanNYA tanpa membedahkan siapa kita dalam menentukan perjalan masa depan kita semua.

Senin, 08 Desember 2008

Ketuk Palu

Ketuk Palu

Ruangan yang panas dibalut keringat dan bau tak sedap
mendadak menjadi dingin ketika dia memulai
Tabungan ketenangan dan senyuman ramah
seketika pecah berserak tak tentu arah

Ada yang mencaci, ada yang membela
"Aku menuntut hak, tempatmu di neraka!"
Tanpa sadar mereka melupakan kewajiban
memaklumi kesalahan dengan memaafkan

Hei, lihat itu sang ksatria
bukan penegakkan keadilan di mulutnya
tapi penuhnya kantung culas dengan uang
Dan yah, tentunya ada campuran kepentingan juga

Adalagi mereka sang pekerja
memutar kepala kemudian berteriak-teriak
"Pemutus Keadilan!, kapan kami bisa hidup dengan
tenang?"
"Liat keadaan kami, kami juga punya anak isteri!!"

Jarum pendek pun bergeser cepat
Waktu diakhiri dengan tiga ketukan "Tok,Tok,Tok"
seketika itu juga kami pulang
dengan senyum kecut terpampang.

Wajah Mu membayang

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhan ku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku
malam dan wajahku adalah satu warna
dosa dan nafasku adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan
apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?
sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati Mu
Tuhan ku
erat-erat kugenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Rabu, 03 Desember 2008

Tabungan Orang Kecil

Sam menimang-nimang patung macan yang tengahnya kopong. Lelaki bertubuh jangkung itu sedang mencoba menaksir jumlah recehan yang ia cemplungkan setiap mendapatkannya dari warung saat belanja.

"Mau diapakan si macan, Mas? Katanya tidak mau membolonginya kalau belum penuh." Suara Marni mengejutkan sang suami yang masih asyik dengan binatang tanahnya.

"Ah, tidak diapa-apakan. Aku cuma iseng kepingin menaksir jumlah isi perutnya."

Marni tersenyum tipis sekilas. Di dadanya mendadak ada rasa perih melintas. Suaminya berjuang keras setiap hari sebagai petugas kebersihan kota. Habis salat Subuh sudah mulai mengayunkan sapu lidi di jalan. Jika ada keramaian, pekerjaan Sam akan bertambah karena limpahan sampah akan membanjiri jalan.

Perlahan Sam meletakkan patung macan duduknya di atas bupet kepala tempat tidur kayu model lama. Ia mundur beberapa jengkal dan dengan hati-hati meletakkan pantatnya di pingir dipan.

Mata Sam berpindah pada kalender yang menempel pada dinding kamar yang catnya sudah pudar. Gambar bunga sakura dengan latar langit biru ditatapnya lekat-lekat. Namun yang ada di benak lelaki itu bukan Fujiyama, tapi hamparan hijau persawahan di desanya.

Ada ayah dan ibunya yang tua keriput dan bermata lelah di desa. Ibunya tiap hari mengangkut kayu bakar yang dikumpulkannya di hutan pinggir sawah. Punggung ayahnya pun sarat bawaan, rumput untuk makanan kambing.

"Ah! Seperti apa nasib orang tuaku sekarang? Tak ada yang mau mengirim kabar padaku. Mungkin saudara-saudaku juga sibuk atau mungkin marah dan benci padaku, karena lama tak menjenguk ayah dan ibu."

Sam merasa telah menjadi pecundang di perantauan. Ia telah menikahi seorang perempuan dan hingga belasan tahun belum pernah perempuan itu kenal mertuanya. Marni, perempuan Jawa yang nrimo, telah melahirkan dua anak. Dan, kedua itu anaknya pun belum pernah bertemu nenek dan kakeknya.

"Ada apa, Mas? Sepertinya kau sangat bersedih!" Marni yang kembali muncul di kamar melihat Sam yang sedang mematung di depan kalender.
"Tidak ada apa-apa, Marni," Kilah Sam pendek.

"Tadi Mas memegangi si macan, sekarang memandingi kalender dan tampak sangat bersedih. Ada masalah? Atau sampeyan punya hutang yang harus dilunasi?" Marni terus mendesak.

"Ya, aku punya hutang!" Sam kembali duduk di tepi dipan disusul Marni duduk di sampingnya.

"Hutang kepada siapa, Mas? Hutang untuk apa?" Marni cemas karena selama ini Sam tak pernah berhutang tanpa sepengetahuannya.
"Kepada orang tuaku."

"Kapan berhutang kepada mereka, Mas? Mengapa selama ini tak pernah mengatakannya?" Marni berbalik dan berusaha memandangi wajah keruh suaminya.

"Aku tidak berhutang uang atau materi apa pun kepada mereka. Aku tak pernah bisa menjenguk mereka bahkan tak pernah berhasil mengenalkan kalian, anak dan istri yang telah kumiliki lebih dari sepuluh tahun. Maafkan aku, Marni!" Sam menggamit pundak Marni lalu memeluknya erat.

Tanpa disadari ada tetesan air jatuh di pundak Marni. Merasakan tetesan hangat di pundaknya, Marni pun tak kuasa membendung air mata.
"Mas, jika sampeyan mau pulang untuk menjenguk orang tua, pulanglah. Mumpung mereka masih hidup. Aku dan anak-anak tak usah diajak dulu. Insya Allah, suatu waktu Tuhan memberi rezeki jika menghendaki kami bertemu dengan kedua orang tuamu."

"Tidak, Marni! Jika aku pulang harus membawa serta kalian. Kita sekeluarga, Marni."

"Tapi, untuk sekarang tidak mungkin, Mas! Uang kita tidak mencukupi untuk membiayai perjalanan pergi dan pulang. Kalau Mas Sam saja, insya Allah cukup." Marni berusaha menenangkan Sam yang masih menunduk.

"Aku tahu, Mas. Sampeyan terpengaruh orang-orang yang ingin mudik pada lebaran haji nanti. Orang-orang yang Lebaran lalu tak bisa mudik, ingin mudik pada Idul Adha besok untuk berkumpul dengan keluarga besarnya dan berkurban di kampung. Tapi, tidak semua orang dapat mewujudkan keinginannya itu, termasuk kita. Mas harus yakin juga bukan hanya kita yang tak punya kesempatan itu. Kita tak dapat berbuat banyak. Kita hanya orang kecil yang hanya mampu mencari sesuap nasi."

Sam terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Marni. Ia hanya segelintir orang yang tak punya daya untuk banyak berbuat. Dunianya hanya panas matahari dan cucuran keringat.

"Meskipun aku harus pulang sendiri, tetap aku tak punya uang. Kalian di sini kan juga harus makan," kata Sam dengan suara tersekat di kerongkongan.

"Insya Allah, ada, Mas. Aku punya si macan yang lain."
Marni berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian. Tangan kanan perempuan bertubuh kerempeng itu merogoh belakang lemari. Kemudian ia mengangkat patung macan yang sama dengan macan yang ditimang Sam tadi. Senyum Marni mengembang. Ia berjalan dan kembali duduk. Ia menyodorkan benda itu kepada Sam.

"Ini hasil penjualan kompos yang aku buat di belakang rumah, Mas. Insya Allah isinya dapat mencukupi biaya hidup kami selama ditinggal Mas pulang, dan dapat menambah ongkos mudik sampeyan."

Sam terharu. Sejurus ia menatap patung yang sudah diletakkan di atas kasur yang kempes. Ia pegang kepalanya.

"Tidak marni. Ini hasil jerih payahmu. Kaulah yang harus menikmatinya. Pergunakan untuk membeli keperluanmu. Kalau ikhlas membantuku, belikanlah anak-anak pakaian yang layak. Buatlah mereka senang."

"Mas, kita sudah terbiasa menikamati apa yang bisa kita dapatkan dan apa yang ada. Jenguklah orang tua. Belasan tahun Mas meninggalkan mereka, sudah selayaknya mereka ditengok. Aku yakin, bertemu denganmu adalah sebagian dari kebahagiaan mereka juga baktimu kepada mereka." Marni membujuk Sam dengan suara lirih. Sam diam membisu.

Sejak muncul tawaran dari sang istri untuk mudik sendiri, Sam tak henti berpikir. Berbagai pertimbangan bergelut dalam benaknya. Terkadang bulat tekadnya untuk pulang. Terkadang ia menolak mudik tanpa disertai istri dan kedua anaknya. Suara beduk di surau kecil di kampung seakan memanggil-manggilnya. Hari terus berlari melewati angka demi angka di kelender pada dinding kamar Sam. Sam tetap bimbang. Terkadang ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ia benar-benar merasa tolol untuk membuat suatu keputusan.

Menjelang lebaran haji anak-anak merengek pada Marni.
"Mak, kapan membeli baju? Lebaran lalu kan belum beli baju baru. Baju dan seragam sekolah Andi sudah jelek semua. Malu sama teman-teman."
"Bagaimana kalau kalian membeli baju dengan uang tabungan kalian?"
"Maksud Mak, kami memecah si jago dan si babon?" tanya Andi penuh selidik.

Marni mengangguk pelan.
"Kenapa, Mak? Celengan kami, kan belum penuh. Kami masih sayang untuk memecahnya." Santi protes.
"Tolong, kalian mengerti. Bapak ingin pulang ke Jawa menengok Mbah. Jadi kita harus menghemat uang agar Bapak bisa menengok kakek dan nenek." Marni menjelaskan dengan suara pelan setengah berbisik karena takut didengar Sam yang baru pulang kerja dan duduk di beranda.
"Jadi kita mau mudik, Mak? Kita akan naik pesawat atau kapal seperti Jaka?" Tanya Santi polos.

"Bukan kita yang mudik, tapi Bapak!" Andi memotong.
"Ya, Cuma Bapak. Enak Bapak, dong, naik kapal, naik bis besar atau kereta. Kita cuma di rumah saja." Santi kembali protes.
Marni tak enak berdebat di ruang tamu yang berdekatan dengan tempat Sam duduk. Akhirnya ia mencari alasan untuk menjauh dari sana.
"Kalian bisa membantu Mak, enggak?"

"Bantu apa, Mak?" tanya Andi.
"Kita buat keripik pisang, yuk! Nanti kita bungkusi dengan plastik dan kita jual di pasar pagi atau sama tetangga juga bisa. Siapa tahu bisa untuk menambah uang buat beli baju seragam kalian."
"Tapi, aku mau ikut ke Jawa sama Bapak!" Santi masih merengek.
"Makanya harus rajin menabung agar kita bisa menjenguk nenek bareng-bareng lebaran tahun depan, ya!" bujuk Marni sambil menggamit kedua anaknya berjalan menuju dapur.

Pembicaraan anak dan istrinya terdengar samar-samar oleh Sam. Batinnya menjerit. Ulu hatinya sesak seperti diganjal bongkahan batu gunung. Ia berdiri dan berjalan ke kamar. Di sana ia hanya mampu memandangi si macan kembar yang melambangkan tetesan keringat sepasang manusia yang hanya mampu bercita-cita.

Belang

Pagi sudah pergi beberapa jam lampau. Panas meriap di atap rumah kami sembari menanti langkah Inah tergesa-gesa di tepi jalan aspal menuju rumah kami. Daster lusuhnya berkibar-kibar seperti hendak menyapu debu-debu di sekitarnya. Sementara di pojok halaman depan rumah kami, Ibu saya membersihkan tunas-tunas rumput liar yang mengotori sebuah pot kecil berisi kantung semar.

Seperti merasa ada sesuatu, Ibu menoleh ke jalan. Tak lama kemudian Inah muncul di depan pintu pagar. Tumben Inah baru datang jam segini, batin Ibu. Sendirian lagi.

Tapi Ibu pura-pura tidak tahu. Beliau berpaling kembali ke pot kantung semarnya di antara puluhan pot berisi bunga-bunga kesayangannya. Inah masuk seperti biasa. Merogoh kaitan kunci, membuka pintu pagar, lalu mengaitkan kuncinya kembali. Ibu pura-pura kaget seraya menoleh ke pintu pagar. Beliau melihat sosok Inah sekilas. Rambut ikalnya yang dipermak mirip bonsai tampak tidak teratur. Bibirnya menarik garis melengkung ke bawah. Bola matanya merah. Kantung matanya bengkak. Kondisinya semakin jelas ketika ia mendekati ibu.

"Tampangmu kenapa hancur begitu, Nah ?"

"Suntuk memikirkan Belang, Bu. Tadi malam sampai saya tidak bisa tidur. Mana sampai satu bulan ini Abu-abu juga sudah tidak ketahuan raib di mana."

"Pantesan kamu sendirian. Memangnya ke mana dia ?"

"Kalau saya tahu ke mana, ya tidak saya cari, Bu."

Ibu tersenyum saja. Beliau bisa memahami kondisi keseharian Inah yang telah kami kenal sejak setengah tahun menjadi tukang cuci dan setrika orangtua kami untuk paruh waktu, terutama ketika kucing-kucingnya mengalami masalah, semisal hilangnya Abu-abu. Sebenarnya Ibu tahu di mana Abu-abu berada. Menurut kasak-kusuk tetangga, Abu-abu dikarungi goni lalu dibuang oleh tetangga kami yang bekerja sebagai pedagang ikan segar dan ikan asin karena kucing itu kepergok mencuri sepotong ikan asin yang sedang dijemur untuk dijual. Memang, jika Inah lengah karena sibuk mencuci baju kotor sebanyak dua ember besar, Abu-abu sering menyelinap ke halaman belakang rumah tetangga kami itu.

?

Tentang perlakuan penjual ikan itu, bukan cerita baru bagi keluarga kami. Jauh-jauh tahun sebelum Inah pindah ke kampung kami, kucing kami pernah mengalami siksaan yang cukup berat yakni kaki belakangnya dijerat tali hingga nyaris putus. Penyiksanya ya penjual ikan yang genit, yang beristri tiga tapi masih saja suka menggoda gadis-gadis dan ibu-ibu itu. Gara-garanya, ya, mungkin sama. Kami berani menuduh demikian setelah mencium bau anyir ikan di sekujur tubuh kucing kami.

?

Ibu sengaja tidak memberi tahu Inah soal nasib Abu-abu dulu. Sebab, kalau beliau memberi tahu, bisa-bisa Inah memaki orang itu dengan sebutan "Anjing!" lantas ribut dengan tetangganya, dan ngambek beberapa hari, yang berarti pula banyak pakaian kotor Ibu bakal terbengkalai. Bukannya Ibu tidak mau mencuci sendiri karena toh ada mesin cuci di rumah kami, melainkan beliau tidak tega melihat Inah pusing memikirkan ekonomi keluarganya sejak ditinggal kawin lagi oleh suaminya hampir satu tahun ini. Kadangkala Inah membawa anak-anaknya menginap di rumah orangtua kami untuk menemani Ibu karena kami, anak-anaknya, sudah berumah tangga dan tinggal di rumah kami masing-masing yang rata-rata bisa ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum. Sedangkan ayah lebih sering menginap di salah satu rumah kami, bergiliran, tergantung keinginan ayah bila kangen cucu-cucunya yang mana.

Memang cuma kucing-kucing kampung dan berbulu jelek. Sama sekali tidak bergengsi dibanding kucing impor semisal Angora. Tapi Inah sangat menyayangi mereka. Baru dua minggu ini Belang diajak Inah ke rumah kami. Di mana Inah berada, di situ pasti ada Belang.

"Ya sudah, sekarang kamu nyuci sana. Biar tidak numpuk, bikin kamu repot sendiri. Tapi hati-hati nanti nyetrika baju dalamku, Nah. Besok malam mau kupakai untuk latihan dansa."

Inah tidak menyahut. Ia langsung ngeloyor ke belakang lewat jalan samping rumah kami menuju tempat cuci. Ibu saya melanjutkan kegiatannya merawat bunga-bunga. Namun Ibu jadi teringat kelakuan Belang dan Abu-abu dulu. Saking asiknya bersenda gurau dan berkejaran, kedua kucing itu menyenggol guci antik, oleh-oleh dari teman Ibu ketika pulang dari Hongkong. Guci Tiongkok itu sengaja ditaruh Ibu di ruang tamu sebagai pajangan di antara benda-benda bercitra seni dan harga tinggi milik Ibu yang, kata Ibu, diberi oleh beberapa teman fitnesnya sepulang dari luar negeri. Kalau bukan demi kemanusiaan, Inah sudah dipecat !

***

"Mbah, Belang kini sudah bandel."

"Belang atau Abu-abu ?"

"Belang, Mbah. Abu-abu entah di mana. Entah dibuang, dibunuh, diculik atau dimakan orang. Orang jahat, Mbah ! Tidak punya perasaan ! Anjing !"

"Duh, Belang, Belang, ada apa denganmu, Belang ?"

"Belang tidak seperti dulu, Mbah. Susah diatur sejak ditinggal kembarannya."

"Kini seperti apa dia ?"

"Sudah besar, Mbah ! Emmm? sebesar apa ya ?" Inah menoleh ke samping kanan-kirinya. Matanya mengitari ruangan. Ia sedang mencari sesuatu sebesar kucingnya, Belang. Pria tua yang disebutnya "Mbah" itu pun ikut-ikutan mencari.

"Emmm? Nah, segitu itu, Mbah," sambungnya seraya menunjuk botol yang berisi minyak tawon di rak obat. "Tolong ya, Mbah. Saya khawatir sekali pada nasibnya kelak."

Mata orang tua itu langsung terpejam. Serta-merta kulit keriput keningnya berkerut-kerut. Mulutnya komat-kamit, melafalkan mantera-mantera. Inah diam. Ia paham apa yang sedang dilakukan orang tua itu. Tak sampai dua menit, mata orang tua itu terbuka.

"Belang masih berada di sekitar rumahmu. Dia sedang indehoy di rumah pujaan hatinya."

"Dasar gatal ! Kecil-kecil mau kawin !"

"Sabar. Dia pasti pulang dan akan patuh seperti Abu-abu atau kucingmu lainnya. Setelah satu setengah jam perjalanan pulang dari sini nanti, kamu bisa lihat Belang tidur nyenyak di kasurmu. Beri ramuan ini seperti untuk kucing-kucingmu dulu."

"Baik, Mbah. Bermilyar terima kasih !" Wajah Inah cerah. Senyumnya menyeruak lepas. Dibayangkannya Belang seperti Kuning, Hitam, Telon dan kucing-kucing sebelum ada Belang dan Abu-abu; patuh dan manja sejak diberi ramuan dari tua bangka itu. Kemudian ia bermaksud mohon diri sesudah menyelipkan amplop kecil berisi uang di bawah taplak meja.

"Hari belum jam delapan pagi, Nah. Mbah butuh kamu temani. Sebentar saja. Mumpung istri Mbah ke pasar, dan pulang agak siangan," jawab orang tua itu sembari beringsut mendekati duduk Inah di kursi beranyam rotan yang banyak bolongnya. "Kan Inah sudah lama tidak?"

***

Masih pagi. Ceracau sepasang burung gereja melintasi ruang makan rumah Inah.

"Kalian, kan, bisa makan lauk tempe dan minum teh pahit saja ?!" bentak Inah sewaktu ia memergoki anak-anaknya yang sedang menikmati susu dan daging kornet untuk Belang yang telah pulang kemarin siang. "Siapa yang suruh menghabiskan tempe goreng tadi malam ?!"

Dua anaknya yang bersiap untuk berangkat sekolah itu tidak berani menyahut. Keduanya menunduk seakan menyembunyikan wajah pucat mereka. Kecuali wajah si bungsu, yang baru berumur tiga tahun dan asik bermain mobil-mobilan kayu yang kemarin sore dibuatkan oleh si sulung. Kemarahan emak mereka serupa tahun lalu ketika mereka memakan ikan bandeng presto untuk makanan Kuning, Hitam, dan Telon. Mereka juga takut kalau-kalau emak mereka tidak memberi uang jajan selama satu minggu.

"Kalau makan jangan seperti orang yang tidak pernah makan ! Tempe goreng yang biasanya bisa untuk dua hari, malah dihabiskan dalam sekejap malam ! Sarapan pakai lauk apa ?! Kan sudah Emak beri jatah sepotong tempe per orang ?"

***

Meooong ! Meooong !

Inah dikagetkan oleh lolongan kucingnya. Serta-merta ia menghentikan bilasan pakaian kotor Ibu. Bola matanya bergerak mencari tempat asal suara yang dikirimkan langsung dari telinganya. Waduh, Belang terkurung di mana ya ? Gawat ! Inah beranjak.

Belang? Belang? kamu di mana ? Inah bergumam sambil berjingkat-jingkat ke ruang tengah melewati dapur dan ruang makan. Dalam hati ia juga cemas jika suara kucingnya membangunkan Ibu yang tadi, katanya, mau beristirahat sebentar sepulang dari aerobik.

Kamu bandel sih, Lang. Coba kamu tidur saja di dekat aku mencuci. Tapi kasihan juga kamu, Lang, jatah susu dan kornetmu dihabiskan anak-anakku tadi pagi, gumamnya lagi.

Meooong ! Meooooong !

Kucingnya terus melolong seperti sedang ketakutan lantaran diburu-buru sesuatu. Disusul suara benda-benda jatuh bahkan pecah. Inah terus mencari letak suara kucingnya hingga makin jelas berada di kamar tidur tamu yang biasanya dipakai jika ada saudara kami menginap.

Ternyata kamu tersesat di sana. Tunggu, ya, Nak, Mama akan menolongmu?

Ia mendekati pintu kamar itu. Pendengarannya disiapkan lebih tajam agar ia bisa juga mendengar sewaktu-waktu Ibu membuka kamar tidur karena terganggu lolongan Belang. Mudah-mudahan ibu tidak dengar, gumamnya.

Meooong ! Meooooooooooooong !

"Tadi kunci pintunya kamu taruh di mana, Say ?" bisik seorang wanita.

"Bangsat ! Rupanya kucing lonte ini habis nyolong ikan daganganku. Tuh lihat di kolong ranjang, tinggal kepala," sahut seorang pria dengan suara agak jelas. "Awas ya ! Mampus kau !"

"Anjiiiiiiiing, jangan bunuh Belangku !!" teriak Inah sambil sekuat tenaga menggedor-gedor pintu kamar itu. ***

Daan Mogot, 2006

Kukejar Cinta Dengan Sepeda

Kukejar Cinta Dengan Sepeda

Busyet! Sudah tiga hari ini anak baru, pindahan dari SMA 0707 Jakarta itu mengganggu konsentrasiku. Pak Sarjono yang dari tadi susah payah menerangkan perbedaan antara ?simple past' dan ?present perfect' tidak lagi kuperhatikan. Pikiranku tidak bisa lepas dari sosok makhluk manis yang duduk tepat di pojok kanan depan itu. Namanya Retno, Retno Pandanwangi. Tubuh ramping semampai dengan kulit putih mulus dibungkus dengan seragam putih abu-abu. Rambut tersisir rapi, lurus menjuntai sampai ke punggung mengingatkanku pada Titi Kamal dalam sebuah iklan shampoo. Sepasang mata bening nan teduh aman terlindungi kacamata minus yang dengan manisnya nangkring di atas hidung mungil yang bikin gemes. Apalagi barisan rapi gigi putih yang sesekali terlihat di balik bibir tipisnya saat ia tersenyum. Sempurna?., kata Andra and the backbone. Ah, andaikan saja?.

?Wiku, what do you think with Firman's answer??. Tiba-tiba Pak Sarjono menyebut namaku. Sontak aku kaget bukan kepalang, memangnya Si Firman ngejawab apa? Dari pada pusing-pusing, aku langsung aja teriak kenceng-kenceng.

?I agree with him, Sir?

?Good, so what's your reasons?? Pak Sarjono belum puas dengan jawabanku. Terang aja aku kelimpungan dengan pertanyaan itu. Untunglah beliau itu guru yang sangat bijaksana, setidaknya menurutku. Beliau tidak marah, hanya menasehatiku agar tidak melamun di kelas. Alasannya lucu, agar harga BBM tidak naik lagi. Dasar Joko Sembung naik VW?

***

Kulihat Retno sedang asyik menikmati bakso di kantin. Kesempatan ini tidak kubuang sia-sia. Kuambil tempat duduk tepat di hadapan doski. ?Suka bakso juga ya??, sapaku sok akrab. Dia memandangku., mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak bisa bicara karena baru saja memasukkan sebutir penthol besar ke dalam mulutnya.

?Bagaimana dengan bak-bak yang lain??, lanjutku, ?Semisal bak wan, bak mi, bak pao, atau bak truk??. Retno mendelik mendengar pertanyaanku.

?Sableng, elo aja yang makan bak truk!?, semprotnya galak. Tapi dasar sok cuek, dia tetep aja sibuk dengan baksonya. Penthol yang tinggal satu di mangkoknya bergerak lincah kesana-kemari seakan menghindari kejaran garpu di tangannya. Gadis itu sampek ngos-ngosan karena gemes nggak bisa menangkapnya.

?Gimana nih rasanya hidup seminggu di Malang? Kerasan nggak??, aku kembali memancingnya untuk bicara.

?Kerasan sih, cuma kalo malem udara Malang tuh dinginnya minta ampun, laen dengan di Jakarta ?, jelasnya.

?Lho, memang di Jakarta dinginnya minta apa??, tanyaku konyol.

?Au' ah, minta Krisdayanti kalee?, jawabnya ikut-ikutan konyol. Aku sampai terpingkal-pingkal dibuatnya.

***

Singkat cerita, semakin hari aku semakin deket dengan Retno. Tiap pulang sekolah kami selalu jalan bareng. Sampai-sampai, Joni, si Harry Potter mania, terheran-heran dengan keberhasilanku mendekati bunga sekolah itu. Dia bertanya mantra dan jampi-jampi apa yang aku gunakan untuk menaklukkan Retno, soalnya sudah hampir satu bulan dia bakar kemenyan plus mandi kembang tengah malam segala, tapi gadis cantik itu tetep aja nggak mau meliriknya.

Lain lagi dengan cerita Si Jupri. Anak paling culun di sekolahku itu samapek rela masuk rumah sakit hanya untuk mendapatkan perhatian Retno. Ceritanya begini, suatu hari, Jupri naik ke atas sebatang pohon akasia di dekat sekolah. Dia tahu Retno akan lewat di bawah pohon itu. Rencananya pada saat Retno lewat itulah ia akan menjatuhkan dirinya dari atas pohon dengan harapan Retno akan menolongnya. Tapi dasar nasib sedang sial, saat ia menjatuhkan diri, si Retno bukannya malah menolongnya melainkan lari tunggang langgang, karena mengira ada monyet nyasar yang mau menyerangnya. Jupri yang terluka pun ditinggal sendirian. Tragis sekaligus mengenaskan.

Tidak hanya itu saja. Masih banyak cowok-cowok lain yang ingin memperebutkan Retno. Aku sendiri heran kenapa Retno lebih memilih dekat denganku daripada yang lain. Aku sendiri nggak berani bertanya langsung kepadanya. Takut dikira Ge-eR, padahal memang iya.

Siang ini matahari sangat terik. Panas. Aku dan Retno, masih dengan seragam sekolah, asyik menikmati es degan di bawah naungan trembesi raksasa di uung jalan Pahlawan Trip. Pada saat seperti ini aku baru tahu kalo es the gun itu bener-bener mak nyess rasane. Sueger tenan, Rek!

Tiba-tiba HP Retno berbunyi. Segera ia menjauh dan terlibat pembicaraan yang kayaknya serius banget. Tapi itu hanya sebentar. Sejurus kemudian ia mendekatiku dan berkata, ?Wiku, aku harus ke rumah sakit. Ayahku sedang dirawat di sana. Kamu nggak usah nganter, aku bisa jalan sendiri. Thanks atas es degannya, laen kali kita kesini lagi?. Aku sudah tidak sempat bilang apa-apa. Retno segera berlari mencegat taksi. Tapi aku tidak bisa berdiam diri. Aku nggak bisa melanjutkan menikmati es degan sementara orang yang aku sayangi bingung tiga perempat mati (jebih dari setengah mati kan ?) sedang ditimpa kesusahan. Padahal dalam cinta (ciee?) orang yang saling menyayangi harus selalu bersama dalam suka maupun duka, iya tho? Maka akupun mencegat taksi juga. Karena tidak tahu di rumah sakit mana ayah Retno dirawat, aku meminta pak sopir untuk mengikuti kemana saja taksi yang membawa Retno melaju.

Sekitar tiga puluh menit kami menyusuri jalanan kota Malang, tapi taksi yang membawa Retno tak kunjung berhenti. Lavalette mapun Saiful Anwar sudah jauh tertinggal di belakang. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan ayah Retno dirawat di RSJ Lawang. Itu mungkin alasan Retno tidak mengijinkan aku mengantarnya. Kalo memang demikian berarti Retno belum sepenuhnya mengerti bahwa cintaku padanya bener-bener tulus, tidak bisa dipengaruhi oleh apa pun, termasuk kondisi keluarganya. Ceilee?!

Tapi ternyata dugaanku salah. Taksi yang membawanya terus saja melaju ketika melewati Rumah Sakit Jiwa terkenal itu. taksi itu baru berhenti di sebuah hotel. Hah! Hotel?? Kali ini aku mulai berfikir yang engga-enggak. Sengaja aku tidak keluar dari taksi agar Retno tidak mengetahui kehadiranku. Kuliat dia melangkah keluar dari taksinya. Di serambi hotel berdiri seorang pria gendut paruh baya yang rupanya sejak tadi menunggu kedatangan Retno. Retno pun tersenyum melihatnya, bahkan dia akhirnya bergelayut mesra di pundak laki-laki itu ketika memasuki hotel. Aku seperti disambar petir. Berbagai macam perasaan seakan mendidihkan otakku. Marah, benci, kecewa, muak, semuanya campur baur jadi satu. Siapa sangka gadis seimut Retno ternyata gadis panggilan. Gayanya yang lembut dan bikin gemes selama ini ternyata hanya sebuah kedok untuk menutupi kebusukan dirinya. Apa yang sebenarnya dia cari? Uang-kah? Ah, pesetan! Apapun alasannya menjadi pelacur tetap aja memalukan bahkan menjijikkan. Cuiihh!

***

Sejak kejadian hari itu, aku langsung jaga jarak dengan Retno. Wajah gadis itu sudah tidak lagi ngangeni, malah sekarang berubah menjadi sangat memuakkan. Mulanya ia heran merasa aku cuekkin. Tapi akhirnya ia tahu juga bahwa aku telah membuntutinya ke hotel di luar kota itu. Hebatnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda penyesalan di wajahnya. Dasar Walang! (wanita jalang).

Anak-anak di sekolah pun mulai heran dengan gelagatku yang terus menghindar dari Retno. Tapi aku jamin mereka tidak tahu menahu soal kejadian di hotel itu. Meski benci setenagh mati, aku tidak akan membeberkan rahasia Retno pada orang lain. Kasihan.

?Wik, ada apa? Kelihatannya suntuk banget??, tiba-tiba Hidayat sudah duduk di sampingku. ?Lagi putus cinta ya??, lanjutnya. Sejenak kupandangi aktivis Rohis itu. Ia tersenyum menanti jawaban. Wajahnya begitu teduh.

?Aku kecewa, Yat. Sangat kecewa?, jawabku singkat. Entah untuk berapa saat kami kemudian terdiam, sama-sama memandang kosong pada daun-daun akasia yang tertiup semilir angin. Beberapa yang sudah menguning jatuh berguguran membentuk serakan tak beraturan di atas tanah.

?Kita semua pernah kecewa?. Akhirnya Hidayat kembali bersuara. ?Memang begitulah kehidupan, tidak selamanya kita senang terus, iya kan??.

Aku hanya mengangguk kecil. Aku tahu ujung-ujungnya ia akan mengatakan kalo aku harus kembali kepada Allah. Dialah satu-satunya tempat bersandar, begitu ia sering katakan. Aku pun juga tahu bahwa niatnya mendekati aku seperti kali ini hanya lah supaya aku ikut ngaji di Rohis. Tapi aku tidak akan terpengaruh. Tidak! Aku memang menyadari kalo aku tuh jauh banget dari Allah. Sholat aja banyak bolongnya, apalagi baca Al-Qur'an. Ngepil aja aku pernah, walau hanya jarang-jarang. Dan aku pun sepenuhnya sadar kalo itu semua akan dimintai pertanggungjawaban. Aku sebenarnya ingin tobat, tapi itu nanti kalo sudah tua, not now ! Masa muda kan hanya sekali, kapan lagi bisa seneng-seneng? Lagian apa enaknya jadi anak Rohis? Semua serba terkungkung. Apa-apa haram, ini haram, itu haram, wah bete banget dah!

Lihat aja si Anisa, yang sebelum ikut ngaji di Rohis sukanya jawil-jawilan sama Ripa'i, sekarang kalo ngomong sama cowok aja mukanya ditekuk. Persis seorang terdakwa di pengadilan yang sedang diancam hukuman mati. Yang lebih parah ikhwan-ikhwannya (begitu mereka mengistilahkan temen cowok), seakan-akan diwajibkan pelihara jenggot. Habis, nggak ada ikhwan Rohis yang nggak berjenggot. Sampek temen-temen menjuluki mereka sebagai PJM (Persatuan Jenggot Melambai). Maka nggak heran kalo kemudian si Jupri bilang bahwa syarat menjadi anggota Rohis adalah harus punya jenggot minimal lima puluh helai. Awalnya, aku sih percaya aja. Tapi akhirnya terbukti itu hanya bualan si Jupri yang lagi kumat penyakit isengnya. Buktinya si Minto, anggota baru Rohis, jenggotnya nggak lebat-lebat amat, hanya ada lima helai. Ketika aku memberanikan diri bertanya kenapa jenggot lima helai saja usah dipanjangin, dia menjawab itu sunnah Rosul, bukan masalah pantes atau nggak pantes. Tuh kan ? Begitulah anak Rohis, apa-apa musti diukur dengan Qur'an dan Sunnah. padahal sekarang kan bukan jaman unta lagi. Heran deh!

***

Sabtu malam. Aku duduk santai di beranda rumah. Sendirian aku memandangi langit yang begitu cerah, juga bulan purnama yang bersinar terang, ditemani ratusan bintang gemintang yang begitu membingungkan. Lho? Iya, soalnya dari tadi aku mencoba menghitungnya, eh nggak pernah berhasil.

Di atas meja tergeletak sebuah bulletin bernama KIASS. Hidayat memberikannya padaku tadi siang. Judul artikel pertamanya bikin orang penasaran: ?Adakah Pacaran dalam Islam??. Tapi aku sudah tahu jawabannya: pasti tidak ada. Hidayat sering bilang begitu. Mending baca tabloid ?Bola?, waduh David Beckham cedera, sial banget ya dia, wah nggak bisa ikut World Cup tuh dia. Tiba-tiba telpon berdering. Sejurus kemudian?

?Wiku, dari Nak Retno?, panggil ibuku. Ngapain juga Walang itu mencari aku?

?Hallo??

?Hallo, Wiku ya??, suara Retno. Agak ragu-ragu dan terkesan sedikit takut. ?Aku hanya ingin minta maaf telah membuat kamu kecewa, walau aku tahu ini sudah sangat terlambat?, lanjutnya. Aku menarik nafas panjang, menahannya sebentar untuk kemudian kulepaskan pelan-pelan, biar kelihatan seperti di sinetron gitu, he he?

?Sudahlah Retno, aku sedang berusaha melupakan semuanya. Tidak perlu minta maaf karena memang tidak ada yang salah. Aku memang kecewa, tapi aku hanya kecewa pada diri sendiri, yang begitu mudah tertipu oleh penampilan luar seseorang?. Aku diam sejenak untuk memberi kesempatan Retno mencerna apa yang baru saja aku sampaikan. Tiba-tiba terdengar isak tangis. Begitu lirih, hampir tidak terdengar. Beberapa saat kemudian Retno menutup telponnya setelah terlebih dulu mengucapkan selamat malam. Suasana kembali sepi.

Di beranda, kembali aku terdiam sendirian. Malam ini aku ingin merenungkan apa yang telah terjadi dalam hari-hari terakhir. Semuanya terasa begitu tiba-tiba. Kalo dipikir-pikir, aku pun sebenarnya ragu apakah aku ini lebih baik dari pada Retno. Toh aku sendiri tukang berbuat maksiat. Entah sudah berapa ratus sholat wajib yang aku tinggalkan. Padahal kata Hidayat, sholat itu adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan sholat, berarti telah menegakkan agama. Dan barangsiapa meninggalkannya berarti telah merobohkan agama. Juga entah berapa puluh ekstasi yang sudah bersarang diperutku. Belum lagi jemuran tetangga yang dulu pernah aku curi hanya karena iseng. Ah?

***

Esoknya kulihat pemandangan aneh di sekolah. Retno berbincang serius dengan Anisah di serambi mushola. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas mata Retno tampak berkaca-kaca. Diam-diam aku bertanya-tanya kenapa dua gadis yang bagai air dan minyak itu tiba-tiba akrab. Bagaimana bisa gadis se-sableng Retno tiba-tiba curhat dengan manusia ?es? itu? Ketemu berapa perkara?

?Yat, Retno mau dijilbabin juga ya sama Anisah??, tanyaku pada Hidayat yang kebetulan lewat. Dia temannya Anisah di Rohis.

?Memangnya nggak boleh??, dia malah balik bertanya.

?Emang Retnonya mau??, kejarku. Hidayat diam menatapku tajam.

?Kalo iya kenapa??. Aku tersentak. Yang bener aja pikirku. Mungkin bagi Hidayat dan Anisah ini tidak terlalu mengejutkan. Mereka tidak tahu siapa sebenarnya Retno. Dia itu gadis panggilan! Setidaknya seminggu yang lalu.

?Mulai besok Retno akan berjilbab?, bisik Hidayat, ?Kapan kamu menyusul??

?Menyusul pake jilab? Sakit jiwa lo yee??, jawabku sinis.

?Menyusul tobat, maksudnya?. Berbinar mata Hidayat menatapku.

Bel tanda waktu istirahat sudah habis tiba-tiba berbunyi. Anak-anak dengan malas-malasan masuk kembali ke kelas. Aku tidak berbicara apa-apa lagi pada Hidayat.

***

Retno, gadis yan benar-benar misterius. Awal kepindahannya dari SMA 0707 Jakarta membuat heboh anak-anak. Persaingan pun digelar secara terbuka untuk mendapatkan cintanya. Dan pria beruntung yang berhasil memenangkan persaingan sengit itu adalah aku. Namun betapa kagetnya aku ketika tahu bahwa dia adalah wanita penghibur para Om hidung belang. Tapi belum sempat aku tahu alasan dia maelakukan itu semua, tiba-tiba ada kabar bahwa bahwa dia akan segera pake jilbab. Aku sungguh penasaran. Itu lah kenapa saat ini aku berada di sini, di serambi rumah Retno. Aku ingin tahu tentang semuanya. Gadis itu sudah sejak beberapa saat yang lalu duduk di sampingku. Kelihatan begitu anggun dengan pakaian serba abu-abu yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Sungguh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

?Awalnya sih hanya iseng ikutan teman. Tapi akhirnya jadi keterusan?, dia mulai menjelaskan. ?Orang tuaku nggak tau apa-apa. Seperti yang kamu tau, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ketika ayahku pindah tugas ke Malang , sebenarnya aku ingin menyudahi perbuatan laknat itu. Tapi salah satu pelangganku, orang yang kamu lihat di hotel itu, ternyata juga punya bisnis di Malang sini. Jadi kami masih sering bertemu. Itu membuatku sulit untuk lepas dari pekerjaanku ini. Namun, sekitar seminggu yang lalu terdengar kabar bahwa salah seorang temen seprofesiku dulu meninggal dengan sangat mengenaskan. Dia tewas bersama pria yang mem boking nya karena over dosis putaw di kamar hotel?. Retno diam sejenak, menyeka ujung matanya yang kelihatan mulai basah. Aku dengan setia menunggu kalimat-kalimat berikutnya sambil menatap kososng pada sepeda pancal milik pembantuku yang tadi membawaku ke sini.

?Tiba-tiba aku takut, sangat takut bahkan, membayangkan apa yang akan dialami temenku itu di alam kematian. Pasti lah di sana ia menghadapi hal-hal yang sangat berat, sendirian. Dan aku nggak ingin mengalami hal yang sama, Wiku. Nggak ingin?. Retno kembali diam, menarik nafas dalam-dalam.

?Lalu kamu ceritakan semuanya pada Anisah?? tanyaku hati-hati. Ia mengangguk kecil.

?Dia bilang tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tapi itu tidak berarti kita bebas menunda-nundanya. Allah memang Maha Pengampun. Tapi siapa yang menjamin bahwa kita masih hidup esok pagi untuk meminta ampun kepadaNya? Tidak ada.? Kalimat terakhir sebenarnya sudah sering kali kudengar dari Hidayat. Tapi kali ini terasa begitu berbeda. Kalimat itu seperti menghentak-hentak di dada, menginga-ngiang di telinga. Sekonyong-konyong ketakutan yang diceritakan Retno itu menular kepadaku. Ya, ketakutan itu benar-benar menular. Bayangan kematian begitu jelas. Cerita tentang keganasan Munkar dan Nakir tiba-tiba berputar di kepalaku. Aku menjadi begitu gelisah. Sangat gelisah.

?Aku ingin menyudahi semuanya, Wiku?. Itu kalimat terakhirnya sebelum tiba-tiba terdengar gema adzan Ashar dari kejauhan. Kumandangnya juga tidak seperti biasanya. Sumpah mati, kali ini seakan hanya ditujukan kepadaku seorang. Aku jadi ingin sholat. Seandainya Jupri tau, pasti dia tertawa terpingkal-pingkal.

Sesaat kemudian aku sudah berada di keramaian jalan raya, menembus udara sore dengan sepeda pancal. Gema adzan itu masih terus memanggil-manggil. Kukayuh sekuat tenaga supaya cepat sampai di masjid. Aku tak sabar ingin segera sujud pasrah di hadapan Allah, memohon ampun atas segala dosa yang selama ini menenggelamkanku. Aku akan segera tinggalkan hari-hari yang penuh maksiat, walaupun untuk itu aku harus masuk Rohis dan memelihara jenggot. Walaupun harus ditertawakan oleh si culun Jupri dan temen-temen kelas lainnya. Aku nggak peduli.

Ya Allah?aku akan kembali ke jalan-Mu, secepatnya. Lihatlah, sekarang aku sedang mengejar-Mu dengan sepeda.

Perjuangan

PERJUANGANKU LEBIH MUDAH
KARENA MENGUSIR PENJAJAH,
TAPI PERJUANGANMU AKAN LEBIH SULIT
KARENA MELAWAN BANGSAMU SENDIRI

PESAN
BUNG KARNO
KEPADA
MEGAWATI

Doa serdadu sebelum perang

Tuhan ku
wajah Mu membayang di kota terbakar
dan firman Mu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
anak menangis kehilangan bapak
tanah sepi kehilangan lelakinya
bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
waktu itu, Tuhan ku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku memasukkan sangkurku
malam dan wajahku adalah satu warna
dosa dan nafasku adalah satu udara
tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan
apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?
sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianati Mu
Tuhan ku
erat-erat kugenggam senapanku
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

RENDRA

BAIKNYA TUHAN


” BAIKNYA TUHAN ”
Tuhanku Maha Baik
Karunianya..permenit, perdetik
setiap kedipan mata, diantara kedipan mata
bahkan disaat aku tidak mampu menyadarinya


Tuhanku Maha Pengasih
Dia menyentuh yang menyentuh-Nya
Dia menyentuh yang mencoba menyentuh-Nya
Dia menyentuh yang tidak tahu cara menyentuh-Nya
Dia menyentuh yang menghampiri-Nya
Dia menyentuh yang menjauhi-Nya
Dia menyentuh yang meninggalkan-Nya

Tuhanku Maha Pemurah
Dia memberi sebelum diminta
Dia memberi tanpa diminta
Dia memberi sebelum kutahu apa yang akan kuminta
Dia memberi lebih dari sekedar permintaan

Tuhanku Maha Adil
Dia membagi yang genap
Dia membagi yang ganjil
Dia membagi yang tak bisa terbagi

Tuhanku Maha Mendengar
Dia mendengar yang terucap
Dia mendengar yang tak terucap
Dia mendengar yang tersirat
Dia mendengar isyarat
Dia mendengar teriakan
Dia mendengar bisikan
Dia mendengar yang tak terdengar

Tuhanku Maha Melihat
Dia melihat yang terang
Dia melihat yang gelap
Dia melihat yang samar
Dia melihat yang kasat
Dia melihat yang ghaib
Dia melihat kejadian
Dia melihat rencana

Tuhanku Maha Bijak
Dia memahami kelemahan
Dia memahami ketidaktahuan
Dia memahami keterbelakangan
Dia memahami kekhilafan
Dia memahami kebodohan
Dia memahami kealpaan

Tuhanku Maha Pemaaf
Dia memaafkan yang besar
Dia memaafkan yang kecil
Dia memaafkan yang khilaf
Dia memaafkan yang lupa
Dia memaafkan yang sengaja
Dia memaafkan yang yang tidak sengaja

Tuhanku Maha Pengampun
Dia mengampuni yang berdosa
Dia mengampuni yang lalu
Dia mengampuni yang kini
Dia mengampuni yang nanti
Dia mengampuni yang terbetik
Dia mengampuni yang terjadi
Dia mengampuni yang tak sempat terjadi

Tuhanku Maha Penyayang
Dia menyayangi yang menyembah-Nya
Dia menyayangi yang tidak menyembah-Nya
Dia menyayangi yang tidak tahu cara menyembah-Nya
Dia menyayangi yang ta’at
Dia menyayangi yang menentang
Dia menyayangi yang berbaik sangka pada takdir-Nya
Dia menyayangi yang berburuk sangka pada takdir-Nya

Tuhanku Maha Sabar
Dia memandang lembut yang nista
Dia memanggil halus yang berdosa
Dia menunggu taubat yang durhaka
Dia memberi rizqi yang sombong
Dia menerima sesal yang khilaf
Dia menerangi jalan yang sesat

Tuhanku Maha Baik
kata baik tak kan pernah mampu memaknai kebaikan-Nya

Pantai Indah Kapuk Penuh KKN

PIK adalah salah satu proyek KKN nya Soeharto pada masa kekuasaan Soeharto
dulu dengan operator dari Pemerintah adalah Menteri kehutanan waktu itu
yaitu Hasrul Harahap,Gubernur Jakarta Soeprapto dan Wiyogo,Walikota Jkt
Utr Koestamto dan Moeladi.Sedangkan dari konglomeratnya adalah
Liem,Tutut,Sudwikatmono,Ciputra.

Tol Sedyatmo yang dibangun 1980 itu sangat dibanggakan pada waktu itu
karena konstruksi uniknya yang membelah hutan bakau /rawa pantai Utara
Jakarta hanya bisa dibanggakan beberapa tahun saja. Kemudian karena
kelihaian perang informasi dari PIK yang dibangun kemudian diatas
1990,melalui jalur2 kekuasaan ,memutarbalikkan opini menjadikan toll itu
(milik Pemerintah/negara/Jasa marga) bulan2 an penyebab banjir dikawasan
itu sehingga beban biaya mengatasi banjir disana menjadi beban Negara
hingga sekarang.

Sejak awal,pembangunan PIK itu sangat mengundang kontroversial antara para
ahli lingkungan,banjir, perkotaan disatu pihak dengan operator kelompok
kepentingan diatas.Penyusunan AMDAL proyek ini oleh pemerintah Jakarta
penuh dengan rekayasa,yang pada awalnya cukup melindungi kawasan hutan
lindung ini,hingga ahirnya dengan mengganti2 penyusun AMDAL hingga
beberapa kali,melalui proses tekanan kekuasaan politik dan wang,ahirnya
melindungi bisnis konglomerat itu.

Rencana tata Ruang Jakarta yang menyatakan kawasan 1000 HA itu adalah
kawasan hutan lindung diobrak abrik kekuasaan menjadi kawasan hutan beton.

Kawasan Hutan milik Dept.kehutanan yang berlokasi di Jakarta yang
berfungsi sebagai paru2 kota (yang dilindungi UU karena berupa hutan
lindung) dibumi hangus dan sebagai penggantinya,oleh Hasrul Harahap paru2
kota untuk Jakarta ditempatkan diluar Jakarta yaitu hutan milik Jawa Barat
(yang tadinya sebenarnya kawasan hutan Jawa Barat) disekitar Sukabumi dan
pulau di kepulauan Seribu yang tadinya memang pulau hutan yang diterimanya
dari "para konglomerat". Kepemilikan konglomerat atas hutan di Jawa Barat
dan kepulauan Seribu itu sangat diragukan oleh berbagai pihak pada waktu
itu,dan perlu diteliti kembali sekarang ini.

Tukar guling hutan antara Dept.Kehutanan dengan para konglomerat itru
sangat sarat akan KKN.

Masalah banjir dikawasan ini sekarang ini bukan lagi masalah PIK tapi
sudah menjadi masalah negara /pemerintah dan PIK aman dari tuntutan
pengrusakan lingkungan .Kawasan Selatan PIK yaitu Cengkareng termasuk
kawasan bandara dalam beberapa tahun lagi akan menjadi kawasan sangat
rawan banjir dan akan menjadi kawasan yang penuh dengan genangan2 pada
musim kemarau.

Proyek Pantura Jakarta (Pantai Utara Jakarta) sepanjang kira2 20 KM
dipantai Utara Jakarta seluas kira2 4000 HA yang kebetulan sekarang ini
terhenti karena krisis ekonomi ,tidak berbeda dengan PIK ini adalah proyek
yang sangat kontroversial (antara para ahli perkotaan,banjir dan
lingkungan disatu pihak dan para konglomerat2 dipihak lain) yang akan
membuat kawasan sebelah Selatannya akan menjadi empang2 dan waduk bila
benar2 dilaksanakan. Penetapan proyek Pantura di Jakarta ini tanpa melalui
UU,hanya didasarkan pada Kepres yang penuh dengan rekayasa dan KKN dengan
operator2nya para konglomerat dan Putra Putri Penguasa waktu itu dan
pemerintah Jakarta.Tidak ada yang dapat menghambat rencana proyek itu pada
waktu itu. Terdapat seorang pejabat Jakarta yang ikut bertanggungjawab
dibidang tata ruang menyuarakan para ahli lingkungan,ahli perkotaan dan
ahli banjir pada waktu itu,yang tanpa ampun diberangus dan dikotakkan,dan
yang menggantikannya yang loyal kepada Suryadi (Gubernur waktu itu) dan
konglomerat itu sekarang menjadi salah satu wakil gubernur di Jakarta.

KKN itu demikian mendekati sempurna dimana untuk perlindungan akan proyek
PIK,Pantura itu dan proyek KKN lainnya di Jakarta,maka Rencana Tata Ruang
Jakarta yang seharusnya berahir 2005 yad,dengan KKN dengan DPRD Jakarta
dan Depdagri pada 1997 (sebelum Suryadi habis masa jabatannya sebagai
Gubernur ) dimana Soeharto masih berkuasa,menggantinya dengan Rencana Tata
Ruang Jakarta 2000 s/d 2010.

Untuk tidak membiarkan Jakarta semakin lama semakin tenggelam,lebih2 pada
musih penghujan,baik oleh kesalahan2 pembangunan kota yang melanggar
Rencana Tata Ruangnya,hingga ruang penampung/penyerap air semakin
kecil/penurunan permukaan tanah karena beban yang melewati batas
,penyedotan air tanah yang berlebihan,hingga mengakibatkan penurunan
permukaan tanah juga dan air kiriman 13 sungai dari hulu/Bogor yang
melalui Jakarta yang tiap tahun semakin besar karena penggundulan2
disana,maka Pemerintah Megawati dan Pemerintah Daerah perlu membenahi
ketentuan2 dan peraturan2 yang penuh dengan KKN dan rekayasa itu.

kelana

Andai Ku Tak Sendiri


Andai Ku Tak Sendiri

Ku tahu bahaya ada di depan?
Ku tahu musuh menerjang?
Ku tahu banyak yang bilang jangan?
Tapi ku tak ingin berpangku tangan?

Janganlah bimbang diriku?
Jalan masih lurus di depan?
Jangan goncang tubuhku?
Meskipun dingin menusuk tulang?

Sisi kiri dan kanan yang gelap?
Tak dapat kuterka apa?
Pandanganku hanya ada?
Menatap gerombolan di sana?

Kenapa kawanku masih terlelap?
Tak ingin peduli?
Masa depan yang ada di hadapan?

Mungkin aku hanya bisa?
Berdoa menatap masa?
Kucoba serukan mereka?
Tuk turut berusaha?

Andai ku tak sendiri?
Melangkah maju tak kenal hari?
Ayo kawan mari berlari?
Mengubah masa depan?

aza

Mereka mengaku

Mereka mengaku

Mereka mengaku sebagai anak-anak-Mu
Tapi mereka tidak mengenal-Mu
Mereka mengaku sebagai ahliwaris-Mu
Tapi mereka tidak berpegang pada firman-Mu
Mereka mengaku darahnya adalah bagian dari darah-Mu
Tapi mereka lebih mengutamakan duniawi
Mereka mengaku sebagai ummat-Mu
Tapi mereka hidup dalam belenggu dosa

Mereka mengaku Engkaulah maha pemurah dan pengampun
Tapi mereka gemar menyeru fitnah, perang dengan sesamanya
dan berseteru
Mereka mengaku engkau sebagai Bapa
Tapi mereka tidak mencari-Mu
Mereka mengaku sebagai anak-anak-Mu
Tapi mereka tidak patuh terhadap perkataan-Mu

Mereka mengaku engkaulah sebagai Allah
Tapi mereka berimam pada selain-Mu
Mereka mengaku Engkaulah kota ilmu itu
Tapi mereka enggan untuk mengaku
Mereka mengaku Allah
Tapi mereka percaya atas dirinya sendiri
Mereka mengaku mencintai-Mu
Tapai mereka tidak peduli dengan sekitarnya

Mereka mengaku Engkau rela berkorban untuk dirinya
untuk menebus dosa-dosanya
Tapi mereka tidak pernah mau berkorban sedikit pun
Mereka mengaku hatinya adalah bagian dari hati-Mu
Tapi mereka tidak berduka atas duka-Mu
Mereka mengaku mencintai-Mu,
Tapi kesenanggan duniawi lebih penting bagi mereka
Ketimbang hidup dalam kekudusan-Mu

Mereka mengaku sabda-Mu adalah wahyu
Tapi katanya ada yang tidak perlu
Mereka mengaku Engkau mengajarkan iman adalah perbuatan nyata
Bagi mereka, semuanya cukup hanya dengan bicara
Mereka mengaku merindukan bertemu dengan-Mu
Tapi mereka tidak malu akan perbuatannya kalau seperti itu

Mereka mengaku, mengaku dan mengaku
Tetapi pada akhirnya mereka tidak tahu
Apa yang telah mereka perbuat ?

Ampuni kami ya Allah, maafkan kami ya Allah
Manusia yang penuh dengan dosa
Tapi kami yakin Engkau maha pengampun dan maha penyanyang

Kata-kata yang membawa keberuntungan

Ita baru masuk SMU, masa-masa pubernya bikin dia centil dan suka ngerjain
orang. Kali ini dia dapet kata-kata baru buat ngerjain orang.
Hari pertama, dia nelepon temannya :
"Rin, gue udah tau semuanya !"
"Hah.." Suara disana terdengar lemas."Ta, elu jangan bilang Indri kalo gue
jalan sama cowoknya ya Ta. Gue ada voucher makan di HokBen, elu jangan
bilang-bilang yah. Sori gue cuma bisa ngasih itu doang."
"Okelah, gue sih terima aja, lu kan temen gue."

Begitu telepon ditutup, Ita langsung teriak girang.
"Wah oke juga nih, gue dapet voucher HokBen !! Coba gue praktekin lagi."
Kali ini Ita masuk kamar kakaknya dan langsung bicara pelan didekat kuping
kakaknya yang lagi tiduran.
"Wa, gue udah tau semuanya. Ternyata gitu ya Wa." Dewa langsung bangun,
mengambil sebuah kunci dan berbisik pada Ita.
"Ta, lu boleh pake mobil sebulan penuh plus gue kasih bensinnya. TApi
jangan bilang Papi kalo gue nge-gele yah !!!"
"BEres. "

Ita benar-benar girang, kali ini dia mencegat Papinya yang baru pulang
kerja.
"Pah,." Ita mengejar Papinya yang cuek bebek
"Pah, Ita mau ngomong."
"Ada apa sih Ta ?!! Papa capek nih."
"Ita udah tau semuanya Pah..." Mendadak PApanya celingukan,
mengeluarkan HP dan menelepon seseorang
"Ta, Credit Card kamu udah Papa aktifkan lagi. Tapi !!! Jangan pernah
bilang Mama soal si Ijah."
Ita girang campur sebel. Ternyata Papanya menduakan Mama cuma demi
pembantunya si Ijah
Ita langsung berlari tanpa sepatah katapun

Diluar,
Ita bertemu Pak Udi, sopirnya yang sudah belasan tahun bekerja dirumahnya.
Ita mulai usil lagi. Dia kesal juga, pasti dia tau soal si Ijah, tapi
bungkam selama ini, gue kerjain juga nih, pikirnya.
"Pak !!!" Ita benar-benar membuat kaget sopirnya "Saya sudah tau
semuanya."
Pak Udi terbengong, dan perlahan meneteskan airmata. Ita malah bingung.
"Ita !!! Peluklah Bapakmu ini Sayang. Akhirnya kau tahu juga Nak !"

dikala resah

maap banget kalo cinta itu ternyata menyusahkan mu…
maap kalo cinta itu banyak menuntut..
maap kalo cinta itu minta dimengerti..
maap kalo cinta ingin merasa dibutuhkan
maap kalo cinta membuat mu menjadi bingung..
maap kalo cinta membuat mu pusing..

cinta cuma butuh apa yang kamu butuh dari nya..
cinta juga butuh apa yang kamu rela bagi dengannya..

dikala resah dan gundah melanda….cinta kan slalu ada buat mu…karna kamu telah menjadi bagian dari cinta itu…

yang cinta mau….

hanya ketulusan mu…
tuk memberi dan menerima kehadirannya…dan mengerti dia..
maka ia akan memberimu lebih…
karna cinta tulus untuk mu…

maafkan cinta mu ini…

yang cinta mau…

peduli mu akan kehadirannya
bahagia mu akan dia
senyum mu akan tawa nya

yang cinta mau…

kamu ada di sisinya.

cintamu….

ketika kita dalam....

Ketika kita menemukan seseorang yang keunikan nya sejalan dengan kita, kita bergabung dengannya dan jatuh dalam suatu keanehan yang serupa. Inilah yang dinamakan CINTA. Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan, seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan.

CINTA sebenar nya adalah ketika kamu menitikkan
air mata dan masih perduli terhadap nya, adalah
ketika dia tidak memperdulikan kamu dan kamu
masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata aku turut
berbahagia untukmu

Apabila cinta tidak bertemu,bebaskan dirimu .

Biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi, kau
mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya.

Tapi ketika Cinta itu mati, kamu tidak perlu mati
bersama Cinta tersebut.

Orang yang berbahagia bukanlah mereka yang
selalu mendapatkan keiginannya, melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh.

Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan,
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri dan
menyadari bahwa penyesalan tidak seharus nya
ada.

CINTA mu akan tetap di hatinya, sebagai
penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup yang
telah kau buat.

Teman sejatimengerti ketika kamu berkata aku
lupa. Menunggu selamanya ketika kamu berkata tunggu sebentar.

Tetap tinggal ketika kamu berkata tinggalkan aku
sendiri. Membukakan pintu meski kamu belum mengetuk
dan belum berkata bolehkah aku masuk?…

Mencintai juga bukanlah bagaimana kamu melupakan
dia, melainkan bila ia berbuat kesalahan dan
bagaimana caramu untuk memaafkan.

Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.

Bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa
yang kamu rasa.

Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan
bagaimana kamu bertahan.

Lebih menyakitkan menangis didalam hati dari
pada menangis tesedu atau mengadu.

Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air
mata yang tersembunyi menggoreskan luka
dihatimu yang tidak pernah hilang.

Sayang, dalam cinta kita sangat jarang perduli.
Tetapi ketika Cinta itu tulus, meskipun kau
acuhkan Cinta tetap mulia dan kamu seharusnya
berbahagia, hatimu dapat mencintai seseorang
yang kamu cinta.

Mungkin akan ada saatnya kamu harus berhenti
mencintai seseorang bukan karena orang itu
berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
bila kita melepaskan nya

Kadang kala, orang yang paling mencintaimu
adalah orang yang tidak pernah menyatakan cintanya padamu namun tetap memperhatikan mu selalu.

Karena dia takut kau berpaling dan memberikan
jarak terhadap nya dan bila suatu saat nanti kau
akan menyadari ia adalah cinta yang tidak kamu
sadari

Senin, 01 Desember 2008

Malekat Cinta

Malekat Cinta

Bersayapkan fajar nan cerah
Berbingkaikan ketulusan nan agung
Melangkah mengitari jagad
Berselempangkan sang waktu nan pasti

Malekat Cinta…
Memeluk dan merenggut tiap hati
Yang terbuai dalam pesona insani
Memboyong pergi dalam nestapa
Tiap serpihan jiwa yang luluh dan
Menggendong dalam rencah tawa ria
Tiap pijaran nurani
Yang tengah mekar ditempah fajar kasih

Malekat Cinta…
Lambang keagungan sebuah ketulusan
Yang lahir dari bening jiwa insan pencinta
Ia adalah tawa dari tiap kelahiran
Dan arti dari rahasia kematian

Malekat Cinta…
Mengalirlah, terbanglah, dan datanglah…
Kunjungi tiap hati insan manusia
Yang kini letih dalam ziarah hidup
Sebab dalam genggamanmu
Ada cinta nan Agung

Rabu, 26 November 2008

Laskar pelangi

Diawali saat SD Muhammadiyah, sekolah kampung di Belitong dengan fasilitas yang sangat terbatas bahkan minus, membuka pendaftaran untuk murid baru kelas satu. Hingga saat2 terakhir pendaftaran hanya 9 orang anak yang mendaftar dan siap masuk kelas di hari pertama. Padahal sekolah reot ini sudah diancam untuk membubarkan diri jika murid barunya kurang dari 10 orang.

Di kalangan bawah, menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada beban biaya yang harus ditanggung selama bertahun2. Dan tertutupnya kesempatan untuk mempekerjakan si anak secara penuh waktu demi membantu mengurangi beban hidup yang semakin berat.

Jika tak ada Harun, seorang anak berusia 15 tahun dengan keterbelakangan mental, yang disekolahkan oleh ibunya agar tidak cuma mengejar anak ayam di rumah, tentu tidak pernah terjadi kisah ini. Ikal tidak akan pernah bertemu, berteman satu kelas dengan Lintang, Mahar, Syahdan, A Kiong, Kucai, Borek alias Samson, Sahara, Trapani, dan Harun. Tidak akan pernah bertemu Bu Muslimah, guru penuh kasih namun penuh komitmen untuk mencerdaskan anak didiknya. Dan tidak akan pernah ada Laskar Pelangi, yang di musim hujan selalu melakukan ritual melihat pelangi sore hari dengan bertengger di dahan2 pohon filicium yang ada di depan kelas mereka.

Perjalanan Laskar Pelangi
bukukita.com

gue manis

Buah semangka
buah manggis
Nggak nyangka
gue manis

semangka

Buah semangka
buah duren
Nggak nyangka
gue keren
heee

Buah kedondong

Buah kedondong
Buah durian
Dulu bencong
sekarang tetepp
be.......

Jambu merah

Jambu merah
ada di dinding
Jangan marah dong
just kidding

Senin, 24 November 2008

Pusi tak ada judul

Renungan............
sepanjang timur dan barat
Ratapan.........
semilir menembus ke atap langit
Kicauan........
mencoba memberi arti
Langit..........langit.........
putramu bertambah umur
tapi dia bersedih
airmata mengalir sederas Niagara
tersisa anak2 bertelanjang dada tak bisa membaca
ribuan bunda meregangkan nyawa kekasihnya
cinta telah tersudut di lorong2 dunia
Langit........langit........
putramu ingin melawan kodrat
memberi setiap jiwa
setetes bahagia
yg bukan harapan lagi
yang tidak hanya janji
mencari kepastian
walau dia tahu itu tak mungkin
Langit......langit..........
Putramu menemukan seorang bidadari
yang kepadanya semua cinta tercurah
dan putramu memberinya sayap
sayap harapan dan semangat
agar bidadari menemaninya berjuang
Langit.......langit.........
hembuskan pesan pada semesta
permohonan maaf putramu
atas ketidakmampuan
atas ketidaktahuan
atas kebingungan
atas semua yang belum bisa dia lakukan

Terkurung Sunyi

Terkurung Sunyi dalam lirih suara hati
sekilas terbayang wajah rupawan di ujung sana
Teringat akan Cinta yang pernah kau beri
Namun kita berpisah direngkuh oleh jarak


Hati ku tak berdaya
Oleh apa yang terjadi
Sanggupkah aku bertahan disini


Dimana kah kau ada, Rinduku ku tak kan pernah sirna
Kekasih ingatkah ku disini
Tertusuk oleh perih, Mencari tak pernah kudapat
Namun ku kan selalu Merindu..........


Letih Tertambat, Menggeliat di resah ku
Hadir mu bagaikan sebuah keajaiban yang tak mungkin........

Minggu, 16 November 2008

Persahabatan

"Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan."


"Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan."

Persahabatan

"Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan."


"Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan."

WAKTU

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.


Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

Rabu, 12 November 2008

Cinta :)

Ketika cinta bersemi lagi
biar kita jahu hati kita tepat satu adanya
wahai cinta janganlah engakau pergi lagi
dekaplah aku,Cinta
ooh cinta
Cinta dan kasih sayang yang tulus
Cinta tidak dapat di ungkapkan
Cinta hanya bisa dirasakan
Terimah kasih cinta

Cintaku Jauh Di Pulau

Cintaku Jauh Di Pulau

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi ! Jalan sudah bertahun ku tempuh !
Perahu yang bersama 'kan merapuh !
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku ?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

( 1946 - dipetik secara bebas oleh Imnogman )

Senin, 27 Oktober 2008

Di dekat kaki Tuhanku

Di dekat kaki Tuhanku

kutinggalkan malamku untuk berjaga menemanimu
selagi semua orang memilih untuk lari menyisakanmu
sendiri
sehingga kau berkubang dalam sepi
dalam peluh dan darahmu sendiri

sementara pasak dan paku sedang diasah
dan tiang-tiang dipancangkan
biarkan aku sebentar menjagamu
menghiburmu

rantai sudah dijalin dan cambuk tengah dirapikan
untuk menyambutmu di hari esok yang terakhir

dan nyaliku hanya meninggalkan kecut
membuatku segera menyingkir
untuk lari tanpa menunggu fajar menyingsing
maupun ayam berkokok tiga kali

Di bawah mendung

- di bawah mendung -

titik hujan menari berselendangkan pelangi
berhiaskan mendung di wajahnya, kesepian seolah menanti untuk datang lagi
apa seperti ini meninggalkan arti
lalu pergi, tanpa pernah berjanji?

sepanjang musim mencatati waktu kembali
mengemasi rindu menjejali hati

masih berserakan di pipimu, air mata tak pernah bisa mendustai
dan tak pasti, apakah engkau tengah merajut mimpi
dengan benang-benang waktu yang mengusut

kusam muram dalam temaram

TAMSIL TUBUH TERBELAH

TAMSIL TUBUH TERBELAH

Langit tanpa bulan
di perempatan jantung kota republik bla bla bla
seorang lelaki separuh baya
matanya nanar membara menatap angkasa
Rambut kusut, kumal bajunya
Ia tak bernama,
jawatan sosial hanya mencatat nomor registrasi
agar proyek rehabilitasi serta subsidi
menggelinding lancar ke dalam laci

Setiap ditanya; “nama?”
Ia senantiasa menggeleng tanpa tenaga

“Pablo!”
A, siapa pertama yang memanggil itu
Lantas orang-orang seantero kota pun memanggilnya;
“Pablo! Pablo! Blo! Pab! Blo!”

Tawa renyahnya selalu terdengar
saat senja beranjak pulang
kelam membayang, malam pun datang
Pablo sempoyongan
Tangannya menggenggam anggur murahan

Pablo selalu riang, senyumnya mengembang
Kadang sambil melenggang, mulutnya nyerocos, omong apa saja
Kadang sambil berdendang cha-cha-cha
suaranya menggema, tanpa batas tembus angkasa

Ia sendirian tapi tak kesepian
temannya bintang-bintang dan anjing kudisan
Pablo sering mengadu dan beritahu diri sendiri
apa yang kan terjadi
Orang-orang menanggapnya seperti komedi yang tak pernah basi
Ia bukan aktor karbitan
tapi ada juga yang bilang
“ia hilang ingatan”
Ach, peduli setan
Pablo selalu keluyuran membelah dingin malam
Ada alam raya membayang dibalik otak kecilnya
“Fantastis..!”
Bagai ada sinyal lampu yang selalu “on”
menyala dan bergetar
Pabila ada gelombang isyarat dari masa lalu
atau pancaran gelombang peristiwa dari masa depan
Kupingnya selalu mendengar
dengung lebah serta upacara orang Indian
memanggil hujan di musim kemarau
Matanya selalu menangkap frekuensi yang sarat
dengan simbol-simbol yang mesti dipecahkan

Pablo sempoyongan menembus sunyi malam
Memasuki ruang yang membuka-menutup

Diantara lalu lalang, ia melihat banyak orang
berjalan tanpa kepala, tanpa tujuan
Diantara etalase-etalase kaca toko barang antik
ia melihat dirinya seperti guci keramik yang retak
Pablo tak peduli, semua bisa saja terjadi

(Sirine ambulance menggerung gerung
memecah sunyi malam
Lampu mercury memancar muram)

Pablo gentayangan dengan perut keroncongan
Pablo gemetar menahan dingin malam
Wajahnya pucat pasi, Mulutnya kelu
Kaki dan tangannya kaku

Pagi itu, di bangsal gawat darurat
sebuah rumah sakit utara kota
ada sesosok tubuh tak bernyawa dan tak bernama
Tak ada sanak famili yang mengaku keluarga
Sulit diidentifikasi karena tak ada jati-diri

Sore, tubuh itu langsung diotopsi
dikerat dan disayat di ruang operasi
Bersama malaikat, ia saksikan dokter ahli mengambil hati
serta organ tubuhnya yang masih berfungsi
lantas dimasukkan ke dalam stoples kaca
Sedang anggota tubuh lainnya
dibelah jadi beberapa bagian
oleh mahasiswa-mahasiswi kedokteran Universitas Negeri
dengan pisau babi, masuk kantung mayat
dan jadi komoditi yang lain lagi

Malam,
di langit tanpa bulan, tak cuma ada bintang
tapi ada roh serta malaikat yang beterbangan

Dan di bumi,
tercium aroma kematian orang-orang
bau aroma kamboja dan asap dupa melayang
mengantar mereka di perabukan

Berlin, Juni 2004

Kamis, 23 Oktober 2008

CINTA TAK SEPERTI KENYATAAN

Andai aku semudah yang mereka fikir tentang “Cinta
Mungkin saat ini ada Dia disampingku
Andai perasaan ini semudah yang mereka “Rasa”
Mungkin saat ini aku merasa “Bahagia”

Tapi ntah kenapa hati ini sulit sekali
Tuhan, jika diantara mereka ada cinta sejatiku
Berikan jalan bagi kami tuk bertemu
Dan jika diantara mereka tak ada cinta sejatiku
Hilangkan perasaan mereka padaku, Tuhan

Maaf, “Bukan Maksudku”
Aku hanya tak ingin membuat mereka sakit hati
Dan aku juga tak ingin
Ada semakin banyak darah yang menempel di duriku

Mengapa kata cinta begitu mudah diucapkan
Pada akhirnya cinta tak seperti kenyataan

Puisi cinta dari SGirl

Senin, 20 Oktober 2008

Kata mutiara hati

* Kamu adalah apa yang kamu pikirkan
* Optimisme adalah berfikir positif yang menyala-nyala
* Harus kehilangan umpan untuk mendapatkan seekor ikan
* Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan
* Orang yang hidupnya indah karena mereka dekat dengan keindahan
* Cara untuk mendapatkan teman adalah dengan menjadi seorang teman
* Lakukan yang terbaik yang dapat dilakukan dan terimalah yang lainnya sebagaimana adanya
* Salah satu kesalahan yang sering orang berbuat adalah terus menerus takut berbuat kesalahan
* Manfaat masalah bagi pikiran adalah sama seperti olah raga bagi otot, masalah dapat menegarkan dan menguatkan pikiran
* Sekali terbebas dari belenggu “saya tidak bisa” yang melumpuhkan kehidupan, anda benar-benar bisa mencapai berbagai hal hampir tanpa batas

Minggu, 19 Oktober 2008

Father's Love Letter

Anak-Ku.......
Saat kau bangun dipagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicarakepada-Ku, walaupun hanya sepatah kata, meminta pendapat-Ku atau bersyukur kepada-Ku atas sesuatu hal indah yang terjadi di dalam hidupmu kemarin, tetapi akumelihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. Aku kembali menanti.......

Saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhentidan menyapa-Ku, tetapi engkau terlalu sibuk.
Di satu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau ingin berbicara kepada-Ku, tetapi engkau berlari ke telepon dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabarsepanjang hari.Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkansesuatu kepada-Ku.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang kesekeliling, mungkin engkaumerasa malu untuk berbicara kepada-Ku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara kepada-Ku dengan lembut sebelum mereka makan, tetapi engkau tidak melakukannya.
Tidak apa-apa.........
Masih ada waktu yang tersisa, dan Aku berharap engkau akan berbicara kepada-Ku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal, yang harus kau kerjakan.

Setelah beberapa hal tersebut selesai engkau kerjakan, engkau menyalakan televisi,
Aku tidak tahu apakah kau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun hanya menikmati acara yang ditampilkan.

Kembali Aku menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepada-Ku.
Saat tidur Kupikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur dan tertidur tak lama kemudian.
Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkanmu bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat mengasihimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata, doa atau pikiran atau syukur dari hatimu.
Baiklah... engkau bangun kembali dan kembali.
Aku akan menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberi-Ku sedikit waktu. Semoga harimu menyenangkan.

Cinta

Itu lah cinta...

Cinta tak tak selalu mulus putih

Cinta penuh dengan noda..

Cinta penuh dengan cobaan..

Cinta penuh dengan pengorbanan...

Dan cinta penuh dengan tantangan...

yang jika kita mampu melewatinya bersama

itulah kesejatian cinta

Ketika Saat Terindah

Saat Terindah..

adalah Saat Mengenal Dan Memiliki Dirimu..

Yang Kuinginkan Sekarang

Hanyalah Slalu Dapat Disisimu

Dan Memandangmu

Dengan Segala Perasaanku..

Untuk mu cinta

Untuk mu Cinta

mari kita menari, mari kita menyanyi, mari kita berlari!

cintaku padamu sebesar dunia

karena aku sudah lupa pada yang lalu begitu cepatnya

seluruh isi duniaku sudah terganti

menarilah bersamaku

menarilah kita ke aozora, duniaku yang sepi dan bisu

menarilah kita ke segala impian, khayalan biru

marilah kita bersama-sama jalin cerita, jalin permainan yang tak pernah kau bosan memainkan

marilah kita menulis nama kita di pasir putih

marilah kita mengejar ombak di biru

marilah kita pandang biru

marilah kita merajut langit di sana

angkasa hitam penuh bintang

seperti kita yang tenggelam di keasyikan

nada-nada di balik segala

seperti kita tahu apa yang pasti

seperti cinta yang kabur

nada-nada di balik segala

marilah kita menyanyi sekali lagi, terhanyut di balik segala

dalam keasyikan itu aku menemukan kamu

kamu yang terhanyut di balik segala

cinta! cinta! marilah kau menari...

cinta! cinta! tidurlah di balik segala, tidurlah diiringi segala doa

karena kamu sekarang sudah semuanya

What has was leoved by m

"What has was leoved by m laksana a child currently all the time I loved..." And, what is loved by me currently... will be loved by me up to the end of my life, because the love was all that was able to be reached by me... and not there are those that will pull out myself than him (Kahlil Gibran)

Puisi Jangan sesekali

"Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba."
"Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup."
"Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi,"
"jika kamu masih tidak dapat melupakannya."

Tuhan memberikan kita

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Pabila cinta memanggilmu

"...pabila cinta memanggilmu... ikutilah dia walau jalannya berliku-liku... Dan, pabila sayapnya merangkummu... pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)

Kamis, 16 Oktober 2008

SEMALAM

SEMALAM

Semalam aku sendirian di dunia ini,
kekasih; dan kesendirianku...
sebengis kematian...
Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara...,
Di dalam fikiran malam.
Hari ini...
aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.
Dan, ia berlangsung dalam seminit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang,
sepatah kata, sebuah desakan dan... sekucup ciuman
:+: Khalil Gibran :+:

IBU

IBU

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan "Ibuku" merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya.
Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta,
kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.
Siapa pun yang kehilangan ibunya,
ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasamerestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu.
Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan.
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya.
Pepohonandan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.Penuh cinta dan kedamaian.
:+: Khalil Gibran :+:

Puisi SYUKUR

SYUKUR

Get up in the dawn at daybreak with the heart was as light awan Mensyukuri the day just was full of the rays kecintaan rested in the intensity of the afternoon merenungkan the peak of the vibration cinta came home in time at dusk with thank heavens was full in the cavity dada Afterwards fell asleep with the prayer for that was beloved in sanubari And a gratitude song was carved on the smile lip
:+: Kahlil Gibran :+:

KISAHKU

KISAHKU

Dengarkan kisahku... .
Dengarkan,
tetapi jangan menaruh belas kasihan padaku:
kerana belas kasihan menyebabkan kelemahan, padahal aku masih tegar dalam penderitaanku..
Jika kita mencintai,
cinta kita bukan dari diri kita, juga bukan untuk diri kita.
Jika kita bergembira,
kegembiraan kita bukan berada dalam diri kita, tapi dalam Hidup itu sendiri.
Jika kita menderita,
kesakitan kita tidak terletak pada luka kita, tapi dalam hati nurani alam.
Jangan kau anggap bahawa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama atau rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa,
dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat,
ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan dari generasi ke generasi.
Wanita yang menghiasi tingkah lakunya dengan keindahan jiwa dan raga adalah sebuah kebenaran,
yang terbuka namun rahsia;
ia hanya dapat difahami melalui cinta,
hanya dapat disentuh dengan kebaikan;
dan ketika kita mencuba untuk menggambarkannya ia menghilang bagai segumpal wap.
:+: Kahlil Gibran :+:

Puisi Cinta Yang Agung

CINTA yang AGUNG

Adalah ketika kamu menitikkan air matadan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIHmenunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang laindan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata 'Akuturut berbahagia untukmu'Apabila cinta tidak berhasil...
BEBASKAN dirimu...
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnyadan terbang ke alam bebas LAGI ..
Ingatlah...
bahwa kamu mungkin menemukan cinta dankehilangannya..
tapi..
ketika cinta itu mati..
kamu TIDAK perlu matibersamanya...
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalumenang..
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketikamereka jatuh

by:Khalil Gibran

Selasa, 14 Oktober 2008

Pada Suatu Malam

Oleh Donny Anggoro

Dengan gontai Ray memasuki rumah itu. Ranselnya semakin terasa berat karena sedari tadi ia tidak berhenti untuk istirahat. Sudah seharian penuh ia mencari tempat kos yang nyaman untuk bermalam. Sayang, di mana-mana penuh. Perjalanan Ray berakhir juga. Untung ada seseorang memberitahu bahwa rumah ini menerima kos. Dan tanpa banyak bicara lagi Ray sudah mendapatkan kamar.

“Akhirnya dapat juga,” batin Ray. Ia menarik nafas lega setelah seharian berjalan mencari tempat kos. Ia memang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota gudeg ini. dan baru pertama kali ia kesulitan mencari tempat kos. Maklum, belum banyak orang yang dikenalnya. Jadi terpaksalah ia kelimpungan mencari sendirian.

Namun kamar kos yang ditempatinya kini jauh dari kesan bersahabat. Pintunya reyot dan jendelanya mulai rusak. Lampunya pun remang-remang lantaran lama tak diganti. Untung Pak Sidik pemilik kos itu langsung mengganti lampu kamar Ray. “Maaf ya, dik, kamar ini lama nggak ditempati orang. Yang lain sudah penuh, eee…yang ini kosong melulu. Besok pagi biar dibersihkan sama Mamat. Sekalian dibetulin jendelanya,” kata Pak Sidik.
“Nggak apa-apa, pak. Yang penting saya bisa bermalam di sini,”
“Baiklah, ini kuncinya.” kata Pak Sidik sambil menyodorkan kunci.
“Terimakasih, pak. Sampai besok pagi.”
“Ya, Dik. Sama-sama.”
***
Paginya Ray langsung bangun dan mandi. Kemudian ia mulai menata barang-barangnya. Kemarin ia langsung terlelap setelah memberikan sprei pada kasurnya. Tiba-tiba terdengar ketukan.
“Maaf, ini kamar Dik Ray?”
“Betul. Ada apa?”
“Saya Mamat. Mau membersihkan kamar.”
Seorang anak muda berpakaian lusuh langsung memasuki kamar Ray. Setelah membersihkan seadanya ia bertanya, “Mana yang rusak?”
“Itu, jendela sama pintu nggak bisa ditutup rapat.”
Mamat langsung bekerja dengan cekatan.
“Mas sudah lama tinggal di sini?” tanya Ray berbasa-basi.
“Sudah lima tahun ikut Pak Sidik,” jawab Mamat.
“Masih sekolah?” tanya Ray sambil menyodorkan sebungkus rokok. Mamat tersenyum dan mengambil sebatang.
“Udah nggak. Terima kasih rokoknya….mmm, manggilnya Mamat saja ya,”
“Kalau begitu manggil saya Ray saja, “ balas Ray sambil mengulurkan tangan. Mereka berjabatan.
“Maaf, saya mau kerja yang lain dulu. Kalau ada apa-apa panggil saya saja,”
Mamat berlalu dari kamar Ray. Anak itu memang tak banyak bicara namun murah senyum. Tubuh kurusnya dibalut kaos oblong yang lusuh. Ia memang sebaya dengan Ray. Tapi wajahnya suram seperti menyimpan kepedihan hati. Mungkin hidupnya susah, batin Ray. Ray melirik jam tangannya. Sudah jam sepuluh. Ia merebahkan diri di atas kasur.
“Mumpung belum kuliah tidur dulu, ah.”
Tak lama kemudian ia terlelap.
***
“Langsung pulang Ray?“ tanya Joko sambil mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Ray mengangguk. Kuliah hari ini padat sekali. Jam tujuh malam baru kelar.
“Gila! Mana besok kuliah pagi. Huh!” seru Ray.
“Mendingan makan dulu, yuk. Di depan situ baru pulang.” ajak Joko.

Mereka berjalan ke sebuah warung nasi. Setelah memesan makanan Ray mengeluarkan dompet dari saku celananya.
“Wah, duitku gede semua,” serunya.
“Sudahlah, aku yang bayar.” kata Joko. Ray tersenyum. “Asyik, besok gitu lagi ya,” candanya.
“Sialan! Memangnya aku bankir,”
Kemudian masing-masing menikmati makanan. Selesai makan Joko membuka pembicaraan.
“Eh, kamu kos dimana, Ray?”
“Sendowo, kamu?”
“Nggak. Aku nggak kos. Aku tinggal di rumah Pakde di petung.” jawab Joko. Kemudian ia mengeluarkan dompet. Setelah membayar mereka berlalu.
“Yuk, aku duluan. Besok jangan bolos dong,” pesan Joko.
“Tenang saja.”
Mereka berpisah di kegelapan malam.
***
Lama Ray berjalan. Keringatnya mulai bercucuran. Tapi Ray cuek. Tempat kosnya memang agak jauh dari kampus. Berjalan kaki paling setengah jam. Naik bus? Malas, ah! Ray sedang mengirit uang. Sudah dua minggu ia di kota gudeg ini. tapi uangnya sudah menipis. Nampaknya dia salah perhitungan waktu diberi uang ayahnya. Pikirnya cukup, eh malah kurang banyak. Besok saja telepon ayahnya minta tambahan uang sekalian negosiasi berapa jatah per bulannya.
Langkah Ray terhenti. Seseorang memanggilnya.
“Maaf, Mas, jam berapa sekarang?”

Ray tersentak. Orang itu bertubuh jangkung dengan sepasang tangan kekar. Tubuhnya tinggi besar dan nampak menakutkan. Ray menjawab seperlunya dan segera berlalu. Tetapi…
“Heh! Berhenti! Serahkan uangmu!”

Astaga! Penodongan! Orang itu mengacungkan belati. Ray berusaha tak panik. Percuma pernah belajar karate meski cuma ban kuning, pikirnya.

“Mau apa kamu? Berani melawan saya?” seru Ray geram. Ia mulai pasang kuda-kuda. Orang itu langsung menyerang. Sayang, dia terlampau kuat bagi Ray. Ray jatuh tersungkur. Orang itu menendang perut Ray sehingga tak bisa bangkit lagi. Dalam sekejab ia berhasil dengan sukses membereskan Ray. Ray merasa kepalanya sangat pening. Matanya berkunang-kunang. Pandangannya kabur. Sayup-sayup ia mendengar orang itu bicara.
“Ayo cepat! Sikat dompetnya!”

Nampaknya orang itu tidak sendirian. Badan Ray terasa sakit.
“Tasnya?”
“Buat apa? Goblok! Nih, dompetnya! Tebal!”
“Yah, cuma sepuluh ribu!”
“Cepat! Nanti keburu ada orang lewat!”

Ray masih setengah sadar. Meski ia tak bisa bangkit pikirannya masih jalan. Ia mencoba bergerak lagi. Uh! Sakit! Lalu…buk! Tubuh Ray berguling-guling dan mendaratlah ia ke dalam parit kering.
“Sudah! Beres! Kita cari yang lain lagi!”
Ray tak ingat apa-apa lagi. Kesadarannya hilang.
***

Ray terbangun. Berangsur-angsur kesadarannya mulai timbul. “Oh, dimana saya?” Seseorang yang sudah dikenalnya duduk di tepi ranjang. Mamat! “Tenang, kamu sudah aman,” kata Mamat. Ia kemudian membantu Ray bersandar di bantalnya. Sakit sekali. Ray mencoba untuk bangkit. Mamat mencegahnya.
“Jangan! Lebih baik tiduran dulu,” kata Mamat lagi.

Ray lega sudah berada di kamarnya. Rupanya Mamat yang menemukan Ray pingsan dan membawanya ke tempat kos.
“Ceritakan apa yang terjadi,” pinta Mamat.
“Mereka…aduh…kayaknya ada tiga. Tapi yang menyerang saya cuma satu,” jelas Ray sambil beberapa kali mengaduh kesakitan. Mamat menggelengkan kepalanya.
“Mukanya?”
“Tidak jelas…semuanya gelap. Tidak ada penerangan sama sekali di tempat tadi,” jawab Ray lirih. Belum pernah ia sesakit ini sebelumnya.
“Mmm…apa yang hilang?”
“Kayaknya…aduh…dompet dan jam tangan saya…”
Mamat menunjukkan sesuatu.
“Dompetku!” seru Ray.
“Mereka meninggalkannya bukan? Tenang, KTP sama yang lainnya masih ada.” ujar Mamat. “Mendingan tidur dulu. Besok kita bicarakan sekalian lapor polisi,”
“Pak Sidik sudah tahu?”
“Sudah. Bapak malah yang membalut luka-lukamu. Saya cuma membawamu pulang waktu melihat kamu pingsan,”
“Terimakasih, Mat.” kata Ray.
Mamat tersenyum. Kembali Ray hendak memejamkan matanya. Badannya luar biasa lemah saat ini. Tiba-tiba terdengar ketukan. Mamat membuka pintu. Seseorang muncul di depan pintu kamar Ray.
“Kamu disini rupanya. Lihat! Aku dapat empat puluh ribu. Lumayan buat jalan-jalan besok!” seru orang itu.
“Ssssttt! Ada orang sakit. Berisik amat sih kamu. Dari mana saja? Operasi kok nggak ngajak-ngajak?”
“Ah, kamu ini. Kemarin katanya sibuk. Makanya jangan kerja di sini. Udah gaji kecil, kerjanya lama lagi…”
Dasar kampungan, kata Ray dalam hati. Ngomong suaranya kayak gelas pecah begitu, keras lagi. Matanya kembali terpejam, tapi Ray tak bisa melanjutkan tidurnya. Bagaimana mau tidur badan sakit semua? Apalagi ada suara cempreng begitu. Suaranya yang cempreng mengingatkan Ray pada kejahilan adiknya, Yos.
Tetapi suara teman Mamat itu mengingatkannya pada sesuatu hal. Kayaknya barusan ia mendengar suara itu. Tidak mungkin Yos. Tak mungkin adiknya tahu Ray ada di sini. Sudah dua minggu Ray tak mengirim kabar ke Jakarta. Jangankan Yos, orang tuanya saja belum dikabari.
Penasaran Ray ingin melihat temannya Mamat. Tapi kepalanya terasa semakin pening ketika Ray mengangkat kepalanya. Matanya kembali terpejam menahan sakit. Ah, sudahlah. Paling orang kampung biasa, teman si Mamat. Mending tidur dan lupakan. Sudah menderita begini buat apa mengurus orang lain? Masih untung dirinya tidak tewas.
“Boleh masuk nggak? Memangnya kenapa sih?” tanya temannya Mamat itu.
Hening.
“Memangnya kenapa?” tanyanya lagi. Kali ini setengah berbisik. Suara itu semakin dekat. Nampaknya orang itu mendekati sisi ranjang Ray. Bersamaan itu Ray membuka matanya. Ray terkejut setengah mati. Begitu juga dengan teman si Mamat. Keduanya sama-sama terkejut. Meski tadi gelap Ray sekarang ingat!
“Kau??” seru Ray heran.
“Kau!” seru orang itu juga.
Mamat terbengong. “Kalian sudah saling kenal?” tanyanya heran.
Mereka berdua berpandangan. Entah apa yang dipikirkan Ray saat itu karena malam ini sudah terlalu banyak kejutan buatnya…

STOIC

sekali ini
mungkin hanya diam
atau tidur telentang
sambil memandang atapatap
yang tak pernah mengeluh panjang

sekali ini
tak kunyalakan suara apapun
tak ada nyanyi, atau melodi
biar saja, kunikmati, suara motor menderu, tangis anak, lengkingan perempuan, lenguhan cinta, suara mesin cuci, air yang mengalir, sayur yang mendidih, desah lelah yang berlari, caci makian, suara angin.

sekali ini
tak kujawab suara telepon, dering sms, panggilan di depan pintu, klik ruang chating, sapa kekasih
mungkin hanya diam
atau tidur telentang
sambil menatap atapatap
yang tak pernah mengeluh panjang

rupanya
ini lebih melegakan
I am stoic
I am fucking stoic
lebih menyayat, dengan diam
lebih lara, dengan diam
lebih duka, dengan diam
rupanya
ini lebih menyembuhkan
Like a dope
air mata hanya khayalan
hanya sementara
menguras energi
yang tertinggal adalah lelah
berujung pada asa yang putus
maka itu

Sekali ini..
biarkan aku
STOIC

by:Ida Ayu Utami

SAHABAT

jangan pernah simpan rindu
sebab ia selalu mengetukngetuk pintu
ujungujung jari yang mengerut
udara dingin mengepulngepul
seperti uapuap cerutu
wajahmu...
memanggil manggil dan berseru!
keinginan untuk bertandang ke rumahmu
secangkir teh hangat
pelukan erat
lalu kita biarkan kata
tak terjerat
melompat
sambil mengingat
saat kita menghapal gramatika dan filosofia
wajah yang indah
kenapa baru saat ini aku mampu menerjemah
pesan, amanat tentang sehabat
wajah yang indah
melihatmu, seperti perapian yang membara
begitu nyaman dan aman


I sit in a dim corner of a waiting room

I sit in a dim corner of a waiting room
can you hear the clock, its sound and the full moon?
tick... tock...tick...tock...tick...tock
mocking laughter
undelivered letter
racist preach
burdensome bliss
seek me
charge me
there is no way out
no way out...hide!
wait! I sit in a dim corner of a waiting room instead!
so you can see my eyes
coz I will face
confrontation, disgust and distrust
here I am, still, all I can hear is tick...tock...tick...tock...tick tock...

by:Ida Ayu Utami

Senin, 13 Oktober 2008

puisi babu kepada ndoronya

puisi babu kepada ndoronya

ndoro saya pulang dulu
setahun sudah berlalu
inilah kebahagiaan kami para babu
jangan... jangan halangi aku

saya musti pulang
ketemu para kadang
kangen simbok kangen bapak
juga pak lik bu lik dan adik2

babu itu juga manusia
biarkan sementara
kami bebas maki dan cerca
bisa pamer handpone didesa
"ndoro kalau perlu sms saya"

ndoro..selamat menggantikan tugasku
mencuci piring .mencuci baju.. menyapu
menyiapkan makan.. menutup pintu
maaf aku pulang kapan semauku
selamat menggerutu

lebaran adalah hari raya para babu
hari hari sengsara ndoro ndoroku

By:Slamet Widodo

Guess How Much I Love You



Guess How Much I Love You

Guess How Much I Love You
By Sam Mcbratney
Price: $7.99 & eligible for FREE Super Saver Shipping on orders over $25. Details
Add to sopping card

Availability: Not yet published
Ships from and sold by Amazon.com
Product Description

"Guess how much I love you," says Little Nutbrown Hare. Little Nutbrown Hare shows his daddy how much he loves him: as wide as he can reach and as far as he can hop. But Big Nutbrown Hare, who can reach farther and hop higher, loves him back just as much. Well then Little Nutbrown Hare loves him right up to the moon, but that's just halfway to Big Nutbrown Hare's love for him.
Product Details

* Amazon Sales Rank: #50753 in Books
* Published on: 2008-10-14
* Released on: 2008-10-14
* Original language: English
* Number of items: 1
* Binding: Board book
* 24 pages

Editorial Reviews

Amazon.com Review
Little Nutbrown Hare wants very much to impress Big Nutbrown Hare with the enormous scale of his devotion, but ends up being the one who's impressed. Subtitled "a pop-up edition," this sturdy square edition of Sam McBratney's ever-popular Guess How Much I Love You is probably better described as a "slide-along edition." Some pages do include pop-ups, but they aren't the best ones; instead, most involve pull-tabs which animate the two rabbits and their surroundings. One of the most appealing scenes simply shows Little Nutbrown Hare hopping up and down. In a purely technical sense this exercise in interactive cardboard technology is well behind some of the competition, but the tale has a timeless charm and the very simplicity of the movements makes it easy for small fingers to waggle the tabs and take control of the story. (Ages 2 to 4) --Richard Farr

From Publishers Weekly
Fresh as a fiddlehead fern in spring, this beguiling bedtime tale features a pip of a young rabbit and his indulgent parent. Searching for words to tell his dad how much he loves him (and to put off bedtime just an eentsy bit longer), Little Nutbrown Hare comes up with one example after another ("I love you as high as I can hop!"), only to have Big Nutbrown Hare continually up the ante. Finally, on the edge of sleep, he comes up with a showstopper: "I love you right up to the moon." (Dad does top this declaration too, but only after his little bunny falls asleep.) Effused with tenderness, McBratney's wise, endearing and droll story is enriched by the near-monochromatic backdrop of Jeram's pen-and-wash artwork, rendered earthy tones of moss, soft brown and gray for a visually quieting effect just right for that last soothing tale before sleep. Ages 3-up.
Copyright 1995 Reed Business Information, Inc.

From School Library Journal
PreSchool-K?In this simple story, a father and son try to outdo one another in expressing their affection. Little Nutbrown Hare says that he loves his father as high as he can reach. Big Nutbrown Hare replies that he loves his son as high as he can reach?which is very high. Father seems to be winning?until the young rabbit tells dad that he loves him right up to the moon?which his father agrees is very far away. But as he kisses his son goodnight, he replies, "I love you right up to the moon?and back." The watercolor illustrations are composed of scratchy lines and large areas of watery washes that are charming, but not too sweet. Large typeface and repetitive refrains invite beginning readers. It's refreshing and realistic to see a father and son relationship that is both competitive and loving.?Karen K. Radtke, Milwaukee Public Library
Copyright 1995 Reed Business Information, Inc.